Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Melihat mata Wendy yang memerah, entah kenapa hati Haris menjadi gelisah. Dia memungut boneka kelinci dari lantai dan meletakkannya di meja belajar Nina, lalu berkata kepada Wendy, "Soal ini aku memang berutang pada Nina. Ke depannya, apa pun permintaan Nina, silakan ajukan." Hati Wendy bergetar. Dia sudah lama menyerah pada Haris, tetapi sebagai seorang ibu ... Wendy tetap ingin anaknya menjalani ulang tahun yang bahagia. Dia memanggil Haris, "Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, besok temani Nina dengan baik seharian. Kamu tahu dia selalu ingin dekat denganmu." Langkah Haris yang sudah sampai di pintu pun terhenti. Pada akhirnya, pria itu menyetujuinya. "Baik." Wendy mengembuskan napas lega. Setidaknya, setidaknya Nina bisa bahagia sebentar. Keesokan harinya, Nina bangun pagi-pagi. Wajahnya penuh harap saat dia menunggu di ruang tamu. "Kapan Om menemaniku ke taman bermain?" Anak kecil memang sangat mudah dihibur. Cukup sekali pergi ke taman bermain, semua ketidakbahagiaan masa lalu bisa terlupakan. Namun, hingga tengah hari, sosok Haris tidak juga terlihat. Telepon Wendy berkali-kali tidak ada yang tersambung. Harapan di wajah Nina perlahan berubah menjadi kekecewaan, kesedihan, lalu akhirnya muncul senyum yang dibuat-buat agar tampak tegar. "Nggak apa-apa, aku pergi dengan Mama juga boleh." Melihatnya seperti itu, hati Wendy terasa hancur. Dia sudah memutuskan, sekalipun Haris tidak datang, dia tetap akan membuat Nina bermain seharian dengan gembira. Namun, baru saja tiba di taman bermain, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang. "Cynthia lebih suka gulali rasa jeruk atau rasa apel?" Gerakan Wendy membeku. Dia berbalik dengan tidak percaya. Dia melihat Haris dengan wajah penuh kasih menggendong Cynthia, berdiri di depan kios gulali sambil menanyakan kesukaannya. Melihat pemandangan itu, mata Nina langsung memerah, bibirnya digigit dengan kuat. Mata Wendy pun membelalak tidak percaya. Saat berbalik, Haris melihat mereka, wajahnya langsung berubah. Dia menyerahkan Cynthia kepada pengasuh, lalu melangkah cepat ke hadapan Wendy dan menyeretnya ke samping sambil membentak, "Kamu ngapain di sini?" Nadanya dingin dan suaranya terdengar muak, seolah-olah Wendy adalah orang yang sangat ingin dia hindari. Wendy menahan air mata dan bertanya padanya, "Kamu masih ingat hari apa ini?" Alis Haris berkerut rapat, merasa Wendy sedang mengada-ada. Jelas-jelas dia sudah memperingatkan Wendy agar tidak membawa Nina muncul di hadapan Lisa, tetapi Wendy justru sengaja datang menghalanginya di sini. "Aku nggak peduli hari apa sekarang. Pokoknya segera pergi!" Sambil berkata demikian, Haris mencengkeram Wendy dan menyeretnya ke arah pintu. Di tengah tarik-menarik, suara Lisa tiba-tiba terdengar. "Haris?" Haris tertegun, cepat-cepat melepaskan tangan Wendy, menatapnya dengan peringatan, barulah berbalik dengan sikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lisa menggandeng tangan Cynthia dan berjalan mendekat. Saat melihat Wendy, ada kilatan makna mendalam di matanya. "Bukannya ini Mama Nina? Kebetulan sekali, kenapa bisa bertemu di sini, kamu juga mengajak anak untuk bermain?" Haris melotot memperingatkan Wendy, seolah-olah mengatakan bahwa jika dia berani mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya, dia pasti tidak akan dibiarkan begitu saja. Wendy tersenyum pahit, menoleh ke arah Haris. "Iya, hari ini ulang tahun anakku." Begitu kata-kata itu jatuh, tubuh Haris tiba-tiba menegang. Baru saat itu pria itu teringat bahwa dia memang pernah berjanji akan menemani Nina merayakan ulang tahunnya. Jadi, Wendy hari ini bukan sengaja datang untuk membuat keributan, melainkan benar-benar mengajak anaknya merayakan ulang tahun? Sorot mata Haris tampak agak canggung. Dia menunduk melirik Nina. Saat melihat mata Nina yang memerah dan tubuhnya yang gemetar, jantungnya seolah-olah dipukul keras oleh sesuatu. Kilatan puas melintas di mata Lisa. Dia merangkul lengan Haris dengan mesra. "Wah, benar-benar kebetulan. Cynthia juga ulang tahun hari ini. Haris bahkan memesan seluruh aula jamuan hanya untuk merayakannya." Mendengar itu, Wendy tersenyum mengejek diri sendiri. Ternyata alasan Haris mengingkari janji adalah demi merayakan ulang tahun Cynthia. Di dalam hatinya, Nina ternyata sama sekali tidak berarti. Karena sudah sampai pada titik ini, tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Wendy pun mengajak Nina pergi. Namun pada saat itu, Lisa justru mengusulkan, "Nina dan Cynthia 'kan teman sekelas, dan hari ini kebetulan bertemu. Gimana kalau kita merayakan ulang tahun bareng saja?"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.