Bab 8
"Sedang apa kamu di sini?"
Suara Faris terdengar dingin. Tatapannya tertuju ke wajah Niken.
Niken panik dan mengusap air matanya, lalu memaksakan satu senyuman dan berkata, "Aku ... aku ke sini mau menjenguk Kak Luna."
"Menjenguk?" Faris melepaskan gandengan Daffin dan berjalan mendekat. "Atau kamu sebenarnya datang buat memperingatkannya agar nggak kembali pulang?"
Wajah Niken langsung pucat pasi. "Aku nggak ... "
"Nggak?" Faris berdiri di depannya. Perbedaan tinggi mereka membuat Niken merasa tersudutkan. "Niken, aku tahu betul seperti apa kamu. Kamu terus memainkan trik maju mundurmu selama lima tahun ini, apa masih kurang?"
"Ayah ... " Daffin memanggil pelan. Dia melihat dua orang dewasa itu dengan gelisah.
Faris mengabaikannya, tatapannya tetap tertuju pada Niken. "Kenapa? Takut Luna kembali dan merebut posisimu sebagai nyonya rumah? Takut Daffin nggak mau menganggapmu ibunya lagi?"
Niken kembali menangis. "Faris, apa begitu caramu memandangku?"
"Memang mau bagaimana lagi?" Faris

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda