Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4

Asap makin pekat memenuhi paru-parunya, membuat kesadaran Camelia mulai kabur. Dia menggertak gigi, bertumpu pada dinding untuk berdiri, lalu melangkah terhuyung menuju pintu. Namun, balok kayu yang runtuh telah menutup jalan keluar. Tidak ada jalan lagi. Camelia menatap balok yang berkobar itu dengan putus asa, lalu berbalik untuk menerjang ke arah jendela. Dia membuka jendela lebar-lebar, sementara embusan angin dingin yang masuk membuatnya sedikit lebih sadar. Camelia menunduk ke bawah. Tepat pada saat itulah dia melihat James berlari keluar dari vila sambil menggendong si anjing, sementara Luna langsung melemparkan diri ke pelukannya. "Kak James! Aku takut sekali!" Luna menangis tersedu-sedu. "Aku mengira Putih akan mati di dalam .... Anjing ini sudah kita besarkan bersama selama bertahun-tahun. Dia adalah saksi cinta kita ...." Tubuh James menegang sesaat, seolah ingin mendorong wanita itu menjauh. Namun, ketika melihat tangis Luna yang begitu memilukan, akhirnya dia mengangkat tangan untuk menepuk punggungnya perlahan, lalu membujuk dengan suara rendah, "Jangan menangis lagi. Semua sudah berakhir. Anjingnya selamat, kamu juga selamat." Ketika menyaksikan pemandangan itu, jantung Camelia seolah diremas oleh tangan sedingin es, lalu tiba-tiba dilepaskan begitu saja, meninggalkan kehampaan yang tak berujung dan mati rasa. Camelia tidak lagi berharap pada siapa pun. Dia memanjat bingkai jendela, menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, lalu melompat. Tubuhnya melayang di udara dalam waktu yang singkat. Begitu singkat sampai dia belum sempat merasa takut sebelum akhirnya terjatuh menghantam tanah dengan keras. Bum! Rasa sakit yang hebat langsung melanda seluruh tubuhnya. Camelia tergeletak di tanah, sementara darah hangat mulai mengalir dari bawah tubuhnya. "Ah! Bu Camelia! Bu Camelia melompat dari jendela!" Teriakan histeris pelayan pecah, membuat James langsung menoleh. Dia melihat Camelia tergeletak bersimbah darah. "Camelia!" Ekspresi di wajah pria itu adalah sesuatu yang belum pernah Camelia lihat sebelumnya. Ada keterkejutan, ketidakpercayaan, bahkan ada sedikit ... kepanikan. Camelia menatapnya, bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar hanyalah gumpalan darah. Setelah itu, kesadarannya menghilang sepenuhnya. Saat terbangun kembali, aroma tajam disinfektan memenuhi rongga hidungnya. Camelia membuka mata untuk menatap langit-langit yang putih bersih. Dia mencoba bergerak sedikit, tetapi seluruh tubuhnya terasa nyeri. Terutama kakinya yang terasa sakit hingga menusuk tulang. "Camelia!" Suara James terdengar. Camelia menoleh, melihat pria itu berjaga di sisi tempat tidur. Matanya tampak memerah karena kurang tidur, sementara dagunya ditumbuhi jenggot tipis, membuatnya tampak sangat kuyu. Pria itu menggenggam tangan Camelia, sementara suaranya sedikit bergetar, "Kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?" Camelia tidak menjawab pertanyaannya, hanya menarik tangannya dari genggaman James dengan perlahan, tetapi sangat tegas. Tangan James membeku di udara, sementara wajahnya langsung berubah. James mengira istrinya sedang marah karena insiden kebakaran, serta fakta bahwa dia tidak menyelamatkannya terlebih dulu. "Camelia." James mencoba menjelaskan dengan suara yang lembut, "Saat aku masuk ke kamar, aku nggak melihatmu. Aku mengira kamu sudah berhasil keluar, jadi aku membawa Putih. Dia bukan anjing biasa, dia ...." Dia apa? Simbol cinta mereka? Saksi memori indah di masa lalu? "Lagi pula, kalau kamu ada di kamar, kenapa kamu nggak memanggilku?" lanjut pria itu. Kenapa tidak memanggil? Camelia akhirnya mengangkat pandangannya. Matanya hitam dan dalam, tidak ada dendam, tidak ada pula harapan. Hanya ada ketenangan yang sangat sunyi. "Karena aku nggak lagi menaruh harapan padamu," balas Camelia. Tubuh James tersentak hebat, seolah dihantam benda yang berat. Pupil matanya mengecil, lalu dia menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudmu ... nggak menaruh harapan lagi?" James mendengar suaranya sendiri terdengar sangat parau. Di suatu sudut hatinya, kalimat itu menciptakan lubang kosong yang tiba-tiba dimasuki embusan angin yang asing dan dingin. Camelia menatapnya seolah dia adalah seorang asing. "Maksudku adalah seperti yang aku ucapkan. Aku nggak berharap kamu akan menyelamatkanku, aku nggak berharap kamu akan memilihku, aku juga nggak berharap ... kamu akan mencintaiku." Hati James terguncang. Baru saja dia hendak berbicara, tetapi ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Luna! James berjalan ke dekat jendela, lalu membelakangi Camelia untuk menerima telepon. Camelia tidak bisa mendengar detail pembicaraannya, hanya melihat ekspresi di wajah suaminya yang menegang. Awalnya nadanya terdengar tidak sabar, tetapi akhirnya berubah penuh dengan kepatuhan, "Aku mengerti." Setelah mematikan telepon, James kembali ke sisi tempat tidur dengan ekspresi yang tidak begitu baik. Dia menatap Camelia, tampak ragu untuk berbicara. "Pergilah," ucap Camelia lebih dulu tanpa menunggu pria itu berbicara. Nadanya tetap tenang hingga terasa menyesakkan. "Aku benar-benar nggak membutuhkan siapa pun di sini." Dada James terasa seperti tersumbat gumpalan kapas basah, membuatnya merasa sesak napas. Dia membuka mulutnya, tetapi akhirnya hanya berkata, "Ada sedikit masalah di tempat Luna. Aku ... harus pergi sebentar untuk menyelesaikannya. Aku akan segera kembali." James terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Aku tahu kamu berbicara seperti ini karena merasa marah tentang kejadian kemarin. Kamu tenang saja, hal seperti itu nggak akan terjadi lagi." "Beberapa hari lagi adalah hari peringatan kematian ibumu. Aku akan menemanimu berziarah." Bulu mata Camelia yang tadinya tertunduk sedikit bergetar. "Hari peringatan kematian ibuku dan hari ulang tahun Luna jatuh di tanggal yang sama." Camelia tertawa kecil. "Apa kamu nggak pergi menemaninya merayakan ulang tahun?" James jelas tidak menyangka Camelia akan mengungkit hal itu. Wajahnya menegang sejenak. James terdiam beberapa detik sebelum menghindar, lalu menjawab dengan nada kaku, "Apa hubungannya hari ulang tahunnya denganku?" Camelia kembali tertawa. Bagaimana mungkin tidak ada hubungannya? Selama lima tahun pernikahan mereka, James selalu sibuk setiap kali tanggal itu tiba. Tahun pertama dia akan mengatakan ada dinas ke luar kota. Pada tahun kedua dia mengatakan ada rapat mendadak yang harus dihadiri. Pada tahun ketiga dia mengatakan harus menemui klien. Belakangan ini Camelia baru mengetahui bahwa hari kematian ibunya dan ulang tahun Luna jatuh pada hari yang sama. Setiap tahun pada tanggal itu, James akan menempuh penerbangan belasan jam ke luar negeri, berdiri semalaman di depan rumah Luna, lalu meninggalkan hadiah sebelum pergi. Tahun ini Luna sudah kembali. Pria itu bisa melihat sosoknya secara langsung, jadi tentu saja dia akan lebih bersemangat mencurahkan cintanya. "Oh, benarkah?" Camelia menyahut pelan, tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia kembali memejamkan mata, menunjukkan sikap lelah yang sangat mendalam, menolak untuk berkomunikasi lagi. James merasa emosinya tersulut melihat sikap keras kepala istrinya yang seolah tidak bisa ditembus itu. Dia menatap wajah pucat Camelia yang matanya terpejam rapat. Awalnya James ingin mengatakan bahwa dia dan Luna benar-benar tidak memiliki hubungan apa-apa, jangan sampai Camelia salah paham. Namun, kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya. Pada akhirnya, dia hanya berkata, "Istirahatlah, aku akan menjengukmu lagi nanti." Kemudian, James berbalik, bergegas meninggalkan ruang perawatan itu.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.