Webfic
Open the Webfic App to read more wonderful content

Bab 6

Selama perjalanan menuju ke gudang bawah tanah, aku menyadari bahwa hampir semua anak muda di desa ini adalah laki-laki. Hanya ada beberapa perempuan, dan semuanya sudah lanjut usia. Nenek Tari sepertinya menyadari kebingunganku, lalu menjelaskan. "Hari ini, semua gadis di desa pergi ke pasar, mereka baru pulang nanti sore." "Kami nggak menganut paham lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan. Kebanyakan laki-laki di sini bekerja di rumah." Aku terkejut, kemudian bertanya, "Perempuan nggak perlu kerja di sawah?" "Laki-laki di sini semuanya sayang istri, jadi nggak tega membiarkan mereka kerja di sawah." Entah sudah berapa lama kami jalan sambil mengobrol, akhirnya kami sampai di gudang bawah tanah. Rasa sakit di perutku perlahan mulai mereda. Baru saat itulah, aku menyadari ada sesuatu yang ganjil. "Nenek, kenapa lokasi gudang bawah tanah rumahmu jauh sekali?" "Kenapa obat-obatan nggak disimpan di rumah saja?" Wajah Nenek Tari mendadak tegang, aku refleks mundur selangkah. Namun, mata Nenek Tari perlahan basah oleh air mata. "Dulu kami tinggal di sini." "Suamiku meninggal muda. Setelah perayaan Tahun Baru setahun yang lalu, anakku juga meninggal, sekarang yang tersisa hanya cucu laki-lakiku, Jason." Sambil berkata begitu, dia membuka pintu gudang bawah tanah. Di dalamnya gelap gulita, hawa dingin menyergap keluar. Untuk sesaat, aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya melihat Nenek Tari menyalakan lilin di gudang bawah tanah, lalu berjalan menuju sebuah kotak di sudut ruangan. "Gudang bawah tanah ini adalah tempat favorit anakku sejak kecil." "Dulu, semua barangnya disimpan di sini." "Aku nggak ingin setiap hari larut dalam kesedihan karena kehilangan putraku." "Akhirnya, aku pindah, tapi gudang bawah tanah ini tetap kupertahankan. Semua barang di gudang ini masih berada di posisi yang sama seperti terakhir kali aku masuk." Saat mendengar ceritanya, aku tidak bisa menahan rasa haru. Aku pernah kehilangan ibu di usia muda, itulah yang membuatku langsung merasa simpati pada Nenek Tari. Sepertinya aku yang terlalu menakuti diri sendiri. Aku melangkah melewati ambang pintu, berjalan di belakang nenek itu. Tiba-tiba, aku melihat ada foto keluarga yang terpajang di dinding gudang bawah tanah. Saat aku mengambil lilin untuk melihat lebih jelas ... Nenek itu tiba-tiba berdiri. "Obat-obatan sudah kuambil, bisa langsung kita bawa." "Sekarang waktunya aku keluar." Dalam cahaya lilin yang redup, wajah Nenek Tari terlihat makin tua. Aku tetap berdiri, lalu perlahan menurunkan tanganku yang masih terangkat ke udara. Foto di dinding itu masih menarik perhatianku. Begitu Nenek Tari balik badan, aku langsung mengangkat lilin sambil mendekati dinding. Saat melihat foto itu, aku langsung merinding ... Pria yang satu kereta dengannya waktu itu ternyata anaknya Nenek Tari. Seketika itu juga, aku langsung menyingkirkan semua keinginanku untuk meliput berita. Hanya ada satu pikiran yang ada di dalam kepalaku ... Aku harus lari, ini adalah jebakan! Saat aku menoleh lagi ke pintu gudang bawah tanah, Nenek Tari sudah berdiri di sana dengan ekspresi bengis. Seolah menyiratkan sebentar lagi aku akan mati di sini.

© Webfic, All rights reserved

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.