Bab 12
Tanpa sadar, Pandu ingin merobek surat cerai di tangannya.
Namun, sedetik kemudian dia tersadar bahwa mungkin ini adalah satu-satunya peninggalan terakhir yang wanita itu tinggalkan untuknya.
Jika dia merobeknya, kenangan terakhir yang bisa dia dekap pun akan sirna.
Ujung jemari Pandu mengelus goresan nama Anita di atas kertas itu. Matanya menyiratkan kerinduan yang amat dalam.
"Anita, semua ini salahku. Seharusnya aku nggak bersama wanita lain. Aku hanya mencintaimu!"
"Kamu boleh memukulku, kamu boleh memakiku, kamu boleh melakukan apa saja sesukamu. Tapi tolong jangan tinggalkan aku."
"Aku nggak bisa hidup tanpamu, Anita ...."
Pandu mengatakan permohonan maaf itu berulang kali hingga suaranya serak.
Namun, orang yang seharusnya mendengar kata-kata itu sudah tidak ada lagi di hadapannya.
Tak peduli sebanyak apa pun dia berbicara, semuanya sia-sia.
"Anita, aku belum menandatanganinya. Kita belum resmi bercerai. Kita masih suami istri. Aku pasti akan menemukanmu!"
Pandu mengatakan ini d

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda