Bab 112 Harus Membuatnya Lebih Menderita daripada Mati
Sementara itu, di sebuah pabrik semen yang terbengkalai, seorang pria berlumuran darah tergeletak di lantai, tak bergerak sama sekali.
"Tolong ... tolong jangan bunuh aku ...." Jeritannya lemah dan memilukan.
Ariel mengayunkan satu tendangan keras, menghantam perut bagian bawah pria itu lagi.
Pria itu terlempar lebih dari satu meter.
Di lantai tertinggal jejak darah panjang.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini?" Ariel tidak memberinya kesempatan bernapas, sepatu kulit mengilapnya menginjak selangkangan pria yang berlumuran darah.
Pria itu sudah sekarat, suaranya terputus-putus, "Ada orang ... meneleponku ... bilang ... di kamar ada barang bagus ...."
"Telepon dari siapa?"
"Nomor asing ... aku ... aku nggak tahu ...."
Wajah tampan Nando yang duduk di seberang seolah direndam air es, bahkan suaranya pun mengandung hawa dingin. "Geledah."
"Baik."
Ariel menggeledah tubuh pria itu.
Setelah menemukan ponsel, dia menggunakan jari pria itu untuk membuka kunci, lalu menyerahkannya pad

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda