Bab 5
Wendy merasa jantungnya seolah-olah diremas dengan keras, hingga sulit bernapas.
Ternyata, selama sepuluh tahun dia berada di sisi Haris ...
Dia tidak mampu mencairkan sebongkah es ini, bukan karena dia kurang berusaha.
Melainkan karena sejak awal Haris selalu menunggu Lisa.
Maka apa pun yang dilakukan Wendy tidak akan pernah berguna, karena di hati Haris hanya ada Lisa seorang.
Memikirkan hal itu, Wendy tersenyum mengejek diri sendiri, suaranya tercekat, "Kalau begitu, aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia sampai tua."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Wendy berbalik dan pergi.
Haris menatap punggungnya, tiba-tiba merasakan sesak di dada, terdiam lama dalam lamunannya.
Hingga dia ditarik oleh Lisa.
"Haris, kamu memikirkan apa?"
Haris tersadar kembali, tetapi masih tampak agak melamun. "Nggak apa-apa, hanya tiba-tiba teringat ada urusan di perusahaan. Aku pulang dulu."
Setelah berkata demikian, tanpa memedulikan pendapat Lisa, Haris langsung pergi.
Malam hari, Wendy pulang ke rumah dan mulai menyiapkan makan malam untuk Nina.
Nina dengan patuh duduk di ruang tamu sambil menggambar.
Tiba-tiba pintu berbunyi. Wendy mengira pembantu yang kembali, tetapi dia justru mendengar seruan gembira Nina.
"Om!"
Nina begitu gembira. "Om pulang!"
Wendy tidak menyangka Haris akan kembali.
Sejak Lisa kembali ke tanah air, Haris jarang pulang ke rumah ini.
Kali ini, pria itu bahkan pulang tepat saat jam makan malam.
Senyum di wajah Nina tidak dapat disembunyikan. Dengan bersemangat, anak itu berlari mendekat, ingin menyentuh Haris, tetapi tidak berani, lalu berdiri dengan hati-hati di samping.
Melihat Nina seperti itu, perasaan Haris menjadi agak rumit.
Dia mengeluarkan sebuah boneka dari belakang punggungnya dan menyerahkannya kepada Nina. "Ini untukmu."
Nina menatapnya dengan tidak percaya.
Setelah beberapa saat, dengan hati-hati, Nina bertanya, "Benar ini untukku?"
Haris mengangguk.
Boneka di tangannya itu persis sama dengan boneka kelinci yang sebelumnya rusak.
Haris sangat jarang memperlihatkan ekspresi lembut, lalu berkata kepada Nina, "Sebelumnya Cynthia nggak sengaja merusak mainanmu. Anggap saja ini permintaan maaf darinya."
Nina tertegun sejenak, tidak sepenuhnya mengerti maksud Haris.
Detik berikutnya, Haris berkata kepadanya, "Beberapa hari lagi ada lomba menggambar. Kamu mengalah saja dan kasih kesempatan itu kepada Cynthia, ya?"
Senyum di wajah Nina langsung membeku.
Anak itu menatap boneka di tangannya, lalu mengerti bahwa Haris sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin memberinya hadiah.
Haris datang demi Cynthia.
Matanya seketika memerah, Nina menundukkan kepala.
Haris melanjutkan, "Cynthia baru kembali dari luar negeri, belum mengenal tempat ini. Kita harus menjaganya. Itu hanya lomba kecil saja. Lain kali kamu bisa ikut lagi."
Nina menggigit bibirnya kuat-kuat, tidak berkata apa pun, tetapi air mata jatuh satu per satu.
Boneka kelinci di tangannya kini terasa seberat ribuan kilogram.
Hampir menangis, Nina bertanya, "Om kasih aku hadiah hanya supaya aku mundur dari lomba?"
Haris mengerutkan kening, nadanya agak tidak senang.
"Itu bukan lomba besar. Memangnya kenapa kalau kamu mengalah sedikit pada murid baru?"
"Aku nggak ingat pernah mengajarkan kamu untuk sekikir ini."
Wendy tidak sanggup lagi mendengarnya, lalu berjalan mendekat dan memeluk Nina.
Boneka kelinci di tangannya terjatuh. Nina tidak memungutnya, hanya membenamkan wajah di bahu Wendy sambil terisak.
Wendy membawa Nina kembali ke kamar, lalu mengembalikan boneka kelinci itu kepada Haris.
"Nggak perlu melakukan hal-hal seperti ini. Lomba kali ini Nina nggak akan ikut."
Haris tampak agak terkejut.
"Kamu setuju?"
Dia mengira Wendy akan membela Nina.
Tidak disangka, dia setuju dengan begitu cepat.
Wendy hanya berkata, "Memang sejak awal Nina nggak berencana ikut."
Karena sebentar lagi, dia akan membawa Nina pergi.
"Haris, kamu hanya punya satu kesempatan terakhir," kata Wendy dalam hati.