Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 1

Di kompleks perumahan institut pada era 80-an, semua orang menyadari bahwa Diana telah berubah. Pukul enam pagi, dia tidak lagi bangun lebih awal untuk memasakkan bubur millet dan merebus telur bagi Yanto, tidak lagi menyetrika jas putih Yanto hingga tanpa satu lipatan pun. Tepat tengah hari, dia tidak lagi seperti biasanya menunggu di depan gerbang institut penelitian, menenteng kotak makan berisi makanan hangat untuk sosok yang selalu datang terlambat itu. Pukul sepuluh malam, dia tidak lagi menyalakan lampu dan duduk di depan jendela, lalu menunggu Yanto pulang kerja sekalipun sedang hujan. Perubahan itu terus berlanjut selama seminggu penuh. Pada malam ketujuh, pukul sepuluh lewat tiga puluh, Yanto mendorong pintu masuk rumah. Dia meletakkan berkas penelitian di tangannya, melepas mantel yang masih berbau laboratorium, lalu akhirnya menatap Diana yang sedang membaca di bawah lampu. "Ada apa denganmu belakangan ini?" Selama seminggu ini, itulah kalimat pertama yang Yanto ucapkan pada Diana. Suara Yanto datar, seperti larutan titrasi di laboratorium. Yang begitu tepat, tenang, tanpa emosi berlebih. Gerakan Diana membalik halaman buku terhenti sejenak. Dia mengangkat kepala, menatap Yanto. Dalam bayangan lampu, Yanto memang tampak menawan. Pesona yang lahir dari aura akademik, dingin dan berwibawa, dengan sorot mata yang matang melampaui usianya. Gadis-gadis di kompleks perumahan institut sering mengatakan, bahwa Profesor Yanto hanya perlu berdiri di sana tanpa bicara, dan orang-orang takkan bisa mengalihkan pandangan. Diana dulu juga tidak bisa mengalihkan pandangan. Namun, kini, setelah hidupnya berulang sekali lagi, dia ingin memilih cara hidup yang berbeda. Di kehidupan sebelumnya, semua orang iri padanya, mengatakan Diana beruntung bisa menikah dengan Yanto. Yanto punya masa depan gemilang, muda belia sudah masuk institut fisika terbaik negara, diakui sebagai genius penelitian. Belum lagi wajahnya tampan dan berkarisma. Ke mana pun dia pergi selalu jadi pusat perhatian. Menikah dengan pria seperti itu, katanya, adalah berkah dari leluhur. Diana pun pernah percaya, dengan hati penuh cinta rendah hati dan membara, menikah dengan Yanto. Pada hari pertama pernikahan, Yanto sudah berkata padanya, "Dalam hatiku, penelitian selalu nomor satu. Aku nggak punya waktu untuk cinta, nggak punya tenaga untuk mengurus keluarga. Kamu sudah pikirkan baik-baik?" Diana saat itu mengangguk dengan wajah memerah. "Aku mengerti. Tenang saja, kamu fokuslah pada penelitian, urusan rumah biar aku yang tangani." Diana benar-benar mengerti, benar-benar melakukannya. Karena Yanto tidak punya waktu, semua pekerjaan rumah dia pikul sendiri. Mulai dari mencuci, memasak, membersihkan, hingga mengurus Yanto dengan sempurna. Karena Yanto tidak peduli pada romantika, saat di hari ulang tahun, hari peringatan bersama, bahkan Hari Valentine, Diana hanya bisa menahan diri agar tidak iri melihat orang lain menerima bunga dan hadiah. "Dia terlahir untuk mengejar hal-hal besar, urusan cinta terlalu sepele," batinnya pada diri sendiri. Yanto begitu tenggelam dalam penelitian, sehingga ketika Diana mengalami kecelakaan, dia sendiri yang menelepon ambulans. Saat keguguran, dia seorang diri ke rumah sakit untuk operasi. Pada hari peringatan kematian keluarga, dia pun sendirian pergi ke makam. Kemudian, karena takut mengganggu eksperimen suaminya, bahkan ketika didiagnosis kanker, dia menahan diri untuk tidak memberi tahu. Diam-diam dia menjalani kemoterapi yang membuatnya muntah hingga tidak berdaya. Saat pulang, dia berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa, tetap mencuci pakaian serta memasak untuk Yanto. Sementara Yanto, sepenuh hati mencurahkan diri pada penelitian. Usia tiga puluh dia meraih Penghargaan Khusus Kemajuan Sains dan Teknologi Nasional. Usia tiga puluh lima dia menjadi akademisi. Usia empat puluh dia berdiri di panggung Nobel, menjadi sorotan dunia. Dalam wawancara siaran langsung global, pembawa acara bertanya, "Pak Yanto, pencapaian Anda begitu gemilang, tentu tak lepas dari dukungan keluarga. Bisa ceritakan tentang istri Anda?" Di depan kamera, Yanto tetap dingin dan rasional. Dia menyesuaikan kacamata berbingkai emas, lalu berkata dengan nada datar, "Istriku adalah hasil perjodohan keluarga. Kami hidup bersama seumur hidup, tapi aku nggak punya perasaan padanya. Seluruh tenaga dan semangatku, kuserahkan hanya untuk sains." Di menambahkan, "Cinta tak berarti, sainslah yang abadi." Wawancara itu memicu pujian luas. Ada yang berkata dia berjiwa besar, mengorbankan cinta demi sains. Ada yang menyebutnya agung, hatinya memuat seluruh umat manusia, seorang raksasa sejati dalam sains. Memang, dia benar-benar mengubur diri dalam penelitian berikutnya, tidak pernah pulang lagi. Karena itu, Yanto tidak pernah tahu Diana muntah darah hingga jatuh pingsan. Dia tidak pernah tahu bahwa setelah sel kanker menyebar, Diana kesakitan sepanjang malam hingga tidak bisa tidur. Dia bahkan tidak tahu saat Diana meninggal, jasadnya terbaring di rumah yang sunyi selama tiga hari penuh, sampai akhirnya seorang tetangga yang curiga menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Arwah Diana melayang di udara, menyaksikan pemakamannya sendiri diselesaikan dengan tergesa-gesa, menyaksikan Yanto di laboratorium menerima kabar lalu hanya bergumam singkat sebelum menutup telepon. Diana akhirnya sadar, mereka bukanlah orang yang sejalan. Yanto adalah ilmuwan yang bersinar terang, tetapi menjadi istrinya terlalu menyakitkan. Karena di hati Yanto hanya ada sains, bukan dirinya. Ketika Dian mendapati dirinya kembali ke tahun 1983, hal pertama yang dilakukan Diana adalah pergi ke kantor kelurahan untuk mengajukan perceraian. Hal kedua, dia membuka kembali buku-buku pelajaran SMA dan mendaftar mengikuti ujian masuk perguruan tinggi yang baru saja dibuka kembali setelah bertahun-tahun terhenti. Kini, dia sudah diam-diam menyelesaikan ujian itu, dan dua hari lagi, hasilnya akan diumumkan. Ilmuwan memang hebat, tetapi Diana tidak ingin lagi jadi istri ilmuwan. Hidup ini panjang dan indah, dan kali ini, dia ingin menjalaninya untuk dirinya sendiri. "Nggak ada apa-apa, hanya sibuk saja belakangan ini." Diana menutup buku di tangannya, sebuah buku panduan matematika tingkat SMA. Kening Yanto berkerut semakin dalam. "Sibuk apa?" Nada suaranya datar, tatapannya penuh ketidakmengertian, seolah Diana sibuk itu hal yang tidak masuk akal. Di dalam hatinya, Diana hanyalah seseorang yang seharusnya berputar mengelilinginya, mengurus rumah, menjadi penopang belakang. Itulah seluruh nilai diri Diana. Hati Diana sempat terasa perih, tetapi segera mati rasa. Cinta harus dimulai dari mencintai diri sendiri. Di kehidupan lalu dia tidak pernah mencintai dirinya, bagaimana bisa berharap pria genius itu mencintainya, yang hanya seorang ibu rumah tangga. Tepat pada saat ini, dari luar jendela terdengar suara nyaring ibu-ibu tetangga. "Diana begitu baik, bertahun-tahun mengurus Pak Yanto dengan sempurna. Jarang-jarang tampak dia marah seperti ini, pasti karena sedang kesal." "Kudengar, beberapa hari lalu ulang tahunnya. Dia masak banyak hidangan, menunggu sampai tengah malam, tapi Pak Yanto nggak pulang. Siapa pun pasti akan merasa kecewa." "Huh, Pak Yanto, sesibuk apa pun kamu, nggak boleh begitu dong." Yanto mengernyit lebih dalam, menoleh ke Diana dan menjelaskan dengan nada datar, "Aku nggak pernah rayain ulang tahun siapa pun. Waktu itu bisa kupakai untuk menyelesaikan satu set perbandingan data." Dia diam, tidak berkata apa-apa. Sambil melihat ekspresi Diana, Yanto mengeluarkan dua lembar tiket dari saku dan meletakkannya di meja. "Institut membagikan dua tiket film ini. Aku ajak kamu pergi lihat. Besok kamu kembali normal, jangan jadikan ini kebiasaan." Diana menatap dua tiket itu. Kertas dengan huruf merah. Di masa itu benda seperti ini tergolong langka. Kalau di kehidupan lalu, dia pasti senang sampai tidak bisa tidur semalaman. Kini, yang dia rasakan hanyalah ironi. "Aku nggak mau pergi," ucap Diana. Yanto tertegun. Dia menatap Diana, matanya memancarkan keterkejutan yang jarang terlihat. Tiga tahun menikah, Diana tak pernah sekalipun berkata tidak padanya.
Bab Sebelumnya
1/28Bab selanjutnya

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.