Bab 4
Ketika mendengar itu, hidung Natasha terasa panas.
Dulu saat Natasha mengantar dokumen kontrak, dia dijebak kompetitor dengan dikunci di gudang. Ericko-lah yang mencarinya ke seluruh penjuru kota. Pria itu menemukannya, memeluknya erat, lalu menenangkannya.
"Nggak apa-apa, ada aku di sini."
Meskipun nada bicaranya begitu datar, kata-katanya meresap di hati Natasha.
Saat itu, Natasha begitu naif hingga mengira Ericko mungkin memiliki perasaan padanya.
Sekarang kalau diingat lagi, pria ini benar-benar keji!
Dia tidak hanya tidak menyukainya, bahkan menghukumnya tanpa mencari tahu kebenarannya dulu!
"Jangan sentuh aku!" Natasha tidak bisa melepaskan diri, jadi dia menggigit Ericko dengan putus asa, memaksanya melepaskan cengkeraman.
Ericko mengerutkan kening, langsung menyalakan mobil.
Sesampainya di vila, Ericko menggendongnya masuk ke ruang tamu tanpa memedulikan penolakannya, lalu melemparkannya ke sofa yang empuk.
Baru saja Natasha hendak marah, dia melihat Ericko mengambil roti lapis yang sudah dipanaskan, lalu memberikan roti lapis itu padanya.
"Setelah makan sampai kenyang, langsung pergi bekerja." Nada bicaranya terdengar seperti tidak menerima bantahan.
Natasha memalingkan wajah. "Kamu nggak perlu ikut campur. Jaga jarak dariku!"
"Jaga jarak?"
Ericko menyeringai dengan satu tangannya menopang di samping Natasha, lalu dia tersenyum simpul. "Apa kamu bisa menahannya?"
Kata-kata ini seperti pisau yang menusuk ke hatinya.
Pria ini tahu dengan baik bahwa Natasha tidak bisa hidup tanpanya.
Namun, pria itu bertingkah seperti orang luar yang menyaksikan Natasha tenggelam makin dalam.
Bahkan nada mengejek itu seperti provokasi sombong dari seorang pemenang!
Natasha menggigit bibir tanpa mengatakan apa pun.
Ericko menatap wajah pucatnya, lalu perlahan berkata, "Tentang kejadian hari ini ... aku tahu kamu nggak sengaja melakukannya. Kenapa kamu nggak membela diri?"
Natasha terpaku.
Apakah Ericko melihat semuanya?
"Untuk apa membela diri?" ujar Natasha penuh dengan sindiran. "Nggak ada yang akan percaya."
Orang tuanya akan selalu berpihak pada Liana, menganggap dirinya seorang yang jahat. Pembelaan seperti apa pun hanya akan sia-sia.
"Aku percaya."
Dua kata pendek tanpa nada yang berarti ini mampu mengetuk relung hati Natasha dengan kuat.
Dia menatap Ericko dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya tertawa dingin di dalam hati.
Percaya? Jika dia percaya, untuk apa dia menghukumnya?
Kepercayaan semacam itu sama sekali tidak berharga bagi Natasha!
"Tapi bagaimanapun juga, Lia adalah kakak kandungmu. Dia orang yang baik, kenapa kamu menaruh dendam sebesar itu padanya?" tanya Ericko.
Jari-jari Natasha menancap ke telapak tangannya.
"Itu bukan urusanmu!"
Natasha menggertakkan gigi sambil mendorongnya, bangkit untuk kembali ke kamar tamu, lalu menutup pintu dengan keras.
Sepanjang hari itu, Ericko tidak menemuinya.
Namun, Liana mengirimkan pesan padanya.
Ternyata Ericko menghabiskan waktu menemani Liana sepanjang hari.
Mereka naik kapal pesiar, makan malam romantis dengan lilin, berdansa di atas geladak, bahkan melihat matahari terbenam dengan warna langit yang merah muda.
Ericko membukakan tutup botol untuk Liana dengan sigap, menyodorkan sapu tangan saat Liana makan, bahkan segera melepaskan jasnya untuk disampirkan ke bahu Liana saat gadis itu mengeluh kedinginan.
Perhatian-perhatian kecil yang mendalam ini adalah sesuatu yang tidak pernah Natasha dapatkan.
Pria yang biasanya bersikap dingin dan kaku itu ternyata bisa tersenyum begitu tampan di depan Liana. Pemandangan ini sangat menusuk mata Natasha.
Natasha menenggelamkan diri di bawah selimut, lalu memesan tiket pesawat untuk setengah bulan lagi.
Hanya setengah bulan lagi. Setelah semua dokumennya selesai, dia dan Ericko tidak akan memiliki hubungan apa pun lagi!
Keesokan paginya, Natasha bangun lebih awal, kebetulan berpapasan dengan Ericko yang hendak pergi.
"Masuklah ke mobil," kata pria itu.
Natasha berbalik untuk pergi, tetapi dia ditarik kembali oleh pria itu, lalu ditekan di kursi.
"Lepaskan!" Natasha meronta, ingin turun dari mobil.
"Apa kamu ingin aku menekanmu di dalam mobil sampai membuatmu terlambat?" tanya Ericko.
Natasha langsung terdiam. Dari ekspresinya, tampaknya pria ini tidak sedang bercanda.
Namun, hari ini ada rapat penting yang harus dihadiri. Natasha sudah begadang berhari-hari untuk menyiapkan proposal ini, bahkan sangat yakin bahwa idenya akan diterima.
Natasha harus tiba tepat waktu, jadi dia terpaksa berkompromi.
Namun, Liana dijadwalkan untuk mempresentasikan proposalnya sebelum Natasha.
Begitu materi diproyeksikan ke layar besar, wajah Natasha langsung berubah drastis.
Karena proposal ini sama persis dengan miliknya!
"Selamat pagi para pemegang saham. Sekarang aku akan mempresentasikan proposalku ...."
"Ini bukan proposalnya!"
Natasha bangkit berdiri, langsung memotong kata-kata Liana dengan penuh amarah, "Ini adalah proposalku. Dia menjiplak proposalku!"
Liana tampak terkejut, wajahnya dipenuhi dengan kekecewaan. "Natasha, jangan bicara sembarangan. Ini jelas-jelas adalah proposalku."
"Kamu yang bicara omong kosong!" teriak Natasha.
Natasha menatap Ericko dengan gugup. "Proposal ini milikku!"
Proposal ini jelas-jelas dikerjakan Natasha di hadapan Ericko. Pada saat itu, Ericko bahkan memberikan saran padanya!
Namun, ketika menatap matanya, Ericko hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Natasha, jangan membuat masalah di acara penting."
"Liana, lanjutkan presentasinya."
Natasha terpaku, seperti ada sesuatu yang runtuh di hatinya pada saat itu juga. Ternyata inilah yang pria itu sebut kepercayaan!
Pria itu menyerahkan hasil kerjanya kepada orang lain.
Dia menginjak martabatnya, membiarkan orang menghinanya.
Dari sekeliling terdengar bisikan rekan kerja.
"Nona Natasha ini sudah arogan sejak kecil. Dia suka mencuri hasil karya orang lain."
"Benar sekali. Dia hanya memiliki wajah cantik, bagaimana mungkin dia memiliki kemampuan? Pak Ericko sangat adil dan tegas, dia bisa membedakan siapa yang benar dan yang salah!"
"Hanya Nona Liana yang memiliki kemampuan nyata!"
Liana menatap Natasha dengan mata yang penuh dengan kemenangan dan provokasi.
"Mari kita lanjutkan melihat layar ...."
Namun, sebelum Liana selesai berbicara, Natasha tiba-tiba bangkit, lalu berjalan ke hadapan Liana.
Di tengah kebingungan semua orang, Natasha menyeringai dingin.
Dia langsung mengambil gelas air, membantingnya dengan keras ke atas laptop Liana!
Brak!