Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 5

Saat terbangun, aku mendapati diriku tidak berada di area tangga, melainkan di dalam sebuah kamar. Aku segera membuka baju untuk memeriksa seluruh tubuhku. Kulitku yang halus sudah rata, dengan pembuluh darah yang kebiruan. Hanya pergelangan kaki kananku yang dibalut dengan perban. Sesekali masih terasa nyeri. "Aduh, kakimu baru dibalut, kenapa dibuka lagi?" Seseorang yang tak asing bagiku masuk ke dalam kamar. Melihat tanganku yang hendak membuka perban, orang itu segera menghalangiku. Orang itu adalah nenek tua yang kutemui di kereta, namanya Nenek Tari. Kok bisa nenek ini ... ? Sebuah dugaan berani muncul di benakku. Mungkinkah Nenek Tari yang memancingku datang ke sini? Mungkinkah dia bercerita tentang manusia lipan untuk menjebakku ke sini? Aku mendorong Nenek Tari, lalu membuka perban sambil menahan sakit. Takutnya, ada lipan di bawah kulit kakiku yang diperban. Namun, selain pergelangan kaki yang bengkak, kenapa tidak ada bekas luka lainnya? "Nona, kamu ini kenapa?" "Kamu pingsan di tengah hutan. Kalau bukan Jason yang kebetulan melihatmu saat pergi memotong rumput untuk pakan sapi, mungkin kamu sudah dimakan serigala." "Lukamu memang nggak parah, tapi kalau nggak diperban, bisa menimbulkan penyakit kronis." Nenek Tari mengomel sambil membalut kembali pergelangan kakiku. Aku agak malu dan terdiam di tempat tidur, sementara Nenek Tari sudah menyuruh cucunya untuk menghidangkan makanan. "Jarak antar desa di sini nggak jauh. Aku nggak menyangka, kamu bisa sampai di dekat desa kami." Wajahku memerah. Padahal cerita legenda itu cuma lelucon belaka, tetapi aku malah percaya. Sepanjang perjalanan, aku malah menakuti diri sendiri dengan cerita legenda itu. Nenek Tari tertawa tersenyum, kerutan di wajahnya terlihat lagi. Dulu aku merasa takut, tetapi sekarang aku merasakan kehangatan. "Cepat makanlah, nanti makanannya keburu dingin." Dia menghidangkan sepiring daging di hadapanku. Potongan lemak daging yang tebal dengan kuahnya tampak menggiurkan. "Anak muda harus makan yang enak sampai kenyang ... " "Aku yakin kamu belum makan seharian kemarin. Kalau masih lapar, masih banyak makanan di rumahku." Aku ingin menolak. Meskipun kemarin aku pergi ke pegunungan, bekal yang kubawa sudah cukup. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutku. Rasa sakit yang menusuk menyebar ke seluruh tubuh. Ada sesuatu yang menggerogoti isi perutku ... Entah dari mana, Nenek Tari membawa sepiring sayur, kuah dan sayurnya sama-sama merah. Mirip bayam merah, tetapi ukurannya lebih besar dan tebal. Aku membungkuk, merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut. "Kamu sakit perut, ya." "Seingatku, waktu anakku pulang untuk perayaan Tahun Baru, dia menaruh beberapa obat di gudang bawah tanah." "Aku buta huruf, maukah kamu temani aku mengambilnya?" Rasa sakit di perutku makin parah, sampai aku tidak bisa memikirkan hal lain. Aku langsung mengiakan.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.