Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 7

Saat dia kembali sadar, dia masih berada di rumah sakit. Luka-luka di tubuhnya bahkan lebih mengerikan dibanding sebelumnya. Setiap tarikan napasnya membuat banyak lukanya tertarik. Rasa sakitnya tidak tertahankan, seolah hidup lebih buruk daripada mati. Stanley berjaga di sisi ranjangnya. Begitu melihatnya terbangun, wajahnya langsung dipenuhi ekspresi perih dan rasa bersalah. "Cynthia, kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu?" Dia menggenggam tangan Cynthia yang penuh balutan perban, suaranya pelan. "Maaf ... ini semua salahku ... Aku cuma pergi sebentar, nggak menyangka kamu malah diculik, bahkan disiksa sampai seperti ini ... Tenang saja, para penculik itu sudah aku kirim semuanya ke penjara, seumur hidup mereka nggak akan bisa keluar! Mulai sekarang, aku akan menambah pengawal, melindungimu dua puluh empat jam. Aku nggak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi!" Penculik? Disiksa? Cynthia terbaring di ranjang rumah sakit, mendengarkan kebohongan-kebohongannya yang penuh celah namun terdengar begitu tulus, hingga rasa sakit itu membuatnya nyaris tak sanggup bertahan. Bagaimana mungkin pria itu bisa berakting setenang itu? Bagaimana mungkin, setelah membuatnya hancur seperti ini, pria itu masih sanggup memasang wajah penuh kasih sayang? Dia menggigit bibirnya, tak berkata apa-apa. Dalam benaknya hanya ada satu pikiran. Cepat pergi dari sini. Menjauh dari pria itu. Tinggalkan neraka ini. Setelah menjalani hari-hari panjang di rumah sakit, akhirnya Cynthia diizinkan pulang. Hari kepulangannya bertepatan dengan hari ulang tahun pernikahannya dengan Stanley. Stanley mengadakan jamuan besar untuknya, mengundang banyak tokoh ternama. Suasananya mewah dan megah. Dia menggandeng tangan Cynthia memasuki aula, menerima ucapan selamat dari para tamu, memainkan peran sebagai suami yang setia dan penuh cinta. Saat jamuan berlangsung setengah jalan, layar besar tiba-tiba mulai menayangkan foto-foto. Pada awalnya adalah foto-foto Stanley dan Cynthia bersama, foto perjalanan wisata mereka, foto keseharian, mereka tampak begitu manis. Namun tak lama kemudian, gambar di layar berubah. Berubah menjadi foto-foto telanjang yang tidak senonoh. Foto dirinya saat berusia delapan belas tahun, setelah mengalami kekerasan seksual. Pakaiannya berantakan, tatapannya kosong penuh keputusasaan! "Ini ... bukankah ini istri Stanley?!" "Astaga! Jadi rumor itu benar? Dia benar-benar ... " "Bagaimana bisa foto-foto seperti ini ditampilkan?!" Aula jamuan langsung gempar. Seruan kaget, bisik-bisik, dan tatapan merendahkan bagaikan gelombang yang menenggelamkan Cynthia. Cynthia berdiri di tengah panggung, menatap layar yang menampilkan kenangan yang mati-matian ingin dia lupakan namun terukir begitu dalam. Wajahnya seketika pucat pasi. Darah di sekujur tubuhnya seolah membeku seketika. Rasa malu yang luar biasa dan keputusasaan yang menghancurkan hampir membuatnya runtuh! Wajah Stanley pun berubah. Dia segera berlari ke panggung, memeluk Cynthia yang gemetar dan nyaris ambruk itu erat-erat ke dalam pelukannya, menutupi wajahnya, sambil membentak keras para staf. "Matikan! Cepat matikan layarnya! Sekarang!" Para staf panik mengutak-atik peralatan, layar akhirnya menghitam. Namun, semuanya sudah terlambat. Semua orang telah melihatnya. Stanley melindungi Cynthia, hendak membawanya pergi dari tempat yang membuatnya dipermalukan itu. Namun, tepat saat itu, segerombolan wartawan entah dari mana muncul, seperti hiu yang mencium bau darah, berhamburan mendekat! Kamera dan mikrofon hampir ditempelkan ke wajah Cynthia! "Bu Cynthia, apakah foto-foto itu benar? Apakah Anda benar-benar pernah mengalami kekerasan di masa lalu?" "Pak Stanley, apa Anda sudah lama mengetahui masa lalu istri Anda? Bagaimana Anda mengatasi hambatan psikologis untuk menerimanya?" "Bu Cynthia, metode apa yang Anda gunakan hingga Pak Stanley begitu setia kepada Anda? Bisa berbagi pengalaman?" "Ada rumor yang mengatakan bahwa dulu Anda menggunakan cara-cara nggak pantas untuk mendekati Pak Stanley. Apakah itu benar?" Dia ingin berteriak, ingin mempertanyakan, ingin melarikan diri, namun tenggorokannya seakan dicekik oleh tangan tak terlihat, tak mampu mengeluarkan suara apa pun. Kedua kakinya pun seolah diisi timah, berat hingga tak bisa digerakkan sedikit pun. Pada saat itulah, Cynthia melihat Miko menyelip masuk ke kerumunan wartawan. Di tangannya ada sebuah botol, yang kemudian dia siramkan ke arahnya. Itu adalah asam sulfat! Bau yang menyengat menusuk hidung, cairan panas yang membakar. Cynthia ingin menghindar, tetapi sudah terlambat. Asam sulfat itu mengenai lengannya, seketika menggerogoti kulitnya. Rasa sakit membuat penglihatannya menghitam, dan dia pingsan. Entah berapa lama berlalu. Kesadarannya seperti mengambang di dalam cairan hitam yang dingin dan kental, naik turun tanpa daya. Nyeri hebat di lengannya bagaikan ribuan jarum panas yang terus-menerus menusuk dan mengaduk. Di telinganya samar-samar terdengar percakapan terputus-putus, seolah terhalang lapisan air yang tebal. "Asam sulfat yang kamu siram hari ini terlalu sedikit," kata Stanley. "Dan kenapa menyiramnya ke lengan? Seharusnya ke wajah, biar langsung cacat." Kemudian terdengar suara Miko yang santai, dengan senyum ringan yang genit. "Kenapa terburu-buru? Aku masih mau menidurinya nanti. Kalau wajahnya rusak, bagaimana aku bisa berselera?" Stanley tampak terdiam sejenak, lalu ketika berbicara lagi, nadanya jelas mengandung ketidakpuasan. "Aku menyuruhmu menidurinya untuk mempermalukannya, membalas dendam. Kamu malah ketagihan?" "Nggak bisa dihindari, Stanley." Suara Miko merendah. "Rasanya ... memang enak. Biasanya dia dingin, nggak peduli pada siapa pun, tapi di ranjang ... hm, ada sensasi tersendiri. Kalau kamu nggak percaya, sebenarnya kamu juga bisa mencobanya ... " "Diam!" Suara Stanley mendadak dingin, sarat dengan rasa jijik dan penolakan yang tidak disembunyikan. "Aku nggak mungkin menyentuhnya! Aku merasa kotor! Di hatiku hanya ada Yola!" Hanya Yola ... Merasa jijik padanya... Ternyata, di dalam hati pria itu, dia bukan hanya musuh, bukan sekadar alat balas dendam, melainkan juga keberadaan yang kotor dan menjijikkan, yang bahkan disentuh pun membuatnya muak.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.