Bab 3
Rasa sakit itu menghantam dengan begitu hebat. Tangan kanan Anita meremas dadanya dengan kuat, mendadak merasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya menipis.
Pandu akhirnya menyadari ada yang tidak beres. Dia segera menghampiri Anita dengan cemas. "Anita, ada apa?"
Kekhawatiran di matanya tidak tampak seperti kepura-puraan. Pria itu terlihat seolah-olah jika sesuatu terjadi pada Anita, dia pun akan ikut mati di tempat itu juga.
Namun, justru pria yang tampak sangat mencintainya inilah yang telah menyembunyikan begitu banyak rahasia darinya.
Anita berusaha mengendalikan emosinya sekuat tenaga. "Nggak apa-apa .... Tadi aku hanya mendadak sesak napas."
Pandu segera mengusap dada istrinya dengan lembut. Setelah memastikan Anita baik-baik saja, dia bergegas membawanya pulang untuk beristirahat.
Di sepanjang perjalanan pulang, Pandu terus menceritakan hal-hal lucu, mencoba segala cara untuk membuatnya tersenyum.
Namun, tak peduli sekeras apa pun Pandu berusaha, hati Anita tetap terasa hampa.
Anita menyandarkan kepalanya di jendela mobil, menatap pemandangan di luar yang bergerak mundur dengan cepat dalam diam. Raut wajahnya sulit ditebak.
"Anita, apakah ada sesuatu yang aku lakukan hingga membuatmu nggak senang?" tanya Pandu dengan hati-hati, mencoba mencari tahu.
"Nggak ada," jawab Anita pada akhirnya. "Aku hanya sedang memikirkan drama TV yang aku tonton hari ini."
Pandu langsung mengembuskan napas lega. Dia tersenyum sambil menyahut, "Drama apa?"
Ketika mendengar itu, Anita perlahan menoleh, lalu menatap mata Pandu dalam-dalam.
"Tokoh utama prianya dulu sangat mencintai istrinya, tapi kemudian hatinya berubah. Dia menyembunyikan hal itu dari istrinya ...."
Anita menatap wajah pria itu dalam diam, memperhatikan setiap perubahan kecil pada ekspresinya. Kemudian, dia melanjutkan dengan tenang, "Pandu, kalau suatu hari nanti hatimu berubah ...."
"Itu nggak akan pernah terjadi!"
Sebelum Anita sempat menyelesaikan kalimatnya, Pandu langsung memotong dengan tegas, seolah dia tidak sanggup menerima kemungkinan itu. "Anita, orang yang paling aku cintai seumur hidupku adalah kamu. Meskipun seluruh pria di dunia ini berkhianat, aku nggak akan melakukannya. Aku nggak bisa hidup tanpamu."
Hati Anita justru terasa perih ketika mendengar itu.
Dia mengatakan tidak bisa hidup tanpanya, tetapi dia tetap mencicipi bunga liar di luar sana ....
Baru saja Anita hendak berbicara ketika ponsel Pandu berdering.
Pria itu sempat ragu, hendak menolak panggilan tersebut, tetapi Anita mendorongnya pelan. "Angkatlah."
Pandu akhirnya menurutinya. Entah apa yang dikatakan orang di ujung lain telepon, tetapi ekspresi Pandu yang awalnya tenang perlahan berubah. Pupil matanya sedikit mengecil, sementara raut wajahnya menjadi tidak wajar.
Sesaat kemudian, jakunnya sedikit bergerak saat dia menutup telepon, lalu menatap Anita.
"Anita, ada masalah mendesak di kantor. Aku harus ke sana sekarang. Bagaimana kalau aku memesankan taksi untukmu pulang?" ujar Pandu.
Anita tidak membantah. Dia hanya mengangguk, lalu melangkah turun dari mobil.
Setelah melihat mobil Maybach milik Pandu melaju pergi, Anita segera masuk ke dalam taksi yang baru saja tiba. Namun, dia tidak memberikan alamat vilanya.
"Tolong ikuti mobil di depan itu," ucap Anita dengan tenang.
Sopir taksi tidak banyak bertanya, lalu mulai melaju mengikuti mobil Pandu dengan jarak yang aman.
Hingga akhirnya mobil di depan berhenti di sebuah vila.
Tak jauh dari sana, seorang gadis yang mengenakan kostum pelayan kelinci membuka pintu. Begitu melihat Pandu turun dari mobil, gadis itu langsung tersenyum manja, lalu menghamburkan diri ke pelukan pria itu.
Gadis itu adalah Julia, sementara pria itu adalah Pandu.
Baru saja berpelukan, keduanya sudah tidak sabar untuk saling berciuman mesra.
Setelah cukup lama berciuman, Julia melepaskan diri sambil terengah-engah. Dia tersenyum manis sembari menarik dasi Pandu. "Pak, Kelinci Kecil ini sudah menyiapkan hadiah kejutan lainnya untukmu. Apa kamu ingin melihatnya?"
Ujung jemarinya menyentuh jakun Pandu dengan nakal.
Jakun Pandu bergerak beberapa kali. Dia mencengkeram tangan Julia dengan kuat, sementara tatapan matanya tampak penuh gairah. "Perjalanan yang seharusnya memakan waktu 30 menit ini aku tempuh hanya dalam 15 menit demi sampai ke sini. Sayang, apa menurutmu aku ingin melihatnya atau nggak?"
Julia tertawa pelan, lalu menarik jari panjang pria itu menuju mobil. "Ayo kita lihat di dalam mobil."
Setelah keduanya masuk, tak lama kemudian, mobil itu mulai bergoyang pelan.
Makin lama, goyangannya menjadi makin hebat ....
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam taksi yang terparkir tak jauh dari sana, Anita menyaksikan segalanya.
Meski dia sudah tidak lagi menaruh harapan pada suaminya, menyaksikan adegan itu secara langsung membuat Anita merasa seperti jantungnya disayat.
Rasa sakit itu seperti kail tajam yang mendadak mengait jantungnya. Dia menekan dadanya dengan kuat, mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal, sementara air matanya mulai turun membasahi pipinya.
Ketika mereka masih berpacaran, Pandu sangat menjaganya. Bahkan di saat gairahnya sedang memuncak, pria itu akan menahannya sekuat tenaga, karena tidak ingin menyentuhnya sebelum waktunya.
Pandu mengatakan bahwa malam pertama itu sangat berharga, harus disimpan untuk malam pernikahan agar terasa sempurna.
Setelah tiga tahun mengejar, tiga tahun berpacaran, akhirnya mereka sampai di malam pengantin.
Malam itu, Pandu yang biasanya begitu berwibawa dan tak terkalahkan di dunia bisnis, justru tampak sangat gugup. Saat dia melepaskan pakaian Anita, daun telinganya memerah.
Pria itu begitu menghargai Anita, memperhatikan setiap detail perasaan istrinya. Bahkan saat pertama kali memilikinya, Pandu menangis karena sangat bahagia.
Pria itu berulang kali berbisik di telinganya, "Anita, akhirnya kamu menjadi milikku sepenuhnya. Aku mencintaimu, aku akan selamanya mencintaimu."
Pada saat itu, Anita benar-benar merasa dicintai dan dihormati. Dia berpikir, mungkin di dunia ini tidak akan ada orang yang bisa mencintainya lebih tulus daripada Pandu.
Pandu hanya mencintai Anita.
Itu adalah janji yang Pandu ucapkan sendiri.
Namun, sekarang pria itu juga yang menghancurkan janji itu hingga berkeping-keping.
Sopir taksi wanita yang melihat Anita menangis tersedu-sedu menghela napas panjang, lalu menyodorkan tisu.
"Semua pria memang seperti itu, nggak ada satu pun yang bisa menahan diri untuk nggak berselingkuh. Aku pun merasakannya. Tapi karena memiliki anak, aku nggak bisa bercerai ...."
Suara sopir itu terdengar serak saat menceritakan kesedihannya sendiri. Setelah terdiam sejenak, dia melanjutkan.
"Nona, jangan terlalu bersedih. Karena sudah menikah, bersabarlah sedikit. Maafkanlah dia sekali ini, anggap saja kamu nggak melihat apa-apa."
Anita meremas tisu di tangannya. Suaranya serak, tetapi terdengar sangat tegas.
"Nggak. Aku nggak akan memaafkannya."
Anita berpikir dalam hati, 'Pandu, aku nggak akan pernah memaafkanmu.'
Sesampainya di rumah, Anita membongkar seluruh lemari, mengumpulkan semua hadiah yang pernah diberikan Pandu kepadanya.
Termasuk koleksi perhiasan Antaji yang sangat mahal itu.
Dia segera melakukan panggilan telepon.
"Halo, apakah ini agen properti? Aku ingin menjual semua barang ini. Tolong donasikan semua uang hasil penjualannya ke yayasan perlindungan wanita. Untuk membantu mereka yang ingin bercerai, tapi terkendala masalah ekonomi atau anak."
Hanya dalam waktu satu jam, Anita telah mengirimkan semua barang itu.
Setelah itu, dia mulai mengemasi koper pribadinya.
Di tengah kesibukannya berkemas, Pandu tiba-tiba pulang.
Pria itu menerjang masuk sambil membawa hawa dingin dari sisa hujan di luar. Dia bahkan tidak memakai payung, pakaiannya pun lembab, tetapi dia tidak sempat berganti baju. Pria itu menghampiri ke hadapan istrinya dengan suara bergetar.
"Anita, kenapa kamu menjual Antaji?"