Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4

"Bukan aku, Rina yang membakarnya!" Diana berusaha membela diri dengan suara serak, tapi terdengar lemah. "Bukan kamu?" Yanto memotong ucapannya. Sorot mata di balik kacamatanya penuh dengan kekecewaan. "Rina sendiri lihat kamu mau membakar berkas itu! Pelayan restoran juga bersaksi, melihat kalian bertengkar. Makanya kamu membakar berkas itu, 'kan?" "Diana, aku kira kamu hanya bodoh, ternyata kamu begitu jahat! Sudah nggak mau mengaku, dan sekarang masih menuduh Rina. Setiap peneliti sejati menganggap data lebih berharga daripada nyawa! Kamu pikir semua orang sepertimu, hanya sibuk cemburu dan memakai cara-cara rendah seperti ini!" Setiap kata-katanya bagaikan cambuk beracun, menghantam keras ke hati Diana. Yanto lebih memilih percaya Rina, percaya pelayan asing itu, daripada percaya pada istrinya yang sudah berbagi ranjang bertahun-tahun! Dia masih ingin membantah, tetapi tepat saat itu, pintu kamar rawat diketuk. Dua orang berpakaian ala pejabat melangkah masuk. Tatapan mereka pada Diana penuh dengan penghinaan, tetapi ketika beralih kepada Yanto, seketika berubah menjadi penuh rasa hormat. "Pak Yanto, hasil penyelidikan sudah keluar. Data rusak, semua bukti mengarah pada Diana. Sesuai aturan, merusak data penting harus ditahan tujuh hari. Anda ... benar-benar mau menggantikannya?" Diana menatap Yanto dengan tidak percaya. Yanto ... ingin menggantikannya masuk ke rumah tahanan?! Yanto mengangguk pelan. "Dia istriku. kondisi di rumah tahanan takkan bisa dia tahan. Tanggung jawab ini biar aku yang tanggung." "Tapi Anda adalah talenta nasional, ini akan ... " "Aku sudah bilang, aku yang pergi." Suara Yanto tegas, tidak bisa dibantah. Beberapa orang saling berpandangan, akhirnya mengangguk, "Baiklah, silakan ikut kami." Yanto mengangguk, lalu berbalik hendak pergi. "Yanto!" Diana memanggilnya. Langkah Yanto terhenti, tetapi dia tidak menoleh. "Kenapa?" Diana bertanya dengan suara bergetar, "Kenapa kamu mau menerima hukuman menggantikan aku? Bukankah kamu sangat membenciku? Bukankah kamu menganggap aku jahat?" Yanto terdiam beberapa detik, lalu berbalik menatap Diana. "Aku sudah bilang ... kamu nggak akan sanggup bertahan di dalam sana. Nggak boleh terjadi apa-apa padamu," ucapnya, setiap kata terdengar jelas dan dingin. "Institut penelitian butuh orang yang mengurus kebutuhan sehari-hari. Ketelitian orang lain nggak memenuhi standarku. Hal-hal kecil ini, saat ini hanya kamu yang bisa lakukan. Jadi, kamu harus tetap sehat, dan terus melakukan tugasmu." Boom! Diana merasa seolah ada sesuatu yang meledak di dalam kepalanya! Telinganya berdengung, darah di tubuhnya seakan membeku lalu berbalik deras ke kepala, menghantam jantung dengan rasa sakit dan dingin yang mematikan! Jadi itu alasannya ... Apa yang dikatakan Rina salah. Yanto memang tidak mencintainya, tetapi juga tidak mau menceraikannya. Bahkan melindunginya bukan karena ikatan suami-istri, bukan karena tanggung jawab, melainkan karena peran sebagai "pengurus rumah" yang dia jalankan terlalu baik, dan tidak tergantikan! Di kehidupan sebelumnya, pertanyaan yang seumur hidup tidak pernah dia pahami, kini terjawab. Diana tiba-tiba tertawa, air mata mengalir bersama tawanya. Yanto mengernyit. "Kamu istirahat saja beberapa hari ini." Dia berbalik hendak pergi, tetapi Diana kembali memanggilnya, "Yanto." Yanto menoleh. "Kalau suatu hari ada wanita yang lebih pandai mengurus, lebih rela berkorban daripada aku, apa kamu akan menggantiku?" Yanto terdiam dua detik, lalu menjawab dengan jujur, "Kalau ada orang seperti itu, dan nggak mengganggu ritme pekerjaanku, akan aku pertimbangkan."

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.