Bab 216
Begitu selesai bicara, dia menunduk ingin berdiri.
Namun dia lupa, Zavier ada tepat di depannya.
Dia langsung menabrak tubuhnya.
Zavier mendengus pelan, namun tangannya merangkul pinggang Thalia dengan kuat.
Bau sabun mandi masih tercium di tubuh Zavier, begitu mendongak Thalia bisa melihat tulang selangka Zavier yang indah.
Di bawahnya ada dada hangat, dengan lapisan otot tipis yang menempel.
Tenggorokan kering.
Itu adalah reaksi pertama Thalia.
Panas menjalar ke wajahnya, dia merasa dirinya seperti orang mesum.
Pipinya merah, dia tidak berani mendongak, hanya bisa berkata pelan, "Aku ...."
Sebelum selesai bicara, dagunya sudah dicengkeram seseorang dan wajahnya dipaksa mendongak.
Zavier melihatnya. Mata hitam pekatnya bergejolak dan hasrat yang semakin dalam.
...
Di hari kepulangan, Kezia mengantar mereka keluar dari hotel.
Dia tetap hangat pada Zavier, "Dokter Zavier, aku akan merindukanmu."
Setelah mengatakannya menoleh pada Thalia, sambil mengangkat alis, "Nona Thalia, meski kali

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link