Bab 1
"Bu, Paman Fabio, permohonan studiku ke luar negeri sudah disetujui, aku berencana pergi ke luar negeri."
Di ruang tamu yang sunyi, suara Elyra terdengar ringan dan lembut, bagaikan setetes air yang jatuh dan lenyap di kolam.
Bu Vera yang duduk di sofa seberang segera diliputi kegembiraan. "Secepat itu sudah lolos? Kapan berangkat?"
"Sepuluh hari lagi."
Bu Vera tak menyangka akan secepat ini. Di tengah rasa girang, sorot matanya kembali dipenuhi keengganan berpisah. "Kalau begitu, ibu akan segera membantumu berkemas. Ini pertama kalinya kamu pergi jauh, apalagi ke luar negeri, ibu benar-benar nggak tenang. Ibu sudah menghubungi seorang teman lama dari beberapa tahun lalu, kebetulan putranya juga ada di Luzaro. Kalau kamu ada apa-apa, hubungi saja dia, nggak perlu sungkan, toh kamu dan anak laki-laki itu dulu pernah dijodohkan sejak kecil. Coba lihat cocok atau nggak untuk diajak bicara, kalau cocok lebih baik, kalau nggak, ya berteman saja."
Elyra mengangguk. "Baik, Bu."
Mendengar itu, Bu Vera sangat terkejut. "Lyra, kamu setuju? Kamu dan pacar yang sebelumnya itu ... akhirnya putus?"
Elyra segera terdiam.
Pak Fabio seketika paham, menepuk meja dengan keras. "Dia nggak pernah mau pulang menemuimu dan bertemu kami, jelas dia nggak pernah benar-benar serius padamu. Pacar seperti itu, putus saja memang lebih baik!"
"Pacar? Pacar apa?"
Sebuah suara tiba-tiba memecah suasana muram di ruang tamu.
Ketiganya menoleh bersamaan, lalu melihat Dario yang kebetulan mendorong pintu dan masuk.
Dia mengenakan kemeja hitam dan celana berwarna hitam, tubuhnya tinggi ramping bak giok, tegap seperti pinus. Setiap gerak-geriknya memancarkan kemalasan yang anggun dan berkelas.
Tubuh Elyra agak bergetar, dia berdiri dan memanggilnya, "Kakak."
Dario menggumamkan "hmm" dengan makna yang sulit ditebak, melemparkan kunci mobilnya, lalu naik ke lantai atas.
Malamnya, Bu Vera memasak satu meja penuh hidangan, bahkan membuka sebotol anggur merah.
Sambil mengangkat gelas, dia tersenyum cerah menghadap tiga anggota keluarga, bersiap mengumumkan kabar gembira. "Ayo, ayo, hari ini kita sekeluarga merayakan dengan baik, merayakan Lyra yang sebentar lagi akan ...."
Elyra menyadari ada yang tidak beres, buru-buru menyela, "Bu, anggurnya agak pahit, jangan-jangan sudah kedaluwarsa?"
Kedaluwarsa?
Bu Vera tampak heran. Anggur itu jelas belum kedaluwarsa, tetapi Elyra sudah menariknya ke dapur dengan alasan mengambil anggur baru.
"Bu, soal aku ke luar negeri, untuk sementara jangan bilang ke Kakak."
Saat pertama mendengar ini, Bu Vera merasa agak aneh.
Namun ketika teringat perhatian anak tirinya terhadap putrinya selama ini, Bu Vera pun perlahan memahami perasaan berat untuk berpisah di antara kakak-adik itu. Dia lalu mengangguk setuju.
Setelah makan seadanya, Elyra bangkit dan kembali ke kamarnya.
Selesai mandi dan bersiap, dia berbaring di tempat tidur dan perlahan tertidur.
Hingga tepat tengah malam, di sampingnya muncul seseorang seperti biasa.
Embusan napas panas jatuh di lehernya. Detik berikutnya, bibir lembut menempel dan menggigitnya dengan ringan. Sensasi lembap yang agak dingin itu sepenuhnya membangunkan Elyra yang masih setengah terlelap.
Tubuhnya menegang, dia tanpa sadar bangkit dan mendorong sosok itu menjauh, suaranya tergesa dan menolak, "Dario!"
"Kenapa? Keluarga mau mengenalkan pacar untukmu, jadi Kakak nggak boleh menyentuhmu?" Dalam kegelapan, Dario menyunggingkan senyum. Namun senyumnya tak sampai ke mata, berkata dengan suara malas, "Bertahun-tahun bersama Kakak, mau gratisan saja?"
Elyra tahu dia salah paham, tetapi tidak menjelaskan.
Wajah Dario pun mengeras dalam keheningan yang tak berujung itu.
Pria itu meraih dan memeluknya. "Elyra, pernah nggak aku bilang, kamu nggak boleh punya pacar, kamu hanya boleh jadi milikku."
Merasakan panas membara dari belakang, Elyra tak ingin berdebat, lalu berbohong, "Sedang haid, nggak enak badan."
Mendengar penjelasannya yang melunak, barulah raut Dario membaik sedikit. Walau begitu, dirinya tetap mengernyit. "Bukankah haidmu baru selesai belum lama ini, sudah datang lagi? Baiklah, hari ini aku nggak menyentuhmu, cepatlah tidur."
Selesai berkata begitu, dia memeluk Elyra dengan erat ke dalam pelukan.
Mendengar napasnya yang tenang dan teratur di telinga, Elyra justru gelisah tak bisa tidur.
Tak ada yang tahu, pacarnya adalah kakaknya sendiri, Dario!
Pada saat dia usia dua belas tahun, ibunya menikah lagi ke Keluarga Zosua. Sejak itu, Elyra pun menjadi adik tiri Dario, putra tunggal Keluarga Zosua.
Pada usia empat belas tahun, dia memanggil Dario kakak, Dario memanggilnya adik. Di mata orang luar mereka tampak akur sebagai kakak-adik.
Usia delapan belas tahun, buku harian cinta rahasianya yang penuh dengan nama Dario ketahuan. Pria itu bersandar malas di meja belajarnya, tampak seulas senyum di alis dan matanya, membaca buku harian itu berulang kali. Dia lalu menangkap tangan Elyra yang hendak merebut kembali buku itu, dan menjatuhkan sebuah ciuman di pipinya yang memerah.
Di usia dua puluh tahun, mereka mencicipi buah terlarang untuk pertama kalinya, lalu ketagihan dan tak bisa berhenti.
Siang hari mereka adalah kakak-adik, malam hari mereka saling terjerat mati-matian, menyembunyikannya dari semua orang.
Sejak kecil Elyra adalah gadis penurut, bersama Dario adalah satu-satunya hal nekat yang pernah dia lakukan seumur hidupnya.
Dirinya terlalu menyukai Dario, sampai-sampai merasa tak apa jika hubungan ini tak pernah dipublikasikan seumur hidup, toh nanti mereka bisa diam-diam pergi ke luar negeri dan menikah.
Namun semua khayalan itu hancur setengah bulan lalu, saat dia tanpa sengaja memergoki obrolannya dengan teman-temannya yang mendadak terhenti.
Hari itu hujan deras, dia berlari mengantarkan payung untuk Dario. Baru hendak membuka pintu ruang privat, terdengar olehnya suara teman-teman pria itu.
"Kak Dario, putri ibu tirimu itu mau kamu apakan? Bukannya dulu bilang cuma main-main terus ditinggalkan, kenapa sampai sekarang belum putus juga?"
"Benar, dulu kamu bersama dia 'kan cuma mau balas dendam karena ibunya menikah ke Keluarga Zosua? Jangan bilang sekarang kamu jadi luluh."
Balas dendam?
Rupanya pria itu bersamanya bukan karena suka, melainkan balas dendam!
Wajah Elyra seketika pucat, kepalanya berdengung, seluruh tubuhnya mulai gemetar tak terkendali, tetapi dia tetap keras kepala tidak pergi, ingin mendengar jawaban Dario.
Hingga detik berikutnya, suara Dario yang dingin dan kejam menyampaikan setiap kata ke telinganya.
"Kalau nggak dimainkan lebih lama, bagaimana membuatnya lebih menderita?"
Saat itu, seisi ruangan tertawa, sementara dia berdiri di luar pintu, seolah jatuh ke dalam gua es.
Jadi pria itu tidak menyukainya, bersamanya, menyebutnya pacar, berkelindan dengannya setiap malam, hanyalah sebuah balas dendam karena tidak puas ibunya yang merebut posisi ibu kandungnya?
Ibunya masih harus terus tinggal di Keluarga Zosua, Elyra tak bisa membuat masalah ini menjadi heboh.
Setelah berpikir panjang, satu-satunya cara yang bisa dia pikirkan hanyalah melarikan diri, meninggalkan rumah ini, sekaligus menjauhi pria itu.
Karena itu, dia mengajukan studi ke luar negeri.
Kini, jarak menuju kepergiannya yang senyap, tinggal sepuluh hari terakhir.
Menatap pengingat hitung mundur di ponselnya, Elyra mengangkat tangan dan melepaskan tangan Dario yang melingkari pinggangnya.
Tak sampai beberapa menit, Dario memeluknya lagi. Setelah dia lepaskan, pria itu kembali memeluk tanpa sadar.
Kesabarannya terkikis dalam tarik-ulur berulang itu, akhirnya Elyra mengambil sebuah bantal dan meletakkannya di antara mereka berdua.
Kali ini, pria itu akhirnya berhenti.
Elyra pun akhirnya tenang.
Dirinya tahu, di antara mereka, sebentar lagi akan ditarik sebuah garis akhir.
Dirinya tidak lagi menjadi milik si pria, dan tidak lagi menjadi milik pribadinya.