Bab 12
Louis seperti dulu, menyandarkan kepalanya di lekuk bahu Andien.
Seperti seorang anak tidak berdaya yang mencari kehangatan ibunya.
"Andien."
Desahan bercampur isak yang tertahan terlalu lama menerobos keluar dari tenggorokannya.
Ujung mata Louis memerah.
"Aku kira setelah mengambil alih Grup Waney, setelah kamu nggak punya modal lagi buat melawanku, kamu nggak akan meninggalkanku."
"Bukankah lebih baik terus tinggal di sisiku?"
Dia menggenggam tangan Andien lebih erat.
"Bahkan kalau mati, kamu tetap milikku."
Louis menggendong jasad Andien dengan tangannya sendiri, melangkah satu demi satu kembali ke Kota Samos.
Seluruh tubuhnya telah terbakar hingga menjadi arang, bahkan sidik jari di tangannya pun tidak lagi bisa dikenali.
Meskipun ada orang yang meragukan Andien tidak mungkin mati begitu saja, Louis tetap yakin kalau mayat itu adalah dirinya.
Untuk waktu yang sangat lama, Louis meletakkan jasad itu di atas ranjang, mengurung diri di kamar dan tidak menemui siapa pun.
Semua orang me

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda