Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 2

Andien sendiri yang menetapkan tanggal keberangkatan ke laut. Meski kabarnya Neisha pingsan karena menangis setelah mendengar berita itu, hal tersebut tidak mengubah fakta kalau hari itu adalah hari baik. Andien mengeluarkan jimat keselamatan yang dulu pernah dia doakan khusus untuk Louis. Lalu setelah sekian lama kembali mengunjungi Kuil Persik di pinggiran kota. Di dalam kuil, asap dupa mengepul. Andien masuk, berlutut di depan patung Buddha dan bersujud tiga kali dengan khusyuk. Namun tiga kali sujud ini tidak lagi ada hubungannya dengan Louis. "Nona Andien, Anda datang untuk mendoakan perjalanan ke laut itu?" Kepala biksu berjalan keluar, memperlihatkan senyum yang ramah dan penuh kebajikan. Andien tersenyum, tidak mengatakan apa-apa. Dia memang berdoa untuk Neisha yang akan berangkat ke laut. Hanya saja, dia berdoa agar Neisha mati lebih cepat. "Kuil baru membangun tungku api. Barang-barang yang kotor dibuang ke dalamnya untuk dibakar, agar bisa tetap aman dan tenteram." Andien mengangguk pelan. Tiba-tiba angin musim gugur berembus, membuat orang merasa dingin sampai menggigil. Andien menunduk, melirik jam Patek Philippe di pergelangan tangannya, menatap jarum detik yang perlahan meloncat tepat ke angka dua belas. Waktunya tiba. Tiba-tiba seseorang menyampirkan mantel panjang hitam di bahunya. "Bu Andien, hasil pemeriksaan kehamilan sudah dikirim." Dia mengulurkan tangan dengan tenang, menerima lembaran itu dan membaliknya satu per satu. Perkiraan usia kehamilan sekitar 12 minggu 2 hari. Artinya, tiga bulan lalu, pada malam ketika dia berhasil mendapatkan kontrak besar di Burlin lalu terbang pulang malam itu juga, suami baiknya masih bergumul di ranjang dengan adik baiknya. Sisa isinya sama sekali tidak Andien lihat. Dia langsung melemparkannya bersama jimat keselamatan ke dalam tungku api. "Kenapa Anda nggak melihat soal keguguran Neisha?" Sekretarisnya tampak sedikit penasaran. "Katanya setelah Neisha tahu dirinya terpilih sebagai orang yang harus berangkat ke laut, dia jadi depresi. Kondisinya memang sudah cenderung mudah keguguran. Tapi setelah Louis tahu, dia tetap memaksa orang untuk menggugurkan anaknya." "Dia bahkan mengirimkan ... plasentanya kemari." "Kamu melihat Neisha secara langsung?" Andien mengangkat pandangannya, menatap sekretaris yang wajahnya penuh keterkejutan dengan sorot mata datar. Dia tahu, Louis sama sekali tidak menggugurkan anak itu. Setelah bertahun-tahun menjadi suami istri, mereka saling memahami titik sakit masing-masing, juga tahu betul akting seperti apa yang bisa menipu satu sama lain. Kalau anak itu benar-benar digugurkan, maka orang yang akan membicarakan hal itu hari ini seharusnya Louis. Bukan sekretarisnya. Louis tidak akan pernah melewatkan satu pun kesempatan untuk pamer jasa. Louis juga tahu, sekali berbohong, kebohongannya akan langsung terbongkar. "Sekarang Neisha ada di mana?" Andien merapatkan mantelnya. Mungkin karena hatinya sudah dingin, dia merasa hari ini lebih dingin dari biasanya. "Di vila Ocena atas nama Louis." Itu adalah rumah mewah yang secara khusus disiapkan Louis untuk Neisha, seharga satu triliun. "Kirim orang untuk mengawasi. Begitu keluar, langsung bertindak." "Kebetulan, dewa yang dipuja di laut paling nggak menyukai pria dan wanita yang masih suci." Nada suara Andien datar. Dia menepis abu yang menempel di bajunya, lalu langsung masuk ke dalam mobil. Saat dia pulang ke rumah, barulah dia menyadari ada seseorang di ruang tamu. Louis duduk di sofa dengan kaki disilangkan, jelas sedang dalam suasana hati yang buruk. Andien duduk di sampingnya dengan alami, lalu menuangkan segelas alkohol untuk masing-masing. "Aku butuh penjelasan." Suara Louis terdengar lelah. Andien meneguk vodka, tidak bersuara. Bukan karena takut, melainkan karena dia sudah melakukan terlalu banyak hal sampai benar-benar tidak tahu hal mana yang dimaksud Louis. "Orang-orang yang mengawasi akan aku tarik, asal kamu menandatangani surat cerai." "Kalau begitu, aku lebih memilih kamu sendiri yang menggugurkan anak itu." Louis mengangkat mata, menatap wajahnya dengan tajam, seperti seekor ular piton yang sudah menangkap mangsanya. "Setelah anak itu digugurkan, ganti orang yang akan berangkat ke laut." "Kenapa kamu nggak bisa sedikit berbelas kasih, harus perhitungan dengan gadis kecil seperti itu, sampai merusak urusan doa?" Andien tiba-tiba merasa pernikahannya begitu menyedihkan. Lima tahun pernikahan, berakhir dengan saling menuntut seperti di ruang sidang. "Membiarkan dia mempertahankan anak itu sampai tiga bulan sudah merupakan belas kasih terbesarku." Tatapan Louis meredup. Dia mengulurkan tangan, hendak memeluknya. Namun Andien mendorongnya menjauh dengan satu tangan. "Louis, malam tiga bulan lalu itu, di suite presiden Seahiton, delapan kondom." "Semuanya membuatku merasa sangat jijik." Andien berdiri, berjalan masuk ke kamar tanpa menoleh lagi dan membanting pintu. Suara keras terdengar, dua dunia pun terpisah. Setelah Andien selesai membersihkan diri dan keluar, dia melihat Neisha mengirim dua pesan padanya. Satu foto, memperlihatkan perut hamilnya yang belum terlalu jelas. Serta satu kalimat. [Kakak, besok sore kita bertemu ya, di kafe dekat Grup Ginusga.] Andien tiba-tiba tertawa. Di balik tatapan dinginnya, terselip sedikit rasa meremehkan. Dia bergumam pelan. "Louis, seleramu benar-benar buruk." "Kalau kamu mencari orang yang punya otak, mungkin aku masih akan sedikit menghargaimu." "Tapi kamu justru memilih barang bodoh seperti ini."

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.