Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 2

"Kenapa nggak mau pergi?" tanya Yanto Diana berdiri. "Aku mau tidur." Dia berbalik menuju kamar tidur, tetapi Yanto mengikuti. Yanto berdiri di hadapannya, menghalangi jalan. "Ganti baju, kita pergi sekarang." Diana menatapnya, tiba-tiba teringat banyak momen serupa di kehidupan lalu. Apa pun yang Yanto putuskan, dirinya hanya bisa patuh. Yanto seorang ilmuwan, pilar negara, waktunya berharga, keputusannya selalu benar. Jadi dirinya tidak boleh punya pendapat, tidak boleh punya emosi, tidak boleh ... punya pikiran sendiri. Diana masih ingin menolak, tetapi Yanto sudah meraih mantel dan memaksanya keluar rumah. Satu jam kemudian, mereka tiba di bioskop. Film yang diputar adalah "Kisah Cinta Gita", kisah cinta sepasang muda-mudi. Diana menatap layar, sementara Yanto di sampingnya tetap membaca catatan penelitian dengan cahaya redup. Mereka duduk bersebelahan, tetapi seperti berasal dari dua dunia berbeda. Saat film usai, sudah lewat pukul sembilan malam. Yanto mengemudi membawa Diana pulang, pikirannya masih sibuk dengan data eksperimen. Hingga di tengah jembatan, tiba-tiba sebuah truk melaju dari arah berlawanan. Lampu depan menyilaukan, kecepatannya begitu tinggi, menabrak lurus ke arah mereka! Diana refleks berteriak, "Awas!" Yanto menginjak rem, tetapi sudah terlambat. Mobil kehilangan kendali dan terjun dari tepi jembatan, air sungai yang dingin menusuk segera menerobos masuk dari segala arah! Diana tidak bisa berenang, rasa takut yang mencekik dan sesak membuat tenggorokannya seolah terhenti. Dia berusaha mati-matian membuka pintu mobil, tetapi tekanan air membuat pintu terkunci rapat! Dalam kekacauan itu, matanya menangkap sosok Yanto di kursi pengemudi. Yanto bukan berusaha menyelamatkannya, melainkan tiba-tiba membungkuk ke kursi belakang. Di sana ada tas kulit cokelat yang selalu Yanto bawa, berisi data penelitian dan naskah penting. Air sungai dengan cepat menenggelamkan kepala mereka. Kesadaran Diana mulai kabur, dan dalam pandangan terakhirnya, dia melihat Yanto memeluk erat tas itu, menghantam kaca samping dengan sekuat tenaga. Kaca akhirnya pecah, arus deras menerobos masuk. Yanto merangkul "harta karunnya", merangkak keluar lewat jendela, tanpa sekalipun menoleh pada Diana. Saat air yang dingin menusuk menelan seluruh tubuhnya, Diana sempat berpikir. Memang, di hatinya, data itu selalu lebih penting daripada diriku! Ketika sadar kembali, Diana sudah di rumah sakit. Bau disinfektan menusuk hidung, seluruh tubuhnya terasa remuk. Dia membuka mata, melihat langit-langit putih dan seorang perawat sedang mengganti perban. "Anda sudah sadar, ya. Pak Yanto bilang ada eksperimen mendesak, jadi Anda harus menjaga diri sendiri. Biaya pengobatan sudah dibayar, kupon makan ada di nakas, kantin ada di lantai satu." Diana mengangguk, tidak berkata apa-apa. Dia sudah terbiasa. Di kehidupan lalu pun sama. Dia kecelakaan, Yanto pergi melakukan eksperimen. Dia keguguran, Yanto pergi rapat. Orang tuanya wafat, Yanto pergi menerima penghargaan. Dunia Yanto begitu luas, mampu menampung seluruh jagat raya. Dunia Diana begitu kecil, hanya mampu menampung dirinya seorang. "Oh ya?" Perawat teringat sesuatu. "Barusan ada surat untuk Anda, sudah kutaruh di nakas." Diana menoleh, melihat amplop cokelat. Dia meraihnya dan membukanya. Di dalamnya ada surat penerimaan kuliah di Universitas Kawala, jurusan sastra. Jari-jarinya bergetar. Di kehidupan lalu, penyesalan terbesarnya adalah tidak pernah kuliah. Di usia tujuh belas tahun, sebenarnya dia sudah diterima masuk universitas. Namun, karena keluarga miskin dan adiknya juga harus bersekolah, keluarganya memintanya untuk menyerahkan kesempatan itu. Kemudian, dia menikah dengan Yanto, dan sejak itu dia semakin tidak punya peluang. "Diana, urus rumah dengan baik, itu dukungan terbesar untukku." Inilah ucapan Yanto padanya. Maka Diana pun menutup buku-bukunya, mulai menggenggam spatula. Keputusan itu berlangsung selamanya. Kini, setelah hidup kembali, dia akhirnya berhasil masuk universitas. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar bisa hidup demi dirinya sendiri. Sekarang, tinggal menunggu laporan perceraian turun, lalu dia bisa pergi. Air mata jatuh di atas surat penerimaan, membuat tinta perlahan melebar. Diana menghapus air matanya, lalu melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku dekat tubuh. Hari-hari berikutnya, dia sendiri di rumah sakit. Kadang-kadang para perawat mengobrol santai, bercerita tentang ibu yang baru melahirkan di kamar sebelah, suaminya setiap hari menemaninya. Ada pula kisah tentang seorang pria yang berlari setengah kota hanya untuk membeli ayam kampung demi memulihkan istrinya. Diana hanya mendengarkan dalam diam. Kaki kirinya yang berbalut gips terasa berat, tetapi hatinya justru ringan. Hari keluar rumah sakit, dia bertumpu pada tongkat, pergi ke koperasi untuk membeli barang-barang yang diperlukan menuju Kota Kawala. Sebuah gelas enamel, termos air panas, selimut kapas tebal, dan beberapa pena baru. Ketika keluar, hampir tiba waktu makan. Dia masuk ke restoran milik pemerintah di dekat situ, baru saja mencari tempat duduk, lalu melihat Yanto. Yanto bersama seorang wanita. Wanita itu bernama Rina Kartika, asisten peneliti di institut, adik seperguruan Yanto. Dia mengenakan kemeja dakron yang sedang tren, rambutnya dikeriting, senyumnya manis. Sosok yang mudah sekali disukai orang. Hati Diana terasa seperti tertusuk jarum. Rina Kartika, nama wanita ini dia ingat seumur hidup di kehidupan sebelumnya. Banyak wanita menyukai Yanto, tetapi Yanto selalu dingin, pandangannya hanya tertuju pada data eksperimen. Namun, Rina cerdas. Dia tidak pernah bicara soal cinta, hanya bicara soal penelitian. "Kak Yanto, menurutku data ini ada masalah ... " "Kak Yanto, aku ingin berdiskusi denganmu soal rancangan eksperimen ini ... " "Kak Yanto, bisa bantu cek makalah ini ... " Dengan alasan penelitian, dia bisa terang-terangan mendekati Yanto. Mereka makan bersama, lembur bersama, dan dinas bersama. Di kehidupan sebelumnya, waktu yang dihabiskan Yanto untuk berbicara dengan Rina, jumlah pertemuan, bahkan frekuensi kontak fisik, semuanya jauh lebih banyak dibanding Diana, istri sahnya. Dulu, jika melihat ini, Diana pasti sakit hati hingga tidak bisa makan. Kini, dia hanya tenang mengalihkan pandangan, kembali melihat menu. Sayangnya, mata Rina tajam. Dia segara melihat Diana. "Kak Diana?"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.