Bab 9
Aku berjalan ke tepi jalan untuk memanggil taksi.
Suara langkah kaki yang pelan dan ragu, terdengar dari belakang.
"Ibu ... "
Daffin menyusulku dengan kedua mata yang sudah merah dan bengkak.
Aku sama sekali tidak menoleh. "Kan sudah kubilang, jangan asal panggil."
Anak itu berhenti sekitar dua meter di belakangku. Suaranya terdengar seperti mau menangis saat bilang, "Ibu ... Ibu, maafkan aku ... "
Taksi pun datang.
Aku membuka pintu mobil.
"Ibu!" Daffin berlari mendekat dan mencengkeram ujung bajuku. "Jangan pergi ... aku tahu aku salah ... aku benar-benar salah ... "
Sopir taksi menatap kami lewat kaca spion.
Aku menghela napas, lalu menutup lagi pintu taksi. Kemudian berbalik badan untuk menatap anak itu.
Bocah lelaki usia dua belas tahun itu, tingginya sudah mencapai bahuku.
Wajahnya mirip denganku. Tapi mata dan alisnya benar-benar mirip dengan Faris.
"Kamu tahu apa salahmu?" tanyaku.
Daffin terdiam sejenak. Sambil masih menangis, dia menjawab, "Aku ... aku nggak seharusnya mengkh

Naka-lock na chapters
I-download ang Webfic app upang ma-unlock ang mas naka-e-excite na content
I-on ang camera ng cellphone upang direktang mag-scan, o kopyahin ang link at buksan ito sa iyong mobile browser
I-click upang ma-copy ang link