Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Andien Waney dan Louis Ginusga adalah pasangan cinta sejati yang terkenal di kalangan mereka. Namun Andien sama sekali tidak menyangka kalau suatu hari dia akan mendapati adik angkatnya sendiri mengandung anak Louis. Neisha Lorenza berlutut di hadapannya, menangis sambil memohon agar Andien merestui dirinya dan Louis. "Kakak, tolong restui keluarga kami bertiga. Kakak sudah punya Grup Waney, sementara aku hanya punya Louis dan anak ini." Andien mengangkat kepala dan menatap Louis dengan tenang. "Nggak ada yang mau kamu katakan?" Sorot mata Louis gelap seperti tinta. Tangan yang menjepit rokok sama sekali tidak bergetar. "Kamu selamanya akan menjadi istriku, sementara dia seumur hidupnya hanya punya anak ini. Untuk apa mempermasalahkan dengannya?" Andien tahu, Louis bersikeras ingin mempertahankan anak itu. Andien tertawa pelan. "Baik." Setelah itu dia berdiri dan langsung kembali ke kamar. Dia dengan lancar mengeluarkan surat perjanjian perceraian yang terselip di bawah buku nikah, lalu melemparkannya ke hadapan Louis. "Anak itu atau surat cerai. Pilih satu." Rokok di tangan Louis membakar ujung jarinya. Lalu segera menekan puntung rokok itu ke atas surat perjanjian cerai. Di bagian tanda tangan langsung terbakar, meninggalkan lubang hitam pekat. "Aku akan membawanya pergi menggugurkan anak itu." "Beberapa hari lagi, Javon akan mengirimkan laporan aborsi ke tanganmu." Neisha mendadak membelalakkan mata. Air mata mengalir deras saat dia menatap Louis dengan wajah kasihan sambil terus menggeleng. "Louis, aku nggak mau ... itu anakmu. Beberapa bulan lagi dia akan lahir. Kenapa kamu setega itu ...." Louis bahkan tidak meliriknya. Dia mengibaskan tangan, menyuruh orang masuk untuk membawanya keluar. "Tunggu." Andien tiba-tiba buka mulut, menghentikan gerakan Javon. "Bawa ke Rumah Sakit Siloma. Pemeriksaan apa pun yang dilakukan, laporkan semuanya padaku secepatnya." Alis Louis sedikit berkerut, tapi segera kembali seperti biasa. Javon melirik Louis, menunggu perintahnya. "Lakukan saja." Nada suara Louis tidak mengandung emosi apa pun. Baru setelah Neisha dibawa masuk ke mobil, tangisan menyayat hati itu menghilang. Louis berdiri, lalu memeluk Andien dengan erat dari belakang. "Kamu nggak percaya padaku?" Jika tidak, dia tidak akan menyuruh menggugurkan kandungan di rumah sakit yang penuh dengan orang-orangnya. Andien menatap wajahnya dan tersenyum dingin tanpa emosi. "Kamu mau aku memercayaimu dengan cara apa?" Lalu dia membalikkan tangan dan menampar wajah Louis. Suara tamparan itu terdengar nyaring. Louis mengerang pelan, kepalanya terlempar ke samping. Dia mengusap darah di sudut bibirnya dengan santai, menekan pipinya dengan lidah, lalu menyodorkan sisi wajah satunya. "Sudah nggak marah?" "Masih ada sisi wajah satunya." Andien tidak mengatakan apa-apa. Dia menarik selembar tisu untuk menyeka tangannya. Louis mencengkeram tangannya dengan kuat. "Telapak tanganmu sampai merah." "Lain kali pakai cambuk saja, jangan sampai melukai tanganmu sendiri." Tanpa memberi kesempatan menolak, dia menarik Andien kembali ke kamar tidur untuk mengoleskan obat. Melihat kegigihan menyimpang di mata pria itu, Andien menutup mata dengan lelah. "Louis, kita cerai saja." Tangan Louis yang sedang mengoleskan obat terhenti sesaat. "Jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Kamu jelas tahu seumur hidup ini aku nggak bisa lepas darimu." "Kecuali aku mati, kalau nggak, aku nggak akan melepaskanmu." Saat Andien membuka mata lagi, bola matanya sudah dipenuhi urat merah. Louis jelas tahu, hal yang paling tidak bisa dia terima adalah pengkhianatan. Sejak kecil dia dibesarkan dengan didikan keras. Satu-satunya orang yang masih dia beri sedikit kelembutan hanyalah adik angkatnya yang tampak lemah lembut itu. Namun sekarang tidak ada lagi. "Kamu mencintainya?" Louis menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Tubuhmu bermasalah dan nggak bisa punya anak. Tapi sekarang aku harus mengokohkan posisiku di Keluarga Ginusga dan yang kurang hanya seorang anak." "Yang lebih penting, anaknya akan sangat mirip denganmu." Dulu, ayah Andien membawa Neisha dari panti asuhan juga karena melihat wajahnya mirip dengan Andien, sehingga timbul rasa iba. Bagi Louis, Neisha adalah pilihan paling tepat untuk melahirkan anak. Louis mengusap alisnya. Suaranya terdengar lelah. "Istirahat yang baik. Besok aku datang lagi." Melihat punggung pria itu menghilang, Andien berbaring di ranjang dan tanpa sadar mengingat masa lalu. Louis adalah anak Keluarga Ginusga yang terlantar di luar. Saat berusia tujuh tahun, dia dikejar musuh dan hidup terlantar di luar, lalu dipungut Andien untuk dijadikan pengawal kecil. Saat dia berusia dua puluh tahun, Keluarga Ginusga menemukannya kembali dan keduanya pun menikah begitu saja. Louis pernah berkata, Andien telah menyelamatkan nyawanya, maka hidupnya selanjutnya adalah milik Andien. Hidup dan mati bersama, tidak pernah ada kata cerai. Jika ingin bercerai, kecuali dipisahkan kematian. Hingga tahun kelima pernikahan, Neisha tiba-tiba mendatangi Andien dan mengatakan kalau dia mengandung anak Louis. Barulah Andien menyadari kalau pernikahan yang dia kira kokoh tak tergoyahkan itu, sebenarnya sudah penuh luka. Tiba-tiba, nada dering ponsel berbunyi, memutus alur pikirannya. Itu pesan dari sekretarisnya. [Bu Andien, tanggal keberangkatan ke laut untuk ritual doa sudah ditetapkan. Waktunya dua bulan lagi.] Keluarga Waney sejak dulu membangun usaha lewat perdagangan laut dan membangun sebuah kuil kecil di sebuah pulau kecil. Lambat laun, hal itu berkembang menjadi aturan keluarga. Setiap sepuluh tahun sekali, harus ada seorang wanita lajang yang dikirim ke pulau untuk berdoa. Keluarga Waney memilih Neisha untuk pergi berdoa. Andien menyipitkan mata, duduk tegak, lalu menyalakan sebatang rokok slim. Dia membalas pesan. [Majukan keberangkatan satu bulan.] [Siapkan semuanya. Sebulan lagi aku nggak mau melihat wajah Neisha lagi.] Sudah waktunya dimasukkan ke dalam agenda. Begitulah gaya Andien selama ini. Jika ingin bertindak, harus secepat mungkin. Neisha harus tahu, tidak semua milik orang lain bisa disentuh sembarangan.
Bab Sebelumnya
1/20Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.