Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

Aku hendak membuka mulut, namun pintu tiba-tiba terbuka. Sania menerobos masuk dan menabrakku hingga aku terjatuh ke lantai. "Maaf, Sharon, aku nggak sengaja. Aku dengar kalian seperti ada salah paham, jadi datang menasihatimu." Dia berkata demikian, tapi diam-diam menghantam perutku dengan sikunya sekuat tenaga. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku tidak bisa menahan jeritan. "Sharon!" Suara Darian terdengar panik. Dia berlari cepat ke arahku. "Kamu nggak apa-apa? Aku segera panggil dokter untuk memeriksamu!" Darian mengulurkan tangan hendak menekan bel, namun Sania tiba-tiba mengangkat lengannya yang penuh bekas luka. "Sharon, aku tahu kamu nggak suka denganku. Walaupun kamu membenciku, bahkan mencubitku juga nggak apa-apa. Aku hanya mau menjalankan tanggung jawab sebagai kakak untuk merawatmu." Sania terisak pelan. Darian ragu-ragu menoleh ke arahku. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga. "Jangan ... sebenarnya aku ha ...." Tangis Sania yang lebih keras menenggelamkan suaraku. Dia menindih tubuhku, menghalangi tangan Darian yang terulur, sementara diam-diam terus menekan perutku. "Sharon, kamu boleh memukul atau memarahiku. Jangan marah sampai membuat semua orang khawatir, ya." Rasa sakit membuatku hampir tidak bisa bicara. Aku hanya bisa memohon dengan tatapan ke arah Darian. Namun yang kulihat justru tangannya yang terhenti di udara, lalu perlahan ditarik kembali. Di wajahnya tampak sebersit rasa meremehkan. "Sania benar. Kamu hanya luka luar, nggak separah itu. Sania bahkan mau mengesampingkan masa lalu dan merawatmu. Jangan membuat onar lagi." Sania dengan puas hendak menyeretku pergi. Demi anakku, aku memberontak, memaksa suaraku keluar dari tenggorokan. "Bukan begitu ... aku hamil. Perutku sangat sakit. Aku mau ke rumah sakit ...." "Apa?" Pupil mata Darian mengecil. Dari matanya aku melihat keterkejutan dan ketidakpercayaan. Namun Sania berdiri di antara kami, sepenuhnya menghalangi pandangannya ke arahku. "Sharon, walaupun kamu marah, kamu nggak boleh bohong soal hamil. Sewaktu kamu berkelahi dengan orang-orang itu, gerakanmu sangat lincah. Mana mungkin kamu hamil?" Sania berkata dengan lembut, sementara tangan yang menekan perutku semakin kuat. Rasa sakit di perut membuatku hampir tidak bisa bergerak. Dalam hati aku hanya bisa berdoa, berharap Darian mau membantuku sekali ini demi anakku. Darian mengatupkan bibirnya dengan ragu. Melihat itu, Sania melirikku dengan puas, sorot matanya penuh kejahatan. Namun saat menoleh kembali ke Darian, dia kembali memasang wajah lembut. "Semua ini salahku karena membuat Sharon marah, biar aku saja yang merawatnya. Walaupun dia benar-benar hamil, aku pasti akan menjaganya dengan baik." "Nggak, aku nggak mau!" Aku berusaha mengangkat kepala, menolak dengan seluruh tenaga yang tersisa, namun yang kulihat hanya pandangan Darian yang menghindar. "Sharon, jangan pura-pura lagi. Bagaimanapun juga, Sania adalah kakakmu. Bahkan dulu kamu hampir sengaja mencelakainya sampai mati pun dia nggak mempermasalahkannya denganmu. Orang sebaik ini, pasti akan merawatmu dengan baik." Dia tetap memilih memercayai Sania. Padahal aku telah menemaninya melewati 1.095 malam. Padahal di dalam perutku ada anaknya. Tekanan di perutku tiba-tiba semakin kuat. Sania mendekat ke telingaku, berbisik dengan nada penuh kemenangan. "Sharon, nggak ada yang akan percaya padamu." Tiba-tiba aku kehilangan seluruh tenaga untuk melawan. Seolah-olah, di hadapan Sania, semua orang akan memilih meninggalkanku. Baik ayah, maupun orang yang kucintai. "Darian." Sebelum aku benar-benar dibawa pergi, aku berkata pelan. "Kamu nggak berani percaya aku hamil atau nggak mau percaya?" "Kamu masih bicara sembarangan!" Darian berbalik dengan marah. Aku menatap ujung jarinya yang bergetar, lalu tersenyum. "Kamu benar-benar pengecut." Dia tidak menoleh, namun aku tahu dia takut menghadapi kenyataan ini. Takut sampai tidak menyadari kalau aku memanggilnya Darian, bukan Darren. Aku merasakan perut bagian bawah seperti ditarik ke bawah, seolah ada sesuatu yang hendak meninggalkan tubuhku. Dengan panik aku menutup perutku, namun tetap bisa merasakan darah mengalir keluar. Malaikat kecil yang baru tinggal di tubuhku selama tiga bulan itu tetap harus meninggalkanku. Aku memejamkan mata. Air mata menetes dari sudut mataku. Darren, Darian, aku membenci kalian. Aku tidak akan pernah memaafkan kalian.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.