Bab 23
Hari itu, Haris berlutut di depan rumah Keluarga Siswanto selama empat jam.
Baik Pak Benny maupun Bu Karen tidak juga melunak.
Wendy bahkan tidak menampakkan diri sama sekali.
Hingga larut malam, barulah Haris kembali ke hotel dengan keadaan mengenaskan.
Dia seperti penjudi yang kehilangan segalanya. Dengan gila, dia membeli banyak alkohol dan mabuk berat di hotel.
Saat Bu Tania datang, yang dia lihat adalah Haris yang hampir tidak sadarkan diri.
Dengan marah, dia menamparnya.
"Lihat dirimu sekarang, seperti apa rupanya?"
Haris tidak melawan meski dipukul. Dia hanya menundukkan kepala dengan lesu, dan mentertawakan dirinya sendiri. "Bu, ini pantas aku terima, 'kan?"
Bu Tania merasa sakit hati sekaligus marah.
"Waktu Wendy bersamamu, kamu nggak menghargainya."
"Sekarang dia sudah punya kehidupannya sendiri, kamu malah bertingkah seperti ini. Kamu kira dengan begini dia akan kembali?"
Mendengar kata-kata itu, Haris justru makin tersiksa, dan dengan lesu menatap cincin di tangannya.
Dia b

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda