Bab 8
Cambuk menghantam tubuh Natasha dengan keras, langsung memotong kata-katanya.
"Natasha! Kamu nggak hanya bersikap arogan dan menyakiti kakakmu, tapi sekarang kamu bahkan ingin memfitnahnya? Apa kamu mau mengakui kesalahanmu?" kata Davin.
"Aku nggak melakukan kesalahan! Aku nggak akan mengakuinya!" ujar Natasha.
Natasha menggigit bibirnya dengan keras.
Cambukan menghantam lagi. Tubuh Natasha gemetaran tak terkendali, sementara keringat dingin mengucur di dahinya.
Namun, dia tidak mengeluarkan sedikit pun jeritan, sementara nada bicaranya sangat tegas.
"Dia benar-benar palsu! Kalian yang nggak bisa mengenali orang! Bahkan kalian nggak mengenali anak kandung sendiri!" teriak Natasha.
"Kamu!" Wajah Davin tampak menyeramkan. Cambukan demi cambukan menghantam dengan keras di tubuh Natasha.
Darah mengalir deras, langsung menodai pakaian Natasha.
Cambukan terakhir melayang, bahkan membuat cambuk putus.
Natasha tergeletak di lantai, hampir tidak sadarkan diri.
Di hadapannya, muncul sosok Ericko.
Natasha menatapnya dengan susah payah.
Dia berpikir pria itu akan menggendongnya ke pelukan seperti sebelumnya, lalu menghiburnya sambil berkata, "Nggak apa-apa, ada aku di sini."
Namun, kali ini wajah Ericko tampak muram.
"Natasha, kamu benar-benar nggak bisa diubah."
Kalimat ini seperti pisau yang menusuk hatinya.
Natasha tiba-tiba tertawa sampai air matanya mengalir. "Benar, aku memang nggak bisa diubah. Pak Ericko, bagaimana kamu akan mendisiplinkanku?"
"Aku nggak bisa mengajarimu lagi." Ericko menutup matanya, lalu berkata dengan nada dingin, "Seseorang, kemarilah. Bawa dia ke kantor polisi, tahan dia di sana selama tiga hari."
Tiga hari berikutnya adalah mimpi buruk paling mengerikan dalam hidup Natasha.
Dia dipukuli, dimaki, bahkan ada yang menaburkan minyak cabai di lukanya yang masih terbuka. Jeritan Natasha memenuhi seluruh penjara.
Tidak ada yang mengobati lukanya. Luka itu membusuk, meradang, bahkan rasa sakitnya sangat luar biasa.
"Pak Ericko mengatakan kalau kami harus mendisiplinkanmu dengan baik!"
Natasha meringkuk di lantai sambil menggigit bibirnya sampai berdarah.
Dia tidak percaya Ericko akan melakukan hal ini. Namun, setiap siksaan seperti tamparan keras, terasa panas dan menyengat di wajahnya.
Tiga hari kemudian, barulah Natasha dibebaskan.
Ericko berdiri di hadapannya sambil berkata dengan suara dingin, "Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
Natasha tetap terdiam.
Ketika melihat wajah Natasha yang pucat dan lemah, Ericko mengernyitkan kening. Suaranya pun sedikit melunak, "Tasha, mengirimmu ke sana bukan benar-benar untuk menghukummu, tapi ...."
Sebelum Ericko selesai berbicara, asistennya sudah mendesaknya, "Pak Ericko, mobilnya sudah disiapkan. Rapatnya nggak bisa ditunda lagi."
Ericko terdiam sejenak, menatap Natasha dalam-dalam, lalu akhirnya berkata, "Antar dia ke rumah sakit. Tunggu aku kembali nanti baru kita akan membicarakannya."
Setelah berkata demikian, Ericko berbalik, langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Natasha melihatnya kepergiannya dengan tatapan dingin.
Setelah beberapa saat, ponselnya bergetar.
[Uang sebesar 40 triliun sudah disetorkan ke rekeningmu.]
Tak lama kemudian, Davin menelepon, "Kamu sebaiknya menepati janjimu. Pergilah sejauh mungkin dari sini."
"Jangan khawatir, aku nggak akan pernah kembali lagi," balas Natasha.
Natasha tertawa sinis, lalu menutup telepon. Dia mencari kesempatan untuk lolos dari pengawasan, membawa koper yang sudah dikemas, lalu bergegas pergi ke bandara.
Sebelum pergi, Natasha memasukkan sebuah rekaman ke dalam kotak sebagai hadiah spesial untuk Liana.
Kemudian, Natasha mencabut kartu SIM ponselnya, langsung melemparkannya ke tempat sampah.
Natasha berdiri tegak dengan bangga, sementara langkahnya tidak ragu sedikit pun.
Mulai detik ini, masa depan ada di tangannya. Dia akan menuju ke mana pun dia ingin melangkah.
Natasha akan memegang kendali atas dirinya sendiri!