Bab 13
Tak lama kemudian, sebuah foto tempat tidur yang berantakan muncul di hadapan Pandu.
Amarahnya meledak hingga matanya memerah, seolah hampir keluar dari rongganya.
"Ternyata ... ternyata kamu!"
Suara Pandu terdengar sangat dingin dan tajam. Aura yang terpancar dari tubuhnya seolah mampu mencekik siapa pun.
Dengan tangan gemetar karena amarah, dia mengetikkan serangkaian kata.
[Julia, aku ingat kalau aku sudah memperingatkanmu untuk nggak membiarkan Anita mengetahui tentang hubungan kita!]
Setelah pesan itu terkirim, Julia membacanya sambil tertawa meremehkan. Kemudian, dia menelepon dengan nada menantang.
"Anita, sejak kapan kamu belajar meniru nada bicara Pandu? Lumayan juga, terdengar sedikit mirip."
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah lama menyingkir dari posisi istri Pandu. Aku sudah mengandung anak Pandu. Mungkin sebentar lagi dia akan melamarku!"
"Saat waktunya tiba, kamu yang akan diusir tanpa hormat. Kalau nggak ingin berakhir menyedihkan, lebih baik serahkan saja posisi seba

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda