Bab 12
Stanley tidak membantah, juga tidak memberi penjelasan.
Dia hanya berdiri dalam diam cukup lama, hingga hujan kian deras, membasahi jasnya, barulah dia perlahan berbalik.
Tanpa menoleh lagi ke arah batu nisan.
Dia melangkah menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan, punggungnya tampak sedikit ringkih di balik tirai hujan.
Miko berdiri di tempat, menyaksikan Stanley naik ke mobil, menyalakan mesin, lalu menghilang di jalur pegunungan yang berkelok.
Kemudian, dia kembali menoleh, memandang foto di batu nisan itu.
Tetes hujan menghantam permukaan nisan yang licin, memercikkan butiran air halus, mengaburkan senyum Cynthia di dalam foto.
Tiba-tiba dia merasa, senyum itu terlihat agak menyilaukan mata.
Angin berembus bersama rintik hujan, menghadirkan dingin dan hawa lembap khas area pemakaman.
Miko berdiri cukup lama, barulah berbalik pergi.
Setelah pemakaman, kehidupan Stanley seolah kembali "normal".
Dia kembali ke perusahaan, menangani urusan-urusan yang menumpuk.
Setiap hari berangka

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda