Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Tindakan ini langsung mengejutkan semua orang yang hadir. Liana bahkan berteriak ketakutan, bersembunyi ke pelukan Ericko. "Ericko, aku takut ...." Ericko langsung memeluknya untuk menenangkan, sementara tatapannya ke Natasha langsung menjadi dingin. "Natasha, aku sudah mengatakan untuk membiarkan Lia melanjutkan presentasi. Kalau kamu masih terus keras kepala, jangan menyalahkanku kalau aku bersikap tegas." Natasha merasakan hawa dingin dan peringatan di mata pria itu. Ericko jarang berkata dengan nada tegas padanya. Ini menunjukkan bahwa pria itu benar-benar marah. Namun, Natasha hanya tertawa sinis, lalu menatap Liana yang tampak menyedihkan. "Bukankah kamu mengatakan kalau proposal ini kamu buat sendiri? Kamu pasti bisa menjelaskan detailnya meski tanpa laptop, 'kan?" Mata Liana berkilat ragu sejenak, lalu dia menarik lengan baju Ericko. "Isi proposalnya ada banyak sekali. Aku benar-benar nggak bisa mengingat semuanya ...." "Bagian pertama adalah ringkasan pesanan kuartal ini dari Arinsa Utara dan Siyan Tenggara ...." Natasha langsung membuka mulut memotong kata-kata Liana. Wajah orang-orang yang hadir sedikit berubah. Mereka langsung membuka proposal di tangan mereka. "Bagian kedua adalah analisis detail situasi keuangan perusahaan yang diakuisisi ...." Di ruang rapat terdengar suara gemerisik halaman yang dibalik, serta suara Natasha yang jelas dan teratur. "Aset lancar 23.906 miliar, liabilitas lancar 99.960 miliar. Jadi, rasio lancar bisa mencapai 239,155622 persen ...." "Oleh karena itu, ini memenuhi syarat akuisisi." Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi sunyi. Semuanya, termasuk detail datanya, semuanya cocok! Bahkan orang yang awalnya mengecam Natasha pun kini menatapnya dengan kagum. Sedangkan ekspresi Liana menjadi makin buruk! "Jadi, kalian seharusnya sudah paham dengan jelas milik siapa proposal ini, 'kan?" Natasha menghadap Liana sambil berkata, "Pencuri yang menjiplak proposalku ini, kamu masih berhutang penjelasan kepada semua orang." Wajah Liana langsung memucat, sementara dia terhuyung selangkah. Namun, detik berikutnya Ericko langsung berdiri untuk menopang Liana, lalu menatap dingin ke arah Natasha. "Natasha, tindakanmu ini sudah berlebihan. Kamu mengganggu jalannya rapat. Petugas keamanan, bawa dia keluar!" "Apa maksudmu?" tanya Natasha. Ujung jari Natasha menancap ke dagingnya, sementara dia dipenuhi dengan ketidakpercayaan. "Aku jelas-jelas sedang membela hakku! Kenapa aku yang harus pergi? Kalau ada yang harus pergi, itu dia!" ujar Natasha. "Seret dia keluar!" Ericko memotong kata-kata Natasha dengan tajam. "Nona Natasha, maafkan aku." Petugas keamanan langsung menarik Natasha pergi. "Lepaskan aku!" Natasha meronta dengan mata merah, lalu menatap tajam Ericko sambil berkata, "Ericko, kamu nggak bisa membedakan yang benar dan yang salah!" Namun, Ericko hanya melindungi Liana, tidak pernah memberinya satu tatapan pun. Dia seperti terbuat dari balok es. Sedangkan tatapan provokatif Liana yang memandang ke arahnya seperti pisau tajam yang menusuk ke hatinya! "Heh ...." Natasha tertawa, tetapi matanya memerah ketika tertawa. "Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri!" Pergelangan kaki Natasha terkilir karena ditarik tadi. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerutkan kening. Namun, dia tetap menggigit bibirnya dengan erat, menegakkan punggung, lalu melangkah pergi selangkah demi selangkah. Setelah meninggalkan ruang rapat, dia langsung menuju kantor Ericko. Kemudian, Natasha langsung mengambil tongkat golf, menghantamkannya dengan keras ke meja kerja pesanan khususnya! Ketika Ericko kembali dari rapat, dia melihat seluruh kantornya berantakan, hampir tidak ada tempat untuk berpijak. Sedangkan Natasha tampak duduk di sofa satu-satunya yang masih utuh, tanpa ekspresi di wajahnya. Ericko mengerutkan kening, akhirnya hanya bisa berkata dengan nada berat, "Apa kamu sudah lega setelah menghancurkan kantor, Nona Natasha?" Natasha perlahan mengangkat pandangan sambil tertawa sinis. "Kenapa? Kamu nggak pergi menemani pencuri kesayanganmu yang suka mencuri proposal orang lain?" "Lia adalah kakak kandungmu, kenapa kamu harus mengatakan hal sekasar itu?" Ericko berkata dengan nada tidak senang, "Meskipun kamu ingin membela hakmu, kamu nggak perlu melakukannya dengan cara yang begitu kejam seperti itu. Ini membuat kakakmu malu." "Natasha, kamu sudah dewasa. Kamu seharusnya belajar mengendalikan emosimu." Natasha tertawa. Dulu dirinya benar-benar buta. Bagaimana bisa dia menyukai pria yang membela orang lain tanpa batasan ini? Natasha hanya bersyukur bahwa sebentar lagi dia bisa menjauh darinya, tidak perlu melihatnya lagi! Detik berikutnya, layar ponsel Natasha yang diletakkan di meja menyala. Ini adalah pesan dari bandara. [Nona Natasha Wangsa, tiketmu sudah dipesan. Berikut adalah informasi tempat dudukmu.] Wajah Natasha sedikit berubah. Dia ingin menutupi pesan itu, tetapi sudah terlambat. "Tiket pesawat?" Ekspresi Ericko langsung berubah dingin. "Kamu mau pergi ke mana?"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.