Bab 7
Saat tersadar lagi, Natasha sudah berada di rumah sakit.
Di samping tempat tidur Natasha tidak ada seorang pun.
Luka di tubuhnya terasa sangat menyakitkan.
Dari balik pintu, dia mendengar para perawat berbisik-bisik.
"Pria itu sangat tampan, juga sangat perhatian pada kekasihnya ...."
"Ya, padahal pacarnya hanya terkilir sedikit, tapi dia sangat panik. Orang tuanya juga mengerumuninya dengan penuh perhatian setiap saat. Coba lihat pasien di sini. Lukanya separah ini, tapi nggak ada satu pun yang menjenguk ...."
Natasha mencabut jarum infus, lalu melangkah perlahan ke koridor sambil berpegangan pada dinding.
Benar saja, Natasha melihat Ericko, Davin, serta Marisa di depan pintu ruang perawatan VIP.
Ericko membantu Liana menyesuaikan tinggi tempat tidur, terus menanyakan kenyamanannya.
Davin menuangkan air untuk Liana, bahkan sengaja meniupnya hingga dingin dulu sebelum memberikannya.
Liana merengek dengan manja, sementara Marisa mengambil sapu tangan untuk membantu menyeka sisa air di sudut bibirnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
Pemandangan harmonis itu membuat napas Natasha seakan terhenti.
Air mata menggenang di matanya.
Aneh sekali. Meskipun sudah memutuskan untuk melepaskan semuanya, hati Natasha masih terasa sakit, seperti ditusuk ribuan jarum dengan keras, membuatnya kesulitan bernapas.
Natasha berpikir bahwa dia tidak boleh menangis.
Dia mendongak, memaksa air matanya untuk kembali.
Karena tidak akan ada yang peduli.
Tak lama setelah Natasha kembali ke ruang perawatannya, Ericko melangkah masuk.
"Masih sakit?" tanya pria itu. Di bawah matanya jelas ada warna abu-abu kebiruan, tanda kelelahan. Tatapannya terus tertuju pada Natasha, menyiratkan kecemasan.
Jika ini dulu, Natasha pasti akan menangis dan membuat keributan, menanyakan mengapa pria itu lebih memilih menyelamatkan Liana.
Namun, sekarang Natasha tidak mengatakan apa-apa, hanya memalingkan wajah, enggan menatapnya.
Kesunyian ini sungguh tidak wajar.
Ericko mengerutkan kening, mengira Natasha terlalu kesakitan untuk menjawab, jadi dia tidak bertanya lagi.
Beberapa hari berikutnya, Ericko secara mengejutkan menunda pekerjaannya demi menjaga Natasha di rumah sakit.
Namun, ada yang aneh. Natasha yang biasanya banyak berbicara, kini menjadi pendiam.
Natasha menerima pengobatan tanpa bantahan, makan dan tidur dengan teratur, seolah hanya sedang menghitung mundur hari kepergiannya.
Tiga hari sebelum kepergiannya, Natasha melangkah ke balkon untuk mencari udara segar.
Tak tahu sudah berapa lama dia berdiri di sana, ketika dia tanpa sengaja mendengar suara Liana yang sedang menelepon.
"Aduh, kamu tenang saja. Sekarang mereka memujaku seperti seorang putri. Mereka nggak akan pernah menyadari kalau Liana yang asli sudah lama mati ...."
Natasha terpaku sejenak sebelum akhirnya menyadari apa yang terjadi!
Ekspresi Natasha langsung berubah. Dia berlari keluar, tepat berhadapan dengan ekspresi puas Liana.
Ketika Liana melihat siapa yang datang, matanya berkilat ragu sejenak. "Kenapa kamu ada di sini?"
Kedua mata Natasha memerah karena amarah yang meluap. "Dasar kamu penipu sialan!"
"Memangnya kenapa?" balas Liana.
Kilatan jahat terpancar dari mata Liana. "Karena kamu sudah mengetahuinya, mari kita mainkan sesuatu yang lebih besar."
Sebelum Natasha sempat bereaksi, Liana berteriak keras sambil menangis, "Natasha, aku hanya datang untuk menjengukmu. Meski kamu nggak senang, kamu juga nggak bisa memukulku, 'kan? Ah ...."
Setelah selesai berbicara, Liana berteriak lagi, lalu langsung menggelinding dari tangga!
Dia terjatuh dengan keras di koridor rumah sakit.
Semua orang berteriak terkejut, sementara tatapan mereka tertuju ke Natasha.
Natasha membeku sejenak. Ketika menoleh, tatapannya tepat bertemu dengan tatapan marah Davin dan Marisa.
"Aku ...."
Sebelum Natasha sempat berbicara ....
"Lia!"
Ericko langsung berlari ke depan, menggendong Liana, sementara tatapannya pada Natasha tampak sedingin es.
Natasha menyaksikan pria itu menggendong Liana, lalu pergi dengan langkah cepat.
Bersamaan dengan itu ....
"Natasha!" Davin dan Marisa menunjuknya sambil berteriak marah, "Kamu benar-benar sudah gila!"
Bisikan orang-orang di sekitar seperti pisau beracun.
"Jahat sekali! Putri kedua Keluarga Wangsa ini ternyata sangat kejam. Dia melukai kakak kandungnya sendiri!"
"Benar-benar keterlaluan. Pak Davin dan Bu Marisa seharusnya menghukumnya dengan baik untuk merubah karakternya!"
"Benar! Beri pelajaran padanya! Buat dia mengakui kesalahannya!"
Davin bahkan langsung menyuruh orang untuk mengambilkan cambuk. "Tahan dia!"
"Lepaskan aku!" Natasha meronta sambil berteriak, "Wanita itu bukan kakakku! Dia penipu!"