Bab 7
Lisa tersenyum lembut dan tak berbahaya, namun di matanya jelas terpancar provokasi.
Wendy menolak dengan berkata, "Nggak perlu, kami masih ada rencana lain."
Lisa mengentakkan kaki dengan ringan, lalu dengan wajah agak terluka bertanya, "Apa karena kejadian Nina dan Cynthia sebelumnya bikin kamu nggak nyaman? Sebenarnya soal itu lebih banyak kesalahan Cynthia. Aku mewakilinya meminta maaf padamu. Nggak perlu sampai mempermasalahkan hal itu dengan anak kecil, 'kan?"
Setelah berkata demikian, dia kembali menoleh ke arah Haris, suaranya penuh rasa bersalah.
"Semuanya salahku, aku pulang ke tanah air terlalu mendadak. Cynthia belum terbiasa, jadi sempat bertengkar dengan teman sekelas."
Haris segera memeluknya dengan penuh rasa sayang, membujuk dengan suara lembut.
Saat menoleh ke arah Wendy, sorot matanya berubah sedingin es. "Karena ulang tahunnya di hari yang sama, apa masalahnya dirayakan bersama?"
Wendy ingin mengatakan bagaimana mungkin sama, tetapi lengan bajunya ditarik oleh Nina.
Dengan mata memerah, Nina berkata pelan kepadanya, "Nggak apa-apa."
Dia juga ingin melihat, seperti apa sebenarnya anak yang disukai ayahnya.
Anak berusia lima tahun belum mampu memahami apa itu pilih kasih. Dia hanya mengira dirinya belum cukup baik. Itulah sebabnya dia tidak dicintai ayahnya.
Saat tiba di aula jamuan, tempat itu ditata bak kastel dongeng.
Cynthia berjalan di depan dengan bangga, menikmati segala pujian, sementara Nina hanya berdiri diam dengan mata memerah, menatap sekeliling. Hatinya terasa sangat perih.
Lisa tiba-tiba mendekati Wendy dan berbisik di telinganya, "Aku tahu hubunganmu dengan Haris."
Gerakan Wendy terhenti.
Sebenarnya, Wendy tidak terlalu terkejut. Sejak pertama kali bertemu Lisa di taman kanak-kanak, dia sudah menduga bahwa wanita itu mengetahui identitasnya.
Reaksi barusan makin meneguhkan dugaan Wendy.
Hanya saja Wendy tidak mengerti tujuannya. "Apa yang ingin kamu katakan?"
Lisa tersenyum sambil menggoyangkan gelas di tangannya, nadanya penuh ejekan. "Aku cuma mau lihat, wanita yang bisa menggantikan aku menemani Haris selama sepuluh tahun itu sebenarnya sehebat apa. Sekarang tampaknya biasa-biasa saja. Haris sama sekali nggak menaruh hati padamu."
Kata-kata Lisa menusuk hati Wendy seperti jarum.
Dia tersenyum mengejek diri sendiri, "Benar, di hati Haris aku bukan apa-apa."
Karena itu, dia tidak ingin lagi bersaing.
Setelah hari ini, dia akan pergi bersama Nina.
Tatapan Lisa penuh kepuasan. Tiba-tiba, dia melambaikan tangan ke arah Haris. "Haris, sepertinya musik pengiring dansa ada sedikit masalah. Kudengar Nona Wendy bisa bermain piano, bagaimana kalau Nona Wendy yang mengiringi kami?"
Begitu kata-kata itu terlontar, Wendy menatapnya dengan tidak percaya.
Mereka berdua akan berdansa, dan dirinya yang harus mengiringi?
Kilatan puas melintas di mata Lisa, lalu pandangannya beralih ke Haris.
Haris tidak berkata apa-apa, jelas merupakan persetujuan diam-diam.
Wendy tidak ingin melihat kemesraan kedua orang itu dan hendak menolak.
Namun, Lisa tiba-tiba berkata, "Kalau Nona Wendy nggak mau bermain, biarlah Nina saja. Kudengar permainan pianonya juga sangat indah."
Hati Wendy seolah-olah diremas dengan keras.
Haris pun berkata, "Hanya bermain piano saja. Hal sekecil ini pun Nina bisa melakukannya, kenapa kamu nggak bisa?"
Wendy menatapnya dan menampilkan senyum getir yang indah.
"Baiklah."
Dia tidak mungkin membiarkan Nina menghadapi semua ini.
Dia tidak bisa membiarkan Nina menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ayahnya begitu dekat dengan orang lain.
Karena itu, dia lebih memilih melakukannya sendiri.
Dia berjalan turun ke lantai bawah, dan membuka piano yang berada di sudut ruangan.
Lisa menatap dengan penuh kepuasan, berdiri di samping Haris dengan senyum merekah. "Nona Wendy, mainkan apa saja."
"Kami nggak pilih-pilih, apa pun nggak masalah."
Sambil berkata demikian, Lisa mengulurkan tangan dan bersandar secara alami pada tubuh Haris.
Hati Wendy telah lama mati rasa oleh rasa sakit.
Dia menatap pemandangan di hadapannya dan menarik sudut bibirnya.
"Kalau begitu mesra, maka akan kuhadiahkan untuk mereka lagu 'Pernikahan dalam Mimpi'," pikir Wendy.
Tangannya jatuh ke atas tuts piano, alunan musik pun terdengar.
Namun, gerakan Haris tiba-tiba membeku.