Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Di tahun ketiga pernikahan rahasia kami, aku akhirnya hamil. Dengan penuh kegembiraan, aku pulang ke rumah berniat menyampaikan kabar baik ini pada suamiku, Darren Porat. Namun, di area pintu masuk, aku justru mendengar dia sedang menelepon seseorang. "Darian, Sania sudah mengambil alih Geng Eldan. Aku berencana bicara terus terang dengan Sharon. Kalau kamu masih belum bosan tidur dengannya, beberapa hari ini aku serahkan dia padamu." Suara yang terdengar mirip suamiku, namun lebih liar dan berani, pun terdengar. "Boleh juga, Kakak. Kamu benar-benar setia sekaligus murah hati. Demi menjaga kesucian untuk Sania, bahkan istri sendiri pun bisa kamu biarkan tidur dengan saudaramu. Kamu nggak takut kalau suatu hari nanti dia tahu kalau selama bertahun-tahun yang tidur dengannya itu sebenarnya adalah adik kembar suaminya, dia akan hancur?" Suara suamiku terdengar dingin dan penuh rasa jijik. "Memangnya wanita bodoh yang bisa ditipu hanya dengan satu akta nikah palsu pantas menjadi istriku? Lagi pula, wanita sebodoh dia, sudah tiga tahun pun nggak menyadarinya. Ke depannya juga nggak akan pernah sadar." Seluruh tubuhku langsung terasa dingin. Ternyata, cinta yang selama ini kukira sudah ditakdirkan untukku, hanyalah sebuah permainan keji yang dirancang dengan cermat oleh suamiku dan adik kembarnya demi mewujudkan keinginan wanita yang dicintai. ... Percakapan di dalam ruangan masih berlanjut. Suara Darian Porat terdengar sembrono, bahkan mengandung niat jahat. "Baiklah, Kakak. Kalau begitu, beberapa hari ini aku akan main sepuasnya. Kamu nggak tahu, tubuh istrimu luar biasa bagus, di ranjang juga penurut. Nanti setelah kamu menikah dengan Sania, kurung saja dia di rumah, biar aku yang main." Darren terdiam sejenak, lalu terdengar suaranya yang dingin dan penuh jijik. "Nggak bisa. Bagaimana kalau dia membuat keributan dan melukai Sania?" "Benar juga. Dia memang sama seperti ibunya, nggak tahu malu. Jelas-jelas hanya anak dari wanita simpanan, tapi masih berani merebut posisi pewaris dari Sania. Kalau sampai dia tahu kamu sebenarnya mencintai Sania, mungkin dia akan melakukan sesuatu pada Sania." Suara dua bersaudara itu penuh dengan kebencian terhadapku. Aku berdiri kaku di tempat, bahkan tidak punya keberanian untuk menerobos masuk dan menanyainya. Tidak ada yang tahu kalau Geng Eldan sebenarnya didirikan oleh ayahku dengan bantuan kakek dari pihak ibu. Tidak lama setelah geng itu berdiri kokoh dan memperoleh kedudukan di dunia bawah, ayah membawa pulang anak dari cinta pertamanya. Anak itu hanya lebih tua setengah bulan dariku. Ibuku tidak sanggup menerima kenyataan kalau suaminya berselingkuh dalam pernikahan dan memiliki anak dari wanita lain. Dia jatuh sakit karena depresi dan memilih bercerai demi menyelamatkan dirinya sendiri. Setelah itu, dia tidak pernah muncul lagi. Tak lama kemudian, ayah menikahi cinta pertamanya. Keluargaku pun hancur sepenuhnya. Pada awalnya, ayah masih merasa sangat bersalah karena aku kehilangan keluarga yang utuh. Dia berjanji, apa pun yang terjadi, orang yang paling dia cintai tetaplah aku dan ibu. Dia bahkan berjanji akan menjadikanku pewaris geng. Agar tidak mengecewakan harapannya, selama bertahun-tahun aku berusaha keras menjadi pewaris yang layak. Namun, hati ayah pada akhirnya tetap terpengaruh oleh bujukan di ranjang. Perlahan, dia condong pada kakak tiriku. Selama bertahun-tahun ini, dia membiarkan kakak tiri menjelekkanku di luar, mengatakan aku anak hasil hubungan gelap dan juga melarangku mengungkap identitas ibuku di depan umum. Saat itu aku belum sepenuhnya menguasai Geng Eldan, jadi aku menelan semua ketidakadilan itu. Aku pikir, semuanya akan berubah setelah aku benar-benar memegang kuasa. Hingga tiga tahun lalu, demi merebut posisi pewaris Geng Eldan, kakak tiriku sengaja menjatuhkan diri dari jembatan dan menuduhku yang mendorongnya. Ayah murka. Dia mencabut seluruh kekuasaanku di geng dan mengusirku dari rumah. Karena sinyal yang dilepaskan ayah dan keberpihakan terang-terang pada kakak tiriku, wibawa yang telah kubangun bertahun-tahun di Geng Eldan seolah runtuh dalam semalam. Semua orang menudingku iri pada Sania, menyebutku kejam dan menghalalkan segala cara. Kebetulan saat itu kakek dari pihak ibu sakit parah dan koma. Aku tidak punya siapa pun untuk diandalkan dan aku dibuang begitu saja oleh ayahku seperti sampah. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu. Aku meringkuk seperti seorang gelandangan di tumpukan sampah. Darren yang menggendongku pulang ke rumah saat aku basah kuyup oleh hujan hingga gemetar. Darren bilang dia percaya aku bukan orang seperti itu. Dia membantuku meredam gosip dan menjadi tameng pelindungku. Pada saat itulah, dia memakaikan cincin yang melambangkan identitas menantu Keluarga Porat di jariku. "Sharon, dunia luar yang penuh kekerasan terlalu berbahaya, nggak cocok untuk wanita cantik sepertimu. Menikahlah denganku, biar aku yang melindungimu ya?" Dia mengabaikan semua penentangan dan bersikeras menikah denganku, seorang wanita dengan reputasi buruk. Aku menangis terharu dan menyetujuinya. Pada hari kami mendaftarkan pernikahan, hanya kami berdua yang mengetahuinya. Saat menerima buku nikah, aku dengan gembira membicarakan rencana pesta pernikahan dengannya. Namun dia menatapku dengan raut serbasalah. "Sharon, orang tuaku belum setuju. Soal pesta pernikahan ... tunggu dulu, ya." "Selain itu, sebelum orang tuaku setuju, hubungan kita belum bisa diumumkan. Maaf, bukan aku nggak mencintaimu, tapi aku nggak mau kamu menjadi bahan gunjingan. Aku berharap suatu hari nanti kamu bisa menikah masuk ke Keluarga Porat dengan terhormat." Aku tahu Keluarga Porat memandang rendah menantu sepertiku. Meski kecewa, tapi demi dirinya aku tidak pernah lagi menyebut soal pernikahan. Karena dia mengatakan Keluarga Porat menuntut calon istri yang memiliki latar belakang bersih dan tidak ingin aku terseret konflik. Aku pun secara sukarela melepaskan posisi pewaris, bahkan memutuskan hubungan dengan keluarga, menjadi istri rahasia yang tidak bisa diperlihatkan ke publik. Aku berubah dari pewaris Geng Eldan menjadi ibu rumah tangga yang hidupnya hanya berputar di sekeliling Darren. Tangan yang dulu memegang pistol, kini penuh kapalan karena pekerjaan rumah. Setelah menikah, sikapnya padaku terasa berbeda. Di siang hari, dia selalu dingin dan menjaga jarak. Namun saat malam tiba, dia akan mendekapku dengan gairah yang tak pernah puas. Karena mencintainya, aku tidak pernah curiga. Bahkan dalam hati aku membelanya. Pria sedingin dia, mungkin hanya di malam hari baru bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. Dia mencintaiku, maka menjadi liar di malam hari. Namun aku tidak pernah menyangka kalau suamiku ternyata bukan hanya satu orang. Aku juga tidak pernah membayangkan kalau buku nikah yang selalu kujaga seperti harta karun, hanyalah sertifikat palsu. Semua kasih sayang selama bertahun-tahun ini hanyalah jebakan yang mereka anyam demi wanita lain. Air mata jatuh tanpa sadar. Di dalam ruangan, suara Darian terdengar penuh rasa ingin tahu. "Kalau begitu, nanti kamu mau melakukan apa padanya?" Darren menjawab hampir tanpa ragu. "Kirim dia ke tempat yang nggak bisa dilihat Sania. Aku akan mencari orang untuk merawatnya, biar hidupnya ke depan baik-baik saja. Tapi dia nggak boleh lagi muncul di hadapanku dan Sania." Kalimat sesederhana itu sudah menentukan sisa hidupku. Ternyata, di mata Darren, aku hanyalah mainan yang bisa dibuang kapan saja. Aku tidak sanggup mendengarkan lagi. Aku menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilan di tanganku dan berlari keluar seperti orang gila. Sekelilingku terasa semakin kabur. Saat sadar kembali, aku mendapati diriku sudah sampai di jembatan tempat Sania dulu jatuh. Tanpa sadar aku mengangkat kaki hendak melangkah ke tepi jembatan, ketika ponsel di dalam tas tiba-tiba berdering. Aku tersentak, lalu menekan tombol terima. "Sharon, Kakek sudah sadar." Di seberang sana terdengar suara Kakek yang penuh kasih dan lembut. Begitu mendengar suara Kakek, hidungku terasa perih, tenggorokanku tersumbat hingga hampir tidak bisa bicara. "Ada apa? Saat Kakek tidak ada, apa ada yang menindas cucu kesayanganku?" Aku memeluk ponsel itu erat-erat, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi dan menangis tersedu-sedu. "Kakek, aku kangen padamu. Saat Kakek nggak ada, semua orang menindasku." Suara Kakek kembali terdengar, penuh rasa sayang dan kepedulian. "Sudah, jangan menangis lagi, Sharon. Minggu depan Kakek suruh orang menjemputmu pulang ke rumah, ya?" Aku hampir mengerahkan seluruh tenagaku untuk menjawab. "Baik."
Bab Sebelumnya
1/25Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.