Bab 10
Yanto mengambil jurnal asing di samping ranjang, mencoba mengusir pikiran kacau dengan membaca.
Namun, pandangannya jatuh ke kertas, yang terlihat bukan rumus dan data, melainkan bayangan Diana duduk tenang di bawah lampu, membaca.
Buku yang dibacanya tampak seperti buku bimbingan matematika SMA, sudah tua, sudut-sudutnya terlipat.
Pada sore hari ketiga, Yanto akhirnya tidak bisa lagi duduk tenang.
Dia memanggil asistennya, Tono.
"Kamu pergi ke ... " Yanto berhenti sejenak, lalu menyebut alamat rumah orang tua Diana. "Lihat apakah dia pulang ke sana. Kalau ya, tanyakan kapan kembali," lanjutnya.
Tono tertegun, menatap wajah datar Pak Yanto, tidak berani banyak bertanya, lalu mengangguk dan pergi.
Dua jam kemudian, Tono kembali, ekspresinya agak aneh.
"Pak Yanto, saya sudah tanya. Keluarga Diana bilang dia nggak pulang. Ayahnya malah bertanya apakah kalian bertengkar, katanya sejak menikah sekali putrinya jarang menelepon ke rumah ... "
Tidak pulang?
Jari Yanto yang memegang pena sediki

Klik untuk menyalin tautan
Unduh aplikasi Webfic untuk membuka konten yang lebih menarik
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda
Nyalakan kamera ponsel untuk memindai, atau salin tautan dan buka di browser seluler Anda