Bab 29
Hati yang sudah mati.
Tidak akan merasakan sakit.
Setiap katanya, bagai pahat dingin yang menghunjam ke jantung Stanley yang sudah penuh luka!
Dia terhuyung, hampir tidak bisa berdiri, wajahnya pucat pasi.
Shiera seolah tidak melihatnya yang terguncang, hanya mengangguk pelan. "Kalau nggak ada urusan lain, aku pamit dulu. Masih banyak detail pameran yang harus dikonfirmasi."
Kemudian dia berbalik, bersiap pergi.
"Cynthia!" Stanley berseru serak, suaranya pecah, penuh keputusasaan seperti orang yang tenggelam mencengkeram kayu apung, "Maafkan aku ... Cynthia ... maafkan aku ... aku tahu aku salah ... salah besar ... beri aku satu kesempatan ... tolong, beri aku kesempatan untuk menebusnya ... aku akan melakukan apa saja ... "
Shiera berhenti melangkah, tetapi tidak menoleh.
Punggungnya tetap tegak, seperti bambu dingin yang kokoh meski diterpa badai.
Beberapa detik kemudian, dia menoleh perlahan.
Senyum di wajahnya sudah lenyap sepenuhnya, hanya tersisa tatapan dingin dan sindiran yang

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda