Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 2

Ibu jari Ericko mengusap bibir Natasha yang bengkak dan memerah, sementara suaranya terdengar rendah dan magnetis. Butiran air meluncur dari tulang selangka pria itu, sementara kemejanya yang digulung sembarangan memperlihatkan lengan berototnya. Di balik penampilan santai dan acuh tak acuhnya, terpancar daya tarik seksual yang membara. Bulu mata Natasha bergetar, lalu dia memalingkan wajah. "Pergi sana!" Ericko menyeringai, seperti sedang dalam suasana hati yang baik. "Apa kamu ingin aku menggendongmu ke kamar mandi?" Namun, baru saja kalimat itu terucap, ponsel Ericko menerima pesan. Meskipun pria itu segera mematikan layarnya, Natasha tetap melihatnya. Itu adalah pesan dari Liana. [Ericko, ada petir. Aku takut sekali!] Kening Ericko sedikit berkerut, lalu dia berkata kepada Natasha, "Ada urusan mendesak di perusahaan, aku harus pergi dulu." Setelah berkata demikian, dia mengambil jasnya, lalu pergi dengan langkah cepat tanpa menunggu jawaban Natasha. Begitu pintu tertutup, terdengar suara gemuruh. Petir yang menggelegar tiba-tiba menyambar di luar jendela. Natasha tanpa sadar bergidik, sementara punggungnya langsung tegang dengan wajah yang pucat. Dia juga takut petir. Saat bersama dengan Ericko sebelumnya, Natasha memeluk tubuhnya dengan erat karena ketakutan, tidak mau melepaskannya. Pria itu hanya tertawa ringan. "Seorang gadis yang nggak takut pada apa pun ternyata takut pada petir? Bukankah itu terlalu dramatis?" Sekarang, pria itu langsung pergi tanpa ragu dengan raut wajah penuh kekhawatiran ketika Liana takut dengan petir. Ternyata, perbedaan antara dicintai dan tidak dicintai begitu nyata. Mata Natasha dipenuhi dengan sindiran. Petir kembali menggelegar. Dia meringkuk seperti bola sambil gemetaran ketakutan. Tidak lama kemudian, Liana mengirimkan sebuah foto. Dalam foto itu, Ericko yang tetap tanpa ekspresi ketika bercinta dengan Natasha, membungkus Liana dalam selimut di pelukannya, lalu menepuk dan menghiburnya berulang kali. Ekspresi pria itu tampak begitu lembut dan tulus. Natasha menggigit bibir bawahnya, langsung melemparkan ponselnya ke lantai. Natasha melewati malam itu dalam kondisi kacau. Menjelang fajar, dia bangkit berdiri, berganti pakaian, lalu kembali ke kediaman Keluarga Wangsa. Begitu melangkah masuk, Davin langsung menatap Natasha dengan pandangan merendahkan. "Kamu keluyuran lagi? Bisakah kamu belajar dari kakakmu? Jadilah sedikit lebih bijaksana agar kami nggak perlu khawatir memikirkanmu!" "Dia bijaksana?" Natasha mendengus dingin. "Sepertinya kalian perlu pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan mata kalian. Sekalian kalian periksa hati kalian juga, karena kalian sudah benar-benar buta dan mati rasa!" "Natasha!" Davin memukul meja dengan satu tangan, sementara matanya melotot penuh amarah. "Berani-beraninya kamu bicara begitu!" "Ayah, jangan marah." Detik berikutnya, suara Liana terdengar, "Marah-marah di pagi hari nggak baik untuk kesehatanmu." Natasha menoleh ke arah suara, langsung melihat Liana dengan wajah penuh senyuman, serta Ericko yang berdiri di sampingnya. Orang yang katanya ada urusan mendesak di perusahaan itu sekarang memegang jaket dan tas Liana, seperti sosok kekasih teladan. Natasha memalingkan wajah, sama sekali tidak ingin melihatnya. "Kenapa Ericko juga ada di sini?" tanya Marisa. "Aku datang untuk melaporkan perkembangan proyek pada Pak Davin." Ekspresi Ericko tetap tidak berubah ketika mengatakan ini. Liana hanya tersenyum manja sambil berkata, "Ayah, aku lapar." Davin langsung menunjukkan wajah penuh kasih sayang. "Ayo kita duduk dan sarapan bersama!" Natasha melirik hidangan sarapan di atas meja. Setiap hidangan adalah makanan kesukaan Liana. Sedangkan kesukaannya sudah dilupakan sepenuhnya. "Lia, Ibu akan membuatkan jus untukmu. Ini bagus untuk kulitmu." "Lia, cobalah telur mata sapi ini. Ayah yang menggorengnya sendiri untukmu." Natasha menatap pemandangan keluarga yang harmonis itu dengan senyum dingin di dalam hati. "Natasha, kenapa kamu nggak makan?" tanya Liana dengan pura-pura bingung. Tanpa menunggu Natasha menjawab, Liana mengambil segelas susu kedelai yang masih panas, lalu tersenyum manis sambil menyerahkannya padanya, "Minumlah susu kedelai ini." "Aku nggak mau, singkirkan." Natasha mengerutkan kening. Namun, Liana bersikeras mendorong gelas ke depan. "Coba saja, rasanya enak." "Aku sudah bilang nggak mau!" Natasha mengangkat tangan untuk menepis, tidak menyangka tangan Liana tiba-tiba bergetar. Susu kedelai yang panas itu tumpah, hingga semuanya mengenai punggung tangan Natasha! "Ah!" Sebelum Natasha sempat berteriak, Liana sudah berteriak lebih dulu. Gelas terjatuh ke lantai hingga pecah berkeping-keping. "Lia!" Davin dan Marisa langsung bangkit berdiri, lalu memegang tangan Liana untuk memeriksanya. Punggung tangan Natasha melepuh terbakar, tetapi mereka tidak memedulikannya. Bahkan mereka masih menyalahkan Natasha, "Lia memberimu susu kedelai dengan baik hati. Kamu nggak hanya nggak menghargainya, tapi juga membuatnya terluka!" Natasha mengepalkan jarinya. "Karena aku alergi susu kedelai!"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.