Bab 22
Begitu melihat keras kepala William, asisten itu memohon dengan sungguh-sungguh, "Pak William, Nyonya .... bukan, seharusnya panggil dia Nona Joana."
"Dia sudah menjelaskan dengan sangat jelas padamu bahwa nggak ada masa depan bagi kalian berdua. Kegigihanmu untuk terus seperti ini nggak baik bagi siapa pun."
"Pak William, terkadang cinta nggak selalu berarti harus bersama, melepaskan juga merupakan bentuk cinta."
Semua orang bisa mengatakan teori atau nasihat yang terdengar benar, tetapi ketika benar-benar dilakukan, itu sangat sulit.
Kali ini, William bertekad. "Kalau aku nggak bisa membuat Lina memaafkanku, aku nggak akan pulang."
"Kalau kamu takut dimintai pertanggungjawaban oleh dewan direksi, maka pulanglah sendiri."
"Adapun Natasha, aku dengan baik hati mengampuni nyawanya. Karena dia bersikeras cari mati, hubungi orang-orangmu. Kalau mereka melihatnya, jangan biarkan dia hidup."
Jika bukan karena Natasha, dia dan Lina tidak akan sampai pada titik ini.
Asisten itu menarik napas

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda