Bab 181
Jleb.
Arman menancapkan pisau itu.
Suara pisau yang menembus dadanya dan merobek daging di dalamnya terdengar sangat mengerikan.
Arman kesakitan sampai sedikit mengernyit.
Darah merah pun mengalir keluar.
"Jangan!"
Kedua mata Marsha seketika memerah.
Dia tidak menyangka bahwa Arman akan tanpa ragu menancapkan pisau ke dada sendiri demi dirinya.
"Bukankah Arman membenciku!" pikirnya.
"Kenapa! Kenapa kamu melakukan ini!"
Marsha berteriak dengan keras.
Air mata membuat pandangannya menjadi kabur.
Dia sama sekali tidak bisa merasakan rasa sakit tertusuk pisau itu.
Namun, dia tahu ...
Pasti sangat sakit!
"Aku sudah melakukan sesuai perkataanmu, sekarang kamu bisa melepaskannya, 'kan?"
Arman tidak melihat Marsha. Matanya terpaku pada Jack dan suaranya terdengar serak dan rendah.
"Lepaskan dia? Kamu sungguh naif!"
Jack menyeringai sinis.
Sekarang dia pasti akan menghabisi Arman.
"Lepaskan dia, kalau nggak, kamu akan menyesal."
Arman menegaskan setiap kata yang dia ucapkan.
Pisau masih tertusu

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link