Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Vanya Angkara dikenal sebagai sosok yang memesona. Senyum di bibir merahnya begitu menawan, dan tatapan matanya penuh daya pikat. Sementara Kresna Tiranta adalah pewaris elite keluarga terpandang. Sosoknya dingin, berjarak, disiplin, bagaikan bunga di puncak gunung yang tak tersentuh. Tak ada yang menyangka, dua sosok yang begitu berlawanan ini justru larut dalam gairah tersembunyi. Mereka bergumul liar di kursi belakang Maybach saat malam sunyi, kehilangan kendali di kamar mandi acara amal, hingga di depan jendela tinggi sebuah kebun anggur pribadi, sampai kaki mereka lemas. Setelah melalui satu malam penuh gairah, terdengar suara gemercik air dari kamar mandi. Vanya bersandar di ranjang, lalu menghubungi ayahnya, Dirga Angkara. "Aku bersedia menikah dengan pewaris dari Kota Altara yang katanya sekarat itu untuk penolak bala. Tapi aku punya satu permintaan." Terdengar nada bahagia di seberang telepon yang tak bisa disembunyikan. [Katakan saja! Selama kamu mau menikah, Ayah akan menyetujui apa pun.] "Kita bicarakan saat aku pulang." Suara Vanya terdengar lembut, namun matanya dingin dan kosong. Dia mengakhiri panggilan. Saat hendak bangkit untuk berpakaian, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada laptop milik Kresna di samping. Layar WhatsApp masih menyala, dan ada pesan terbaru berasal dari seorang gadis dengan nama kontak "Calia". [Kresna, ada petir ... aku takut.] Ujung jari Vanya bergetar pelan. Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, dan Kresna melangkah keluar. Butiran air meluncur di sepanjang tulang selangkanya, dan dua kancing kemejanya terbuka santai. Ketenangan dingin yang biasanya dia miliki kini diselipi kesan malas yang berbahaya. "Ada urusan kantor. Aku pergi dulu," katanya sambil mengambil jas, suaranya tetap datar dan dingin. Bibir Vanya terangkat tipis, senyumnya samar namun tajam. "Urusan kantor, atau mau menemui cinta pertamamu?" Kresna tidak mendengarnya dengan jelas. "Apa?" "Nggak apa-apa." Vanya turun dari ranjang tanpa alas kaki, telapak kakinya yang pucat menginjak karpet lembut. Sorot mata pria itu sedikit menggelap. Ibu jarinya mengusap bibir Vanya yang masih memerah. "Bersikaplah baik. Jangan membuat masalah." Saat pintu tertutup, senyum di wajah Vanya seketika menghilang. Dia memanggil sebuah taksi dan mengikuti Kresna. Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan sebuah hotel. Di tengah hujan, Vanya melihat Calia, yang mengenakan gaun putih, berlari keluar dari pintu hotel. Kresna melangkah cepat, melepas jasnya, dan menyelimutkannya ke bahu Calia, lalu mengangkatnya dengan satu gerakan mantap. "Udara dingin. Kenapa kamu keluar tanpa mengenakan jaket, hm?" Gerakannya begitu cekatan, seolah dia sudah sering melakukannya berkali-kali. Vanya mencengkeram gagang pintu mobil erat-erat, hingga kukunya menancap dalam ke telapak tangan. Dia menatap Kresna yang membawa Calia kembali ke dalam hotel dengan penuh kehati-hatian. Entah kenapa, ingatannya tiba-tiba melayang ke pertemuan pertamanya dengan pria itu. Saat itu hubungannya dengan sang ayah sedang memburuk. Setelah mereka bersitegang, sang ayah mengirimnya ke putra sahabat karibnya untuk "dididik", dengan alasan agar sifatnya sebagai putri manja dan keras kepala bisa sedikit diredam. Saat pertama bertemu, Kresna duduk tenang di lantai teratas gedung perusahaannya. Dari balik kacamata emasnya, dia menatap Vanya dengan tatapan dingin dan tak berperasaan. Tentu saja Vanya tidak ingin berada di tempat itu. Dia pun mencari berbagai cara untuk membuat kekacauan. Pada hari pertama bekerja, dia dengan sengaja menumpahkan kopi ke jas pesanan khusus milik Kresna yang nilainya fantastis. Kresna hanya meliriknya sekilas dan berkata, "Ini terbuat dari wol yang diimpor dari luar negeri. Catat ke tagihan Keluarga Angkara." Hari kedua, Vanya sengaja memasukkan dokumen rapat ke mesin penghancur kertas. Kresna tetap tenang, lalu mengucapkan seluruh isi rapat dari ingatan dan membuat para eksekutif di ruangan itu terpaku tak percaya. Hari ketiga, Vanya mencampur sesuatu ke dalam kopi Kresna dan sudah menyiapkan kamera, berniat merekam aibnya untuk dijadikan ancaman. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Vanya malah menjadi penawarnya. Keesokan paginya, tubuh Vanya terasa nyeri di sekujur badan. Amarahnya meluap hingga ingin meledak, namun Kresna justru menekannya ke depan jendela kaca besar dan kembali melampiaskan hasratnya tanpa ampun. "Yaya ... " Kresna menggigit daun telinganya dan berbisik dengan suara dalam, "Bersikaplah dengan baik." Hanya dengan panggilan "Yaya" itu, seluruh pertahanan Vanya runtuh. Sejak ibunya meninggal, sudah lama tidak ada yang memanggilnya seperti itu. Sejak hari itu, hubungan mereka benar-benar berubah. Setiap kali Vanya membuat ulah, Kresna akan langsung menyeretnya ke kantor. Orang-orang di luar mungkin mengira Kresna akan menegurnya, padahal sebenarnya dia menekan Vanya di atas meja kerja hingga kakinya lemas. Lambat laun, Vanya menyadari dirinya mulai ketagihan. Apakah karena Kresna terlalu terampil? Atau karena dia terlalu kesepian? Dia sendiri tak tahu jawabannya. Yang dia tahu hanyalah ... dia sudah jatuh hati. Maka pada hari ulang tahun Kresna, Vanya menghabiskan seharian untuk menghias vila. Bunga mawar, lilin, musik romantis, bahkan cincin pertunangan sudah dipersiapkan. Namun, setelah menunggu sepanjang malam hingga lilin habis terbakar dan mawar layu, Kresna tak kunjung datang. Hingga pukul tiga pagi, notifikasi berita tiba-tiba muncul di ponselnya. "Bos Konglomerat Menjemput Kekasihnya di Tengah Malam." Di foto itu, Kresna tampak sangat hati-hati mengawal seorang gadis berbaju putih masuk ke mobil, tatapannya lembut tapi menusuk. Kolom komentar meledak. "Ah, cocok sekali! Bos besar dan gadis cantik. Benar-benar bikin iri!" "Wah! Bukankah itu Kresna dan Calia? Dulu mereka pasangan idola di sekolah kami!" "Aku saksinya! Kresna selalu bersikap dingin ke semua orang, tapi pada Calia ... dia tersenyum ramah! Kalau bukan karena kesehatan Calia yang buruk hingga harus ke luar negeri, mereka pasti sudah menikah sejak lama!" Ponsel Vanya jatuh ke lantai dengan keras. Dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kalau di hati Kresna sudah ada orang lain, lalu dia ini siapa? Hanya teman ranjang yang bisa dipanggil kapan saja? Dengan tangan gemetar, Vanya menekan nomor Kresna, berharap mendengar jawabannya, tetapi teleponnya terus tidak tersambung. Setelah menutup telepon untuk terakhir kali, Vanya menaruh ponselnya dan berjalan menuju ruang kerja Kresna, ruangan yang selalu terlarang baginya. Saat pintu terbuka, hatinya seakan disambar petir. Seluruh ruangan dipenuhi foto-foto Calia. Foto kelulusan, foto perjalanan, bahkan foto-foto Calia yang tertidur dan difoto diam-diam, semua tersimpan di sana. Kresna yang biasanya dingin dan penuh kendali ternyata bisa melakukan hal seperti ini. Mencari jawaban pun kini terasa tak lagi penting. Tiba-tiba, Vanya tertawa sendiri, dan tawanya terdengar menusuk di ruang kosong itu. Namun tawa itu segera berubah menjadi tangisan. Air mata mengalir deras hingga menetes di sepanjang rahangnya yang tegas dan jatuh ke lantai. Dengan mata merah membara, Vanya menghancurkan seluruh isi vila. Keesokan harinya, Kresna kembali. Melihat kekacauan di seluruh vila, dia hanya memerintahkan pembantu dengan tenang untuk membersihkannya. Dia bahkan tidak menatap Vanya sekali pun, seolah tindakan itu sama sekali tak mengejutkan. Vanya menyaksikan dengan mata terbelalak saat pembantu membuang cincin pertunangan yang telah dia siapkan dengan hati-hati seperti sampah. Kresna tidak tahu apa yang ada di dalam kotak itu. Kresna tidak tahu bahwa Vanya pernah ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamanya. Dan dia juga tidak tahu, saat cincin itu masuk ke tong sampah, Vanya memutuskan untuk tidak mencintainya lagi. "Nona mau ke mana?" Suara sopir membawanya kembali ke kenyataan. "Pulang." Vanya membuka mata, suaranya dingin seperti es. "Pulang ke rumah Keluarga Angkara." Setibanya di vila Keluarga Angkara, ayahnya langsung menyambut. "Vanya, benarkah kamu mau menikah dengan pria dari Kota Altara itu?" Di tangga, ibu tiri menatapnya dengan penuh harap. "Ya." Mata Vanya menatap dingin. "Tapi bukankah aku sudah bilang ada syaratnya?" "Syarat apa? Cepat katakan!" "Aku ingin ... " Vanya menekankan kata demi kata, "Memutus hubungan ayah dan anak antara kita." Suasana seketika menjadi tegang. Ekspresi ayahnya langsung berubah drastis. "Kamu sudah gila! Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?" "Sangat sadar." Suara Vanya sedingin es. "Kamu sudah selingkuh saat menikah. Demi memberi status pada wanita itu, kamu sampai membuat Ibu bunuh diri dengan melompat dari gedung. Sejak hari itu, aku nggak menganggapmu sebagai ayahku lagi." Dia menatap wajah ayahnya yang memucat. "Sekarang, pewaris di Kota Altara yang hampir sekarat itu menawarkan hadiah 100 triliun untuk mencari orang yang mau dinikahkan demi 'menolak bala'. Kamu sudah membujukku selama tiga bulan. Kalau aku menolak, apa kamu berniat menyeretku ke sana?" "Kalau begitu, memutuskan hubungan atau nggak, bedanya apa?" Vanya tersenyum sinis. "Sekalian saja kamu bawa pulang anak selingkuhanmu itu, biar dia yang jadi putri tunggal Keluarga Angkara." Dirga gemetar dalam amarah. "Baik! Kalau kamu mau memutuskan hubungan, aku terima! Tapi kabarnya pewaris di Kota Altara itu nggak akan bertahan sampai akhir bulan. Kamu harus menikahinya sebelum akhir bulan!" Dia menambahkan dengan nada dingin, "Putri Tante Yuna sudah kembali dari luar negeri beberapa hari lalu dan tinggal di hotel. Kalau kamu mau menyerahkan posisimu itu, besok dia akan langsung pindah ke sini!" Vanya tertawa pahit, hatinya sakit dan bergetar. "Kamu sampai repot-repot merawat anak orang tapi mengabaikan anak sendiri. Benar-benar luar biasa." Saat dia berbalik hendak pergi, ibu tirinya, Yuna Maralin, pura-pura menahannya dan menasihati, "Vanya, bagaimana bisa kamu bicara begitu pada ayahmu?" Vanya berhenti melangkah. Perlahan dia menatap Yuna dengan mata penuh kebencian yang telah terpendam bertahun-tahun. "Kenapa? Kamu pikir begitu aku menikah dan meninggalkan rumah ini, kamu bisa bertingkah seperti istri sah?" Vanya melangkah maju dan menatap Yuna tajam. "Dengar baik-baik, Yuna! Meskipun ibuku sudah tiada, itu nggak akan menghapus fakta bahwa kamu adalah perebut suami yang dibenci semua orang! Anakmu boleh saja menjadi putri tunggal di Keluarga Angkara, tapi ibunya tetaplah pelakor!" Wajah Yuna langsung berubah pucat, dan dia melangkah mundur dengan terhuyung-huyung. Vanya berbalik dan melangkah pergi, setiap langkahnya terasa seperti menginjak di ujung pisau. Begitu sampai di kamar dan menutup pintu, dia langsung terjatuh lemas di lantai dan menundukkan wajahnya dalam-dalam ke lutut. Keesokan paginya, terdengar suara gaduh di lantai bawah. Bunyi barang dipindahkan dan suara tawa bercampur menjadi satu. "Ada apa ini?" Vanya mendorong pintu dengan kesal. "Apakah orang-orang ini nggak mau membiarkan orang tidur nyenyak?" Kepala pelayan tergagap, "Nona ... anak Nyonya Yuna sudah pindah ke sini ... " Belum selesai kata-katanya, sosok yang tidak asing muncul di tangga. Calia berdiri di sana mengenakan gaun putih, tampak lemah lembut dan rapuh. Tubuh Vanya seketika membeku, dan darahnya seakan berhenti mengalir.
Bab Sebelumnya
1/22Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.