Bab 3
Namun, sebelum Natasha selesai berbicara, Liana sudah memotongnya, "Ayah, Ibu, aku nggak apa-apa. Aku yakin Natasha hanya sedang dalam suasana hati buruk karena baru bangun tidur saja. Dia nggak sengaja."
Natasha menatap wajah munafik itu dengan rasa mual yang meluap.
Dulu saat Liana baru kembali, dia pun merasa iba pada kakaknya yang telah banyak menderita itu.
Natasha memberikan semua boneka favoritnya dengan polosnya, tanpa mengetahui bahwa Kakak yang malang ini justru akan menjadi sumber penderitaan hidupnya.
Awalnya hanya hal-hal kecil saja.
Liana merusak bunga kesayangan Ibu mereka, lalu menyembunyikan guntingnya di kamar Natasha, mengatakan bahwa Natasha yang memotongnya.
Liana memecahkan vas antik koleksi ayah mereka, menjebak Natasha agar berdiri di dekat serpihan itu, lalu mengatakan bahwa dialah pelakunya.
Makin lama semuanya menjadi makin tidak masuk akal.
Natasha sudah bekerja keras mempersiapkan kompetisi selama setengah tahun, tetapi Liana menghilangkan sertifikatnya. Kemudian, dia hanya meminta maaf sambil mengeluarkan air mata buaya.
Bahkan Liana nekat melompat ke sungai, lalu menuduh Natasha yang telah mendorongnya!
Setiap kali, orang tua mereka selalu memarahi Natasha tanpa alasan.
Saat Natasha mencoba membela diri, mereka menyebutnya sebagai tipu daya, mengatakan bahwa Natasha tidak memiliki hati.
Perlahan Natasha menyadari bahwa Liana memang tidak pernah menganggapnya saudara sejak awal. Selain itu, kasih sayang orang tuanya memang bukan lagi miliknya.
Sekarang Liana bahkan menggunakan trik lamanya untuk memfitnah Natasha lagi.
Namun, Davin seakan tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Dia menunjuk hidung Natasha sambil memaki.
"Waktu sarapan yang tenang sudah dirusak olehmu! Kapan kamu akan mengubah sifat jelekmu ini?"
"Bagaimana mungkin aku memiliki anak perempuan yang begitu arogan dan kasar sepertimu? Kamu sama sekali nggak sebanding dengan kakakmu!"
Natasha menggigit bibir bawahnya. Dia melihat Liana yang dikelilingi perhatian orang tuanya menunjukkan tatapan provokatif di matanya. Natasha pun tertawa karena marah.
Saat kecil, mungkin Natasha masih akan menangis sambil membela diri.
Namun, sekarang ....
"Apa? Aku arogan dan kasar?"
Natasha menyeringai. "Ini baru namanya arogan dan kasar!"
Dia langsung meraih taplak meja, lalu menariknya dengan keras!
Semua sarapan mewah di atas meja terjatuh hingga berantakan di lantai dengan suara keras!
Ericko menatap Natasha dengan kilatan emosi yang melintas sesaat di matanya.
Di ruang makan itu, raungan kemarahan Davin menggema, "Natasha, pergi kamu dari sini!"
Natasha hanya tertawa sinis, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Bunyi sepatu hak tingginya yang beradu dengan lantai marmer terdengar begitu tajam, seolah sedang menampar wajah mereka semua.
Tinggal setengah bulan lagi. Awalnya Natasha tidak ingin membuat keributan, tetapi kenapa Liana selalu memancingnya?
Baiklah, kalau Natasha tidak bisa hidup dengan tenang, tidak ada yang boleh hidup dengan tenang.
Namun, baru saja Natasha berjalan sebentar, seseorang mendadak menutup mulut dan hidungnya dari belakang!
"Uh!"
Natasha meronta, tetapi kesadarannya segera menghilang.
Ketika tersadar kembali, Natasha mendapati dirinya tergeletak di dalam gudang pendingin.
Dari atas kepalanya terdengar suara pengawal.
"Pak Ericko mengatakan untuk memberi pelajaran pada Nona Natasha. Agar Nona Natasha tahu diri dan nggak menyakiti Nona Liana lagi!"
Natasha terpaku, jari-jarinya tiba-tiba mencengkeram dengan kuat.
Hanya karena luka bakar Liana yang hampir tidak terlihat, Ericko tega menguncinya di gudang pendingin?
"Keluarkan aku!"
Natasha berteriak sambil menggertakkan gigi, tetapi dia hanya bisa menyaksikan pintu gudang pendingin tertutup rapat. Tak ada jawaban meski dia sudah berteriak hingga tenggorokannya sakit.
Kegelapan dan hawa dingin langsung menyelimutinya.
Dia meringkuk di sudut dengan tubuh gemetaran, tetapi hatinya lebih dingin dari gudang pendingin ini.
Sebelum ponselnya kehilangan sinyal, sebuah pesan dari Liana masuk.
Dalam foto tersebut, Ericko membantu Liana mengobati luka bakar yang hampir tidak terlihat dengan hati-hati. Sikap penuh perhatian itu sangat menusuk mata Natasha.
Pria itu menjaga Liana dengan begitu lembut, tetapi dia begitu kejam padanya!
Pria itu bahkan menguncinya di gudang pendingin sebagai hukuman!
Natasha menatap foto itu dengan tajam, sementara matanya memerah.
Natasha jelas-jelas sudah pernah mengatakan pada Ericko bahwa dia takut dingin. Saat itu Ericko tampak tidak peduli, tetapi pria itu tetap melepaskan jasnya, lalu memberikannya padanya.
Natasha mengira itu adalah bentuk perhatian tulus, tetapi ternyata itu hanya angan-angannya sendiri.
Perhatian itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kasih sayang pria itu untuk Liana.
Natasha tertawa getir, lalu air mata mengalir dari sudut matanya.
Baru saat kesadarannya hampir menghilang karena kedinginan, pintu gudang pendingin akhirnya terbuka.
Dalam pandangan yang kabur, sesosok pria tinggi berdiri di depannya.
Sebelum Natasha sempat bereaksi, tubuhnya sudah diangkat ke dalam pelukan Ericko.
"Lepaskan!"
Natasha meronta, tetapi pergelangan tangannya dipegang oleh Ericko.
Suara pria itu terdengar rendah, "Nggak apa-apa, ada aku di sini."