Bab 190
Lucio mendengus. "Kalau aku pergi, bukankah aku nggak akan melihatmu mengumpatku tadi?"
"Siapa bilang aku mengumpatmu?" ujarku.
Lucio tersenyum dengan tidak berdaya. "Baiklah, kalau begitu aku anggap kamu nggak mengumpat."
Aku memikirkannya, tapi merasa tidak perlu menyangkalnya.
"Ya, aku baru saja mengumpatmu, lalu kenapa? Aku memelototinya dengan kurang ajar."
Lucio mengabaikan provokasiku, mengusap kepalaku, berjalan menghampiriku dan perlahan mengenakan pakaiannya.
"Barusan kamu mau ke mana?" tanyaku sambil mengerutkan kening.
Lucio menjawab dengan tenang, "Aku mandi."
Aku mendengus. Baru-baru ini aku menyadari bahwa pria ini punya obsesi yang tidak biasa terhadap kebersihan. Lucio mandi setidaknya dua kali sehari.
Aku mengusap bahuku yang pegal. "Aku nggak tahu kamu menganggapku sekotor ini."
Lucio tiba-tiba berhenti, berbalik untuk menatapku. "Kamu nggak kotor."
"Tentu saja nggak!" Aku menatapnya bingung. "Kamu yang gila kebersihan!"
Lucio tidak mengatakan apa-apa. Setelah berpak

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link