Webfic
더 많은 컨텐츠를 읽으려면 웹픽 앱을 여세요.

Bab 14

Stella berbalik, lalu mengulurkan tangan ke arah Linda dengan yakin. "Barusan kamu bilang ada satu ruko gratis untuk kami, 'kan? Tapi, omongan saja nggak cukup. Mana sertifikatnya?" "Di mana?" "Linda tidak kuasa menahan dirinya, hingga matanya langsung melotot ke arah Stella. "Stella, kenapa kamu nggak tahu malu ...." Setelah melihat ekspresinya, wajah Julio sedikit berubah. "Nona Linda, kamu yang bilang sendiri barusan. Jangan-jangan kamu cuma bercanda?" Seketika, amarah Linda mereda. Wajahnya sedikit berkedut. Lalu, dia mengeratkan giginya dan menegaskan pada diri sendiri untuk bersabar. Tidak sabar bisa merusak rencana besar! "Tentu saja benar, Kak Julio." Linda benar-benar andal mengubah ekspresinya. Dia bahkan membuat Stella terkagum-kagum. Stella sangat ingin memberinya Piala Oscar sekarang juga. "Barusan, aku cuma bercanda sama Kak Stella." Makin manja nada suara Linda, Julio makin merasa tidak nyaman. Si gadis malang itu seharusnya tidak seperti itu .... Stella melanjutkan ucapannya dengan tangan terulur, "Kalau candaanmu sudah selesai, mana akta tanahnya? Mana? Bisa dikeluarkan sekarang, 'kan?" Jika tatapan bisa membunuh, Linda yakin Stella pasti tidak akan tersisa seujung kuku pun sekarang. "Akta tanahnya bukan benda yang selalu aku bawa. Nanti, aku suruh pengurus rumah mengantarkannya!" Stella selalu menampilkan ekspresi lincah dan usil. Kemudian, dia berkata, "Oke, oke. Kalau begitu, hati-hati, ya .... Aku nggak antar lagi!" Hari ini, pahlawan utamanya adalah Julio. Stella tahu membalas budi. Dia berkedip ke arah Julio, lalu membentuk angka enam dengan jarinya. Dia memberi tahu Julio bahwa dia akan memberi potongan 60% lain kali! Senyum tipis tersungging di bibir Julio. Kemudian, Stella mengacungkan ibu jarinya ke arah Julio sebagai tanda apresiasi. "Sampai jumpa ...." Stella menyadari Linda menatapnya. Dia pun melambaikan tangan ke arah Linda dengan sabar. Linda kesal hingga menggertakkan giginya. Dia ingin marah dan melakukan sesuatu, tetapi dia tidak berdaya. Saat dia masih emosi, Julio sudah berbalik dan naik ke mobil. Linda segera berbalik dan mengejarnya, "Kak Julio, tunggu aku!" Saat dia sampai di mobil, mobil Julio sudah melaju pergi, menyisakan asap knalpot di belakang. Begitu melihatnya, Stella tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, Kak, cepat lihat!" Linda menoleh, lalu menatap Stella dengan tatapan penuh kemarahan. "Jangan terlalu sombong, Stella!" Stella berdiri di samping Simon. Lalu, dia meniup helai rambut yang menempel di dahinya dengan sinis. Stella tersenyum sambil melambaikan tangan, hingga Linda kesal setengah mati. Setelah menutup kios di malam hari, Stella kembali sembari memegang kartu bank dan kontrak ruko yang diberikan oleh Linda sambil bersenandung dengan gembira. "Stella, kamu mendapat uang setelah aku dan Ibu pergi? Suasana hatimu bagus sepanjang sore. Lalu, aku melihat seseorang datang dan memberimu sesuatu?" Setelah Simon tiba siang harinya, dia meminta William dan Lena lanjut menyajikan makanan dan berjualan. Jadi, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Lena tidak kuasa menahan rasa khawatirnya. "Linda mengatakan sesuatu yang membuat Stella kesal? Apa mentalnya menjadi nggak stabil?" "Dia mendapat uang." Simon melepas mantel rancangan desainer pribadinya, lalu mengenakan kaus oblong usang tanpa logo. "Selain itu, orang itu bernama Linda." Mendengar itu, wajah William berubah drastis. "Stella, kalau butuh uang, bilang saja pada Ayah! Jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang melanggar hukum!" Stella yang sedang minum itu, hampir tersedak. "Ayah, jangan dengar omong kosong Kak Simon. Nggak seperti itu. Hari ini, Linda datang kasih kita kejutan." "Anggap saja orang baik sedang bagi-bagi hadiah!" Stella mengambil salep yang dibuatnya tadi, menaruhnya di dalam cangkir, menuangkan air dan mengaduknya. Kemudian, dia memberikannya pada Lena. "Katanya, hari ini dia datang untuk membalas budi karena kalian membesarkannya dulu." "Dia nggak cuma kasih uang, dia juga kasih kita ruko di lokasi strategis! Dia bantu kita mewujudkan mimpi memang mulia. Dia punya niat baik, jadi aku menerimanya." Stella memandangi kartu bank dan kontrak ruko di meja. Senyum bodoh tanpa sadar merekah di wajahnya. Hari ini, semuanya berkat Julio. Stella mendapatkan keuntungan secara cuma-cuma. Melihat putrinya tertawa terbahak-bahak, William mendekati Simon dan berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Menurutmu, Stella menganggap keluarga kita terlalu miskin, jadi dia begitu bahagia karena Linda memberinya sedikit uang?" Simon melirik ayahnya dan berkata, "Bukankah semua ini gara-gara ide buruk Ayah dan Ibu? Aku rasa Stella sama sekali nggak sombong." "Sebaliknya, Stella sangat baik dan rendah hati." Samuel muncul entah dari mana. Kemudian, mereka mendengar suaranya yang samar. Samuel menyela, "Ayah, Kak Simon. Menurutku, kita seharusnya nggak mengujinya lagi. Kita nggak hanya harus berhati-hati setiap hari, kita juga membuat Stella bekerja dari pagi sampai malam. Kasihan sekali." Hal yang terpenting adalah Samuel benar-benar tidak ingin terlihat rendah hati lagi. Dia punya banyak pakaian mencolok yang tidak bisa dia pakai. Samuel benar-benar merasa kasihan pada Stella. Bagaimanapun, saat Linda tinggal di Kediaman Fulberto sebelumnya, dia tidak pernah menderita seperti Stella. William menyentuh lehernya dengan malu, lalu berkata dengan canggung, "Ehem." "Semua ini gara-gara Linda nggak tahu terima kasih itu. Aku dan Ibumu harus waspada. Karena itu, Stella harus menanggung semua ini. Kita terlalu berhati-hati." Tiba-tiba, Stella menyela, "Hei, Kak Samuel sudah kembali." William dan yang lainnya terkejut hingga segera berpisah. Samuel menyapa Stella sambil tersenyum nakal, "Yah, aku baru saja kembali. Aku dengar keuntungan masih bagus hari ini." Samuel memanfaatkan kesempatan itu untuk mencubit pipi Stella dan berkata, "Stella, kamu sudah bekerja keras. Kamu sangat berbakat. Ayo, biarkan aku memeluk untuk menghiburmu." Stella menolak sambil mendorong bahunya. "Nggak perlu. Niat baikmu saja sudah cukup." "Kak, bolehkah aku meminta bantuanmu?" Saat berkata dengan Simon, Stella selalu terdengar manja dan lembut. Samuel menatapnya dengan tatapan iri. Dia heran kenapa Stella bisa begitu lembut dan dekat dengan Simon. Padahal, Samuel yang pertama kali berinisiatif menunjukkan perhatian pada Stella. Ekspresi Simon yang tegang dan masam pun membaik. "Kenapa? Katakanlah." "Ayah juga!" Stella kembali menatap William. William menjawab dengan suara lantang dan berlebihan, "Ayah di sini!" Mereka merasa malu. Di depan putrinya, perilaku William memang benar-benar berbeda. "Sekarang, kita sudah punya toko baru. Aku nggak ngerti soal renovasi. Kak Simon bekerja di lokasi konstruksi, kamu pasti lebih ahli daripada aku. Aku juga nggak bisa meninggalkan kiosku. Jadi, aku ingin meminta Ayah dan Kak Simon bantu aku mengawasi renovasinya. Boleh, 'kan?"

© Webfic, 판권 소유

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.