Bab 5
Diana tertawa semakin keras, sampai tubuhnya bergetar hebat.
Yanto menatapnya sekali, merasa hari ini Diana sangat aneh, tetapi karena di luar masih ada orang menunggu, dia tidak punya waktu untuk memikirkan lebih jauh.
"Kamu istirahat yang cukup," Yanto mengulang sekali lagi, lalu mendorong pintu dan pergi.
Begitu pintu tertutup, tawa Diana seketika berhenti.
Air mata mengalir tanpa suara, dia menggigit bibirnya sampai sakit agar tidak menangis.
Tiba-tiba, pintu kamar rawat dibuka dengan keras. Rina masuk.
Rina menutup pintu, berjalan ke sisi ranjang, menatap Diana tajam.
"Nggak kusangka," Rina mengejek dingin, "ternyata kamu begitu penting di hati Kak Yanto. Dia rela masuk tahanan daripada kamu yang masuk ke sana."
Penting?
Mendengar itu, Diana ingin tertawa.
Sebagai seorang pengasuh, dia memang penting.
"Apa yang kamu tertawakan?" Rina merinding melihat tawanya. "Diana, kuberi tahu saja, semua masalah yang menimpa Kak Yanto kali ini karena ulahmu!"
Tiba-tiba, Rina melangkah maju dan mencabut infus di tangan Diana.
"Kalau Kak Yanto nggak tega menyakitimu, biar kulakukan untuknya!"
Diana belum sempat bereaksi, sudah ditarik Rina dari tempat tidur dan diseret keluar.
Tubuhnya lemah, sama sekali tidak mampu melawan.
Rina menyeretnya melewati koridor, keluar dari rumah sakit, sampai ke jalan raya.
Saat ini adalah jam pulang kerja, jalanan penuh orang.
Rina melemparnya ke tanah, lalu berteriak pada kerumunan.
"Semuanya, lihat! Inilah wanita itu! Dia sengaja membakar data penelitian penting negara, membuat Pak Yanto, ilmuwan termuda kita, harus masuk tahanan menggantikannya!"
Kerumunan gempar.
"Apa? Membakar data?"
"Pak Yanto? Yang meneliti bom atom itu?"
"Ya ampun, beraninya dia!"
Rina terus menghasut, "Pak Yanto demi penelitian rela mengorbankan segalanya, tapi wanita ini, hanya karena cemburu, membakar hasil kerja keras Pak Yanto selama tiga tahun! Sekarang Pak Yanto dihukum menggantikannya, sementara dia masih bisa berbaring di rumah sakit dengan tenang!"
"Keji sekali!"
"Beri dia pelajaran!"
Entah siapa yang pertama melempar batu.
Lalu, lebih banyak orang ikut bergabung.
Batu, sayuran busuk, bahkan sekop ... menghujani Diana.
Dia meringkuk di tanah, melindungi kepala dengan tangan, tetapi tetap dipukuli hingga tubuhnya penuh darah.
Sakit.
Sangat sakit.
Namun, yang lebih sakit adalah hati.
Dia menatap wajah-wajah yang penuh amarah itu, menatap senyum puas Rina, tiba-tiba teringat kehidupan sebelumnya. Saat dia mati, juga begini, tidak ada yang peduli bagaimana dia mati, tidak ada yang ingat siapa dia.
Dia hanyalah istri Yanto, sebuah pelengkap yang tidak penting.
Sebuah palu menghantam tulang rusuknya.
"Krak!"
Suara tulang yang patah.
Pandangan Diana gelap, lalu pingsan total.
Saat sadar kembali, dia masih di rumah sakit.
Dokter memberitahu, dua tulang rusuknya patah, kelak saat hujan atau cuaca lembap akan terasa sakit.
Diana tidak berkata apa-apa.
Dia hanya mengambil telepon di samping ranjang, menghubungi lembaga penelitian.
"Aku mau melapor," katanya dengan suara tenang. "Rina Kartika menghasut kerumunan dan dengan sengaja melukai orang, mohon organisasi menindak tegas."
Di ujung telepon ada keheningan beberapa detik, lalu suara itu berkata, [Kami akan melakukan verifikasi.]
Tiga hari kemudian, hasil verifikasi keluar.
Rina dibawa pergi dan dikirim untuk kerja paksa.
Diana berbaring di ranjang rumah sakit saat mendengar kabar itu, dan hatinya terasa tenang.
Akhirnya, hidupnya kembali tenang.
Seminggu kemudian, Diana keluar dari rumah sakit dan pulang.
Dia membuka pintu rumah, melihat Yanto sudah kembali dari tahanan. Yanto duduk di ruang tamu, memegang buku, tetapi jelas tidak membacanya.
Mendengar suara pintu, Yanto menoleh.
"Kamu yang melaporkan Rina hingga dikirim ke kerja paksa?" tanyanya, kalimat pertamanya adalah itu.
Diana tidak menjawab, hanya meletakkan barang-barangnya.
"Kamu tahu dia itu orang berbakat di bidang penelitian, 'kan?" Yanto berdiri, melangkah mendekatinya, lalu lanjut berkata, "Tangannya sangat penting, otaknya sangat penting. Sekarang kamu mengirimnya ke kerja paksa, sama saja dengan menghancurkan masa depannya!"
Diana mendongak menatap Yanto.
"Yanto." Suaranya datar. "Kamu hanya melihat dia dikirim untuk direhabilitasi, apakah kamu pernah melihat bagaimana dia menyiksaku? Dia menyeretku keluar rumah sakit, menghasut orang-orang, memfitnah dan memukulku, membuat tulang rusukku patah, pendarahan dalam, hampir mati. Setelah semua itu, apa dia nggak pantas dihukum?"
"Dia memang agak impulsif, bertindak tanpa pikir panjang," ujar Yanto sambil mengernyit, "tapi apa kamu nggak bisa memilih cara lain? Laporkan ke institut kamu, beri teguran, atau hukuman internal, semuanya bisa! Hanya saja, nggak seharusnya kamu membalas dendam dengan cara ini."
"Balas dendam?" Diana tersenyum. "Kamu pikir aku sedang balas dendam?"
"Memangnya bukan?" balas Yanto.
Diana menatap Yanto, menatap pria yang dicintainya seumur hidup, tiba-tiba merasa sangat lelah.
Lelah hingga tidak ada tenaga untuk berdebat.
"Ya," sahut Diana, "aku memang balas dendam. Aku sudah melakukannya. Lalu apa? Kamu mau membunuhku?"
Wajah Yanto langsung menghitam.
Dia menatap Diana beberapa detik, lalu berbalik masuk ke kamar Diana.
"Kau mau apa?!" Diana terkejut, firasat buruk mencengkeram hatinya, dia terhuyung mengikuti langkahnya.
Terlihat Yanto membuka lemari pakaiannya, mengobok-obok bagian paling bawah dan mengeluarkan sebuah kotak kayu.
Di dalamnya ada sebuah gelang perak, peninggalan ibunya, satu-satunya warisan yang ditinggalkan ibunya untuknya.
"Kamu mau apa?!" Diana berlari maju, berusaha merebutnya kembali.
Yanto mengangkat tangan, menghindar dari upaya Diana.
"Aku tahu benda ini sangat berarti bagimu." Yanto mengucap pelan, setiap kata jelas dan dingin sebagai peringatan, "Jadi, Diana, kalau kamu sekali lagi menyakiti talenta peneliti atau merusak data penelitian, aku akan menghancurkannya."
"Yanto! Berani sekali kau! Kembalikan padaku!!" Diana gemetar, semua ketenangan dan rasa matinya hancur. Dia berlari panik, hanya ingin merebut kembali peninggalan ibunya.
"Ingat kata-kataku." Yanto membawa gelang itu, berbalik hendak pergi.
Tepat saat itu, seseorang di luar pintu berteriak, "Pak Yanto! Ada urusan mendesak di lembaga!"
Yanto menjawab singkat, lalu bergegas keluar.
Diana mengejarnya, berusaha merebut gelang itu. Yanto dengan kesal mengibaskan tangan ...
Bam!
Diana terhempas, kepalanya membentur kusen pintu dengan keras.
Rasa sakit yang tajam menyergap, pandangannya menghitam, dia terjatuh tersungkur ke lantai.
Cairan hangat berwarna merah mengalir di dahinya.