Bab 18
Aku mendengar dari belakang, suara dengusan tawa pelan Sania.
Seolah sedang mengejek bahwa trik kecilnya akan berhasil lagi.
Aku tidak menggubrisnya, hanya dengan keras kepala menatap Wayne.
Entah kenapa, aku selalu merasa Wayne tidak akan sama dengan orang-orang itu.
Dia adalah orang yang tumbuh bersamaku sejak kecil. Seperti yang dia katakan, aku percaya dia tidak akan mengkhianatiku.
Wayne makin mendekat, saat sampai di sisiku, dia tiba-tiba meraih tanganku dan mengusapnya perlahan.
"Apa tanganmu sakit?"
Nada lembut dalam suara Wayne hampir meluap keluar.
"Lain kali urusan seperti ini, serahkan saja padaku."
Dia bahkan tidak melirik Sania sedikit pun, langsung meraih gagang pintu mobil dan bersiap membawaku pulang.
"Paman!"
Sania tak sanggup lagi berpura-pura, dia bangkit dari tanah dan dengan tergesa menghampiri kami, seolah ingin menyelipkan undangan itu ke tangan Wayne.
"Tiga hari lagi adalah jamuan pertunanganku, aku ingin mengundang Anda untuk hadir."
"Paman? Mengundangku?"
Way

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda