Bab 2
Saat terbangun di pagi hari, Pandu memberikan kecupan selamat pagi di dahi Anita seperti biasanya.
"Anita, kemarin aku melewatkan perayaan ulang tahun pernikahan kita. Bagaimana kalau hari ini aku menebusnya?" tanya Pandu.
"Ayo kita ke taman hiburan. Bukankah dulu kamu pernah mengatakan sangat ingin ke sana?" lanjut pria itu.
Anita tidak tertarik sama sekali. Namun, ketika dia hendak menolak, Pandu sudah sibuk menyiapkan segala keperluan untuk dibawa, bahkan pakaian yang akan dikenakan Anita pun sudah dia pilihkan.
Setibanya di taman hiburan, perhatian Pandu benar-benar tercurah padanya.
Sebelum Anita sempat membasahi bibirnya yang kering, Pandu sudah menyodorkan botol minum ke mulutnya dengan sigap.
Hanya karena Anita menatap sebuah boneka sedikit lebih lama, pria itu langsung membelikannya saat itu juga.
Komidi putar, mobil tubruk, bianglala ....
Pandu sama sekali tidak peduli betapa kekanak-kanakannya wahana tersebut. Selama Anita menyukainya, dia akan menemani wanita itu bermain.
Tangan Pandu terus menggenggam tangan Anita tanpa melepaskannya sedetik pun. Bahkan ketika Anita mencoba meronta pelan untuk melepaskan diri, Pandu justru mempererat genggamannya.
Pria itu bahkan membeli sebuah balon dan mengikatnya di tas Anita sambil tersenyum lebar. "Anita, dengan begini kamu nggak akan pernah tersesat lagi."
Tidak akan pernah tersesat?
Namun, tempat yang akan Anita tuju kali ini adalah tempat yang tidak akan pernah bisa ditemukan oleh Pandu.
Anita berpikir, 'Pandu, kamu sudah lama kehilangan aku.'
Paras keduanya yang rupawan dan kemesraan yang mereka tunjukkan mengundang perhatian banyak pengunjung taman hiburan. Tidak butuh waktu lama bagi orang-orang untuk mengenali mereka.
"Lihat! Bukankah itu Pak Pandu dan Bu Anita? Wah, kita bertemu dengan mereka di dunia nyata! Mereka manis sekali!"
Gadis muda yang sedang bersama pacarnya itu tampak histeris. Gadis itu melompat kegirangan, lalu menarik kekasihnya untuk menghampiri Anita.
"Uh ... bolehkah kami berfoto bersama kalian? Kami sangat menyukai kalian berdua! Kami penggemar berat kalian!" ujar gadis itu.
Ketika melihat ekspresi penuh harap gadis itu, Anita tidak tega mengecewakannya, jadi dia mengangguk setuju.
Pandu sebenarnya tidak suka difoto, tetapi dia rela berkompromi demi Anita.
Sesi foto singkat itu pun berakhir. Sepasang kekasih itu berujar penuh syukur, "Hubungan kalian sangat harmonis, benar-benar membuat orang lain merasa iri! Semoga kalian bahagia selamanya!"
Pandu tersenyum simpul sambil mengangguk.
Dia tidak menyadari bahwa Anita yang berdiri di sampingnya tidak mengatakan apa pun sejak awal hingga akhir. Karena hanya Anita yang tahu bahwa bagi mereka, tidak akan ada lagi kata selamanya.
Saat istirahat makan siang, Pandu berulang kali melirik ponselnya.
Ketika menyadari tatapan Anita, dia segera membujuknya dengan nada penuh sesal, "Anita, maafkan aku. Ada pekerjaan mendesak yang harus aku selesaikan sekarang. Kamu makan duluan saja, nanti aku akan menemanimu lagi, oke?"
Namun, di detik berikutnya sebuah ikon hadiah melintas cepat di layar ponsel pria itu.
Pandu berbohong. Dia tidak sedang mengurus pekerjaan, melainkan sedang menonton siaran langsung.
Anita menarik sudut bibirnya membentuk senyuman mengejek. Kemudian, dia diam-diam membuka aplikasi di ponselnya sendiri, lalu masuk ke ruang siaran langsung milik Julia.
Julia hanyalah seorang selebgram kecil yang tidak begitu dikenal. Namun, belum lama ini Pandu mengontraknya ke perusahaan, menjadikannya ikon dari koleksi Antaji.
Semua orang berspekulasi. Bagaimana mungkin seorang pemula seperti Julia bisa mendapatkan sumber daya sehebat itu? Apakah ada sosok kuat di belakangnya?
Mereka tidak tahu bahwa sosok kuat itu adalah Pandu.
Saat ini, Julia sedang melakukan siaran langsung tepat di depan gerbang utama taman hiburan. Dia mengangkat ponselnya dengan bangga, lalu memamerkan kepada para penonton.
"Semuanya, lihatlah! Taman hiburan ini adalah hadiah dari kekasihku. Sebutkan namaku kalau kalian datang ke sini, maka kalian akan mendapatkan diskon khusus. Selamat bermain!"
Ketika mendengar itu, tangan Anita yang memegang ponsel seketika membeku. Rasa dingin merayap di ujung jemarinya.
Taman hiburan tempat Pandu membawanya hari ini ... ternyata adalah pemberian pria itu untuk Julia?
Kolom komentar dipenuhi dengan hujatan dan keraguan.
[Jangan membual! Kamu hanya selebgram kecil, bagaimana mungkin kamu memiliki pacar sekaya itu?]
[Kamu hanya mencari perhatian! Tanpa bukti, aku pun bisa mengatakan kalau taman hiburan ini milikku.]
[Kamu sudah gila karena ingin viral, ya? Apa kamu nggak tahu kalau taman hiburan ini harganya triliunan?]
...
Julia menggigit bibirnya, tampak terluka. "Aku nggak berbohong! Lihat, bukankah ini namaku?"
Wanita itu mengeluarkan sertifikat kepemilikan dari dalam tasnya. Di atas kertas putih itu, jelas tertulis nama Julia.
Dalam sekejap, ruang siaran langsung itu menjadi gempar. Komentar membanjiri dengan cepat, lalu semua orang mulai memujanya.
[Aku yang kurang berwawasan. Ternyata hari ini aku melihat orang penting yang sebenarnya.]
[Langsung memberikan hadiah taman hiburan! Kemurahan hati dalam memanjakan kekasih ini hampir setara dengan Pak Pandu yang sangat memuja istrinya!]
[Benar kata orang, di mana uang pria berada, di sana pula hatinya berada. Kenapa aku nggak pernah bertemu pria sesempurna itu?]
[Karena pria sempurna di dunia ini hanya ada dua. Yang satu Pak Pandu, yang satu lagi kekasih misterius Julia ini. Ayo, mari kita diskusikan. Menurut kalian siapa yang lebih mencintai pasangannya? Ketik 1 untuk Pak Pandu, ketik 2 untuk kekasih Julia.]
Layar dipenuhi dengan angka 1. Bagaimanapun juga, pengorbanan Pandu untuk istrinya sudah melegenda. Tidak hanya uang, bahkan nyawa pun hampir dia berikan.
Namun, tiba-tiba sebuah akun bernama Cinta Julia muncul. Dia langsung mengirimkan berbagai macam hadiah di siaran langsung sekaligus. Efek animasi yang spektakuler memenuhi layar, membuat semua orang tertegun.
Gebrakan itu membuat jumlah penonton Julia melonjak dari ratusan ribu menjadi puluhan juta dalam sekejap.
Kemudian, sebuah pesan melayang dengan jelas di tengah layar: [Tentu saja aku yang lebih mencintai Julia.]
Ruang siaran langsung itu dipenuhi keributan. Semua orang berlomba-lomba memberikan komentar.
[Orang yang dimaksud muncul! Luar biasa! Sungguh luar biasa!]
Julia tersenyum penuh kemenangan, sementara matanya memancarkan keangkuhan seorang wanita yang dimanja. "Lihat sendiri, aku sudah mengatakan kalau kekasihku sangat mencintaiku."
Tangan Anita yang menggenggam ponsel tampak gemetaran. Ketika mendongak, dia melihat sudut bibir Pandu terangkat sedikit pada saat yang sama. Tatapan matanya begitu lembut dan penuh kasih.
Dia adalah orang dengan akun bernama Cinta Julia itu.
Hati Anita terasa seperti diremas sekuat tenaga oleh tangan yang tak terlihat. Meski remasan itu kini sudah terlepas, rasa sakitnya masih terasa menyesakkan dada.