Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

"Itu bukan urusanmu!" balas Natasha. Natasha meraih ponselnya tanpa sadar, tetapi Ericko lebih dulu merebutnya. "Kembalikan!" Natasha mengulurkan tangan untuk merebutnya, tetapi pergelangan tangannya dicengkeram. Cengkeraman itu menguat, membuat Natasha mengerutkan kening kesakitan. "Lepaskan!" "Jelaskan dengan baik, kamu memesan tiket pesawat ke mana?" Sepasang mata tajam Ericko menatap Natasha dengan cermat. "Liburan ke Mandawa bersama model pria pilihanku! Apa kamu puas sekarang?" balas wanita itu. Natasha mengangkat kepala, tidak mau mengalah sedikit pun. "Model pria?" Ekspresi Ericko langsung menjadi muram. Dia tertawa karena marah. "Bagus, sepertinya sudah terlalu lama aku nggak mendisiplinkanmu." "Apa maksudmu?" Natasha langsung mendapatkan firasat buruk. Dia berbalik, hendak berlari, tetapi ditarik kembali olehnya. Pria itu menekannya ke dinding kaca transparan kantor! "Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Natasha. Ericko tanpa ragu menarik resleting di punggungnya dengan cepat hingga robek, membuat sebagian besar kulitnya terekspos di udara. "Ericko!" Kali ini Natasha benar-benar ketakutan. "Kamu gila! Ini kantormu ...." "Ini bukan pertama kalinya kita melakukannya di sini," balas Ericko. Pria itu mencengkeram tangan Natasha yang melawan, lalu menekannya di dinding. "Tapi ini kaca transparan!" kata Natasha. "Memangnya kenapa?" Bibir pria itu menempel di telinganya, sementara nadanya terdengar kasar, "Tasha, kamu yang membuatku marah lebih dulu. Jadi, kamu harus menerima hukuman." Natasha merasa seperti tenggelam dalam lautan es. Rasa dingin menyelimuti ujung kepala sampai ujung kakinya. Mengapa? Mengapa pria ini menjaga Liana layaknya permata yang berharga, sementara dirinya hanya dianggap teman tidur yang bisa dididik sesuka hati tanpa belas kasihan sedikit pun? Hanya karena dia mempermalukan Liana di rapat tadi, Ericko tidak hanya menyiksanya secara fisik, tetapi juga ingin menghancurkan martabatnya dengan membiarkannya menjadi tontonan orang banyak! "Uh!" Segala perlawanan Natasha sia-sia saja. Dia terpaksa menempel pada dinding kaca yang dingin, menatap orang-orang yang berlalu-lalang di luar. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara. Namun, pria itu sengaja ingin menghancurkan kesombongannya, memaksanya tunduk dengan cara yang paling menyakitkan. Akhirnya, Natasha tidak bisa menahannya. Kuku-kukunya menggores kaca dengan bunyi yang memilukan. Natasha seolah melihat orang di luar sedang menatap ke arahnya, menertawakan kehancurannya. Benang ketegangan di hatinya tiba-tiba putus. Air matanya turun seperti rangkaian mutiara yang putus, meluncur bersama tubuhnya yang lemas. Ericko mengangkat tubuhnya dengan satu tangan, lalu menarik kembali ritsleting bajunya. Ketika melihat sosok Natasha yang tampak hancur, Ericko tertegun sejenak. Suaranya pun sedikit melunak, "Tenanglah, kacanya sudah diganti dengan yang baru. Ini kaca satu arah dan kedap suara ...." Plak! Natasha menampar wajahnya dengan mata yang memerah. "Ericko, dasar kamu bajingan!" Natasha menggertakkan gigi, menyeret kedua kakinya yang lemas untuk pergi dengan terseok-seok. Dia benar-benar seorang bajingan! Untung saja Ericko tidak menyelidiki lebih lanjut tentang tiket pesawat itu. Jika tidak, dengan sifat posesifnya yang sangat kuat, pria itu pasti akan melakukan hal yang lebih merendahkan lagi. Natasha menggenggam ponselnya dengan erat, berniat pulang untuk mengemasi barang-barangnya Begitu sampai di lobi lantai satu gedung perusahaan, Natasha yang hendak memesan taksi dihadang oleh Liana. Kakaknya itu menggoyangkan kunci mobil sport keluaran terbaru di depannya. "Ini mobil baru yang Ericko pesankan khusus untukku. Hanya ada satu-satunya di dunia," kata Liana. Dia tersenyum sambil kembali berkata, "Natasha, apa kamu mau aku antarkan?" "Nggak perlu." Natasha tertawa sinis sambil menutupi hidungnya. "Aku nggak suka bau sampah yang menyengat di mobilmu." "Natasha!" Tanpa ada orang lain di sekitar, Liana menanggalkan topeng kepolosannya. "Aku lihat kamu hanya berani bicara besar! Asal kamu tahu, sebentar lagi aku akan membuat Ayah dan Ibu mengusirmu dari Keluarga Wangsa!" Natasha menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Tempat sampah seperti itu memang hanya cocok untuk orang sepertimu. Hanya kamu yang menganggap tempat itu berharga." Wajah Liana langsung menjadi muram. Dia menariknya, lalu berkata dengan suara tajam, "Natasha, coba kamu ulangi sekali lagi!" "Mau aku ulangi seribu kali pun, kamu tetap sampah! Lepaskan!" balas Natasha. Di tengah pertengkaran itu, tiba-tiba terdengar suara retakan keras dari atas. Natasha mendongak, melihat lampu gantung raksasa di atas kepalanya terjatuh, meluncur lurus ke arah mereka berdua! Teriakan melengking Liana seakan menusuk telinganya. Pada waktu yang kritis itu, Natasha melihat Ericko berlari kencang dengan wajah panik. Namun, pria itu melewatinya begitu saja, langsung menarik Liana ke pelukannya. Sedangkan Natasha ... dia terhantam lampu seberat puluhan kilogram itu. Darah segar mengalir deras, lalu tubuhnya kejang-kejang hebat. Rasa sakit yang luar biasa seolah menyobek otot dan tulangnya, menyiksa setiap saraf di tubuhnya. Natasha berusaha membuka mata untuk menatap ke arah Ericko. Pria ini dulu selalu melindunginya saat dalam bahaya meski dia juga selalu bersikap tegas. Sekarang, pria itu sedang memeluk Liana yang aman tanpa luka sedikit pun, menatap Liana dengan penuh kekhawatiran, tidak memberikan satu lirikan pun untuk Natasha. Liana sekali lagi menunjukkan senyum kemenangan yang sombong. Liana seolah berkata, "Lihat, Natasha, kamu kalah lagi." Natasha tersenyum getir di tengah air matanya yang mengalir. Tenggorokannya tersumbat oleh rasa amis darah dan kepahitan yang menyesakkan. Rasa sakit yang begitu hebat ini membuatnya hampir tidak bisa bernapas. Dia tidak lagi memiliki kekuatan. Dunianya pun perlahan jatuh ke dalam kegelapan total.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.