Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4

Keesokan harinya, Wendy datang ke taman kanak-kanak untuk mengurus prosedur pengunduran diri Nina. Guru TK itu sangat terkejut. "Kenapa tiba-tiba mau berhenti sekolah?" Wendy menjelaskan, "Kakek dan nenek Nina semuanya tinggal di luar negeri. Saya berencana membawa dia imigrasi." Begitu kata-katanya selesai, sosok Haris muncul di belakang. Wajahnya muram. "Imigrasi apa?" Guru itu hendak berbicara, tetapi Wendy menyela, "Aku bilang kakek dan nenek Nina sudah menetap di luar negeri. Kalau ada waktu, aku ingin mengajak Nina menjenguk kedua orang tuaku." Haris entah kenapa menghela napas lega. Dia meletakkan berkas di tangannya ke atas meja. "Ini berkas pendaftaran masuk sekolah Cynthia." Guru itu tersenyum sambil menerimanya, lalu memuji Haris tanpa henti. "Pak Haris benar-benar teliti. Walaupun Cynthia bukan anak kandung Anda, tapi Anda mengurus segalanya sendiri, bahkan lebih perhatian daripada ayah kandung." Di telinga Wendy, kalimat itu terdengar membuatnya terasa seperti tertusuk jarum. Haris tidak pernah melakukan apa pun untuk Nina. Kalau bukan karena kebetulan bertemu dengan anak Lisa, mungkin dia bahkan tidak tahu Nina bersekolah di taman kanak-kanak mana. Wendy tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Benar sekali, Pak Haris memang seorang ayah yang baik." Tiga kata "ayah yang baik" itu diucapkan Wendy dengan tekanan yang berat. Ekspresi Haris tertegun sejenak. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak marah, hanya berdiri terdiam di tempat. Sore harinya, Wendy pergi ke museum seni. Ada beberapa lukisan miliknya yang dipamerkan di museum, dan akhir-akhir ini dia ingin menariknya kembali. Begitu masuk, dia langsung melihat sosok Haris dan Lisa. Keduanya berdiri berdampingan, Lisa tersenyum anggun dan percaya diri. Di samping mereka ada beberapa teman Haris dari kalangan profesional. "Aku sudah lama dengar Pak Haris menikah diam-diam, sepertinya ini istrinya, ya?" "Benar-benar pasangan yang serasi, sungguh cocok. Nggak heran Pak Haris menyembunyikannya begitu lama, ternyata menyimpan wanita cantik di rumah." Mendengar ucapan itu, Haris tersenyum sambil menggenggam erat tangan Lisa. Tidak ada sedikit pun niat untuk menjelaskan. Wendy berdiri di belakang, tersenyum getir mengejek dirinya sendiri. Orang yang sejak awal ingin dinikahi Haris hanyalah Lisa. Kini Haris membiarkan kata-kata itu, membawa Lisa tampil di berbagai acara publik, dan bisa dianggap mewujudkan impian pria itu. Lalu, dirinya ini apa? Sepuluh tahun yang telah berlalu itu dianggap apa? Hatinya yang telah membeku kembali terasa nyeri. Wendy berkata dengan mata memerah, "Haris." Tatapan dingin Haris menyapu ke arahnya, sarat dengan makna peringatan. "Ada perlu?" Nada yang dingin dan berjarak itu jelas sedang menarik garis batas. Kata-kata yang belum sempat diucapkan Wendy pun tertelan kembali. Dia sebenarnya ingin mengingatkan Haris bahwa besok adalah ulang tahun Nina, memintanya agar pria itu ingat untuk pulang. Namun sekarang, tampaknya tidak perlu lagi. Pandangan Lisa jatuh pada Wendy, lalu tiba-tiba bertanya, "Haris, kalian saling kenal?" Haris dengan cepat membantah, "Nggak dekat." Dua kata yang diucapkan ringan itu, terasa seperti jarum menusuk hati Wendy. Wendy menelan kepahitan di dalam hatinya, lalu mendengar Lisa berkata, "Kamu teman Haris, ya? Kami akan segera menikah. Nanti kami akan mengundangmu ke pernikahan." Mendengar itu, Wendy menatap Haris dengan tidak percaya. Tatapan Haris mengelak, lalu memalingkan pandangan. Namun, Lisa seolah-olah sengaja melanjutkan, "Dulu saat aku pergi ke luar negeri, aku dan Haris punya janji sepuluh tahun. Sepuluh tahun kemudian, kalau aku kembali ke tanah air, Haris akan menikahiku." "Awalnya, aku kira itu hanya janji sembarangan. Nggak disangka Haris benar-benar menungguku sepuluh tahun." "Karena itu aku datang untuk menepati janji tersebut."

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.