Bab 144 Memintanya Memanggil Kakak
Nyonya Siska bersikeras tidak mau bangun.
Wajahnya yang sudah pucat kini semakin pucat.
Bahkan sorot matanya mulai kehilangan fokus.
Kalau terus begini, tubuhnya jelas tidak akan kuat.
Adele akhirnya mengalah. "Aku bisa memberi Keluarga Hauten jalan hidup, tapi aku tetap harus cerai."
Wajah Nyonya Siska dipenuhi keputusasaan. "Begitu bercerai, Keluarga Hauten akan hancur."
"Kecuali kalau kalian sudah mendapatkan akta cerai dan menyembunyikan kabar ini untuk sementara, lalu menunggu waktu yang tepat untuk diumumkan."
Adele mengerutkan kening.
Yang dia inginkan adalah benar-benar memutus hubungan dengan Keluarga Hauten.
Nyonya Siska kembali bersujud padanya. "Adel, anggap saja Nenek memohon padamu."
Napas wanita tua itu semakin lemah, seolah bisa pingsan kapan saja.
Tiba-tiba, pandangannya menghitam dan tubuhnya terjatuh ke samping.
Adele terkejut dan segera menopangnya. "Baik, aku setuju."
Setelah itu, dia buru-buru memberi instruksi pada resepsionis. "Tolong papah dia ke ruang istiraha

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda