Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 3

Camelia pulang ke rumah seorang diri. Vila itu sangat besar, tetapi terasa kosong dan dingin. Dia mengganti sepatunya, melangkah ke lantai atas, lalu mulai merapikan barang-barangnya. Sebenarnya, Camelia sudah mengemas barangnya diam-diam sejak beberapa waktu lalu. Sekarang dia hanya perlu menyelesaikan bagian terakhirnya. Camelia mengeluarkan pakaian yang memiliki gaya serupa dengan Luna dari lemari. Dia melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam koper. Pakaian-pakaian ini tidak akan pernah Camelia kenakan lagi. Terdengar suara pintu terbuka dari lantai bawah. James sudah pulang, tetapi dia tidak sendirian. Luna berdiri di depan tangga. Ketika melihat Camelia, dia menyunggingkan senyum manis. "Camelia, sudah lama kita nggak bertemu." Camelia tidak mengatakan apa pun. "Luna mengatakan kalau dia merindukan Putih," ujar James dengan nada bicara yang sedikit kaku. "Katanya sudah lama mereka nggak bertemu." Putih adalah anjing yang mereka pelihara saat James dan Luna masih bersama. Setelah Luna pergi ke luar negeri, anjing itu ditinggalkan bersama James. Sejak Camelia menikah dan pindah ke rumah ini, dialah yang sudah merawat Putih. "Terserah," balas Camelia dengan singkat, lalu berbalik hendak kembali ke kamarnya. "Putih! Putih!" Luna sudah berjongkok sambil menepuk tangannya untuk memanggil anjing itu. Seekor anjing Samoyed berbulu seputih salju berlari keluar dari sudut ruangan. Begitu melihat Luna, anjing itu melompat kegirangan dengan ekor yang bergoyang kencang seperti baling-baling. "Astaga, Putih masih ingat padaku!" Luna memeluk anjing itu dengan mata menyipit senang. "Ternyata setelah bertahun-tahun dirawat oleh wanita lain, kamu tetap hanya mengenaliku sebagai ibumu." Kata-katanya mengandung provokasi yang sangat jelas. Langkah kaki Camelia terhenti sejenak. James mengerutkan kening sambil berkata, "Luna, dulu kamu pergi ke luar negeri tanpa berpamitan dan meninggalkannya begitu saja. Kamu sudah lama kehilangan hak untuk menjadi ibunya." "Sekarang setelah melihatnya, kamu bisa pulang." Luna mengerucutkan bibirnya. "Di luar gelap dan turun hujan deras, nggak aman kalau aku pulang sendirian. Bolehkah ... aku menginap semalam di sini?" James hendak menolak. Namun, di luar jendela memang sedang turun hujan lebat yang diiringi suara guntur menggelegar. Tanpa sadar, James menoleh ke arah Camelia, berniat membujuknya agar setuju. Dulu setiap kali Luna datang, Camelia pasti akan membuat keributan, lalu James harus bersusah payah untuk menenangkannya. Namun, sebelum James sempat membuka mulut, Camelia sudah berbicara lebih dulu. "Kamar tamu ada di lantai satu, pintu paling ujung. Seprai dan sarung bantalnya masih bersih," ucap Camelia dengan tenang. "Menginaplah kalau kamu mau." Setelah itu, dia berbalik untuk masuk ke kamarnya. James tertegun. Begitu pun dengan Luna. Namun, wanita itu segera tersenyum sambil merangkul lengan James, lalu berujar, "Kak James, lihat, istrimu saja sudah setuju." James menatap pintu kamar Camelia yang tertutup rapat. Perasaan aneh itu kembali muncul di benaknya. James menepis tangan Luna. "Jangan membuat masalah." Tepat saat itu ponsel James berdering. Itu adalah panggilan kerja. Dia melirik Luna sekilas. "Tetaplah di sini, jangan mencari masalah." Kemudian, James pergi menuju ruang kerja. Di ruang tamu sekarang hanya tersisa Luna. Senyum di wajahnya lenyap dalam sekejap. Luna berjalan menuju pintu kamar Camelia, lalu mengetuknya. Pintu pun terbuka. Luna bersandar di kusen pintu sambil menatap Camelia dengan tatapan sinis. "Apa kamu sedang berakting menjadi istri yang murah hati? Apa kamu berpikir dengan membiarkanku menginap, Kak James akan menganggapmu pengertian? Percuma saja, Camelia. Aku akan menunjukkan padamu betapa gagalnya kamu. Selama bertahun-tahun ini, kamu bukan saja nggak bisa memenangkan hati Kak James. Bahkan hati seekor anjing pun nggak bisa kamu dapatkan." Luna bersiul, lalu Putih segera berlari mendekat. "Putih." Luna menunjuk ke arah Camelia. "Majulah, gigit dia!" Anjing itu tampak ragu sejenak. Namun, dia melompat untuk menggigit betis Camelia atas desakan Luna. Karena terkejut dengan serangan mendadak itu, Camelia memekik kesakitan, sementara wajahnya langsung pucat pasi! Luna tertawa penuh kemenangan. "Lihat, 'kan? Bahkan seekor anjing pun nggak bisa kamu jinakkan. Kamu masih berani bermimpi untuk merebut Kak James dariku? Lebih baik kamu menyerah saja!" Rasa sakit dan penghinaan membuat sekujur tubuh Camelia mendingin. Namun, dia menggigit bibirnya dengan kuat agar tidak mengeluarkan suara lagi. Camelia mendongak untuk menatap Luna dengan tatapan sedingin es. "Aku hampir lupa memberitahumu, Luna. Area publik di vila ini, termasuk tangga dan lorong, dilengkapi kamera pengawas 24 jam, dengan fungsi perekam suara dan video yang sangat jernih." "Kalau kamu masih ingin menginap di sini dan menghidupkan kembali hubunganmu dengan James, aku sarankan padamu jangan memancing amarahku. Kalau nggak, aku akan langsung memberikan rekaman ini padanya. Apakah menurutmu dia masih akan membiarkanmu tinggal di sini?" Wajah Luna langsung berubah. Camelia tidak menatapnya lagi. Dia masuk ke kamar dengan membanting pintu. Camelia duduk di tepi ranjang, lalu mengambil kotak obat dari dalam laci untuk mengobati lukanya sendiri. Obat itu terasa menyengat saat menyentuh lukanya, tetapi wajah Camelia tetap tanpa ekspresi. Setelah selesai memberikan obat, dia merebahkan diri sambil memejamkan mata. Tidak seperti biasanya di mana Camelia akan membuatkan susu hangat untuk James atau menunggunya selesai bekerja untuk mengucapkan selamat malam. Kali ini, dia langsung terlelap. Camelia terbangun karena tersedak asap pekat di tengah malam. Ketika membuka mata, kamarnya sudah dipenuhi asap yang membuatnya terbatuk hebat. Camelia bergegas turun dari tempat tidur untuk membuka pintu. Dia melihat api sudah berkobar hebat di sepanjang koridor. Kebakaran! Camelia berpegangan pada dinding, bergerak keluar selangkah demi selangkah. Namun, dia kehilangan tenaga setelah beberapa langkah, karena sudah menghirup terlalu banyak asap. Kakinya lemas, lalu dia pun jatuh tersungkur di lantai. Lantai terasa sangat panas. Camelia berusaha merangkak bangun, tetapi tubuhnya sudah tidak berdaya. Tepat saat Camelia mengira dia akan mati di sana, sesosok bayangan menerjang masuk ke dalam lautan api. Itu James! Pria itu mengenakan piama dengan wajah penuh jelaga, tampak panik ketika menoleh ke segala arah. Camelia ingin memanggilnya, tetapi tenggorokannya terlalu sesak untuk mengeluarkan suara. Dia menjulurkan tangan, berharap pria itu melihatnya. Namun, James bahkan tidak melirik ke arahnya. Pria itu langsung berlari menuju sudut ruangan. Putih tampak meringkuk gemetaran di sana. James menarik anjing itu ke dalam pelukannya, berbalik, lalu pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya. Ketika menatap punggung James yang menghilang di balik kobaran api, Camelia tiba-tiba tertawa. Di tengah tawa itu, air mata mengalir membasahi pipinya. Pria itu datang demi menyelamatkan anjing itu. Di hati James, nyawa Camelia bahkan tidak lebih berharga dari seekor anjing.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.