Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5

Jensen menarik Inara lalu pergi. Aku berdiri di luar pintu, bersandar ke dinding, napasku terasa sesak. Tak lama kemudian, ponselku berbunyi menandakan pesan masuk, dari Inara. [Aku menang.] [Lihat saja, semua yang kamu miliki akan kurebut satu per satu.] Aku melirik sekilas, mematikan ponsel, lalu berbalik masuk ke rumah lama itu. Perabotan yang dulu ada sudah dipindahkan seluruhnya, lantai penuh lubang dan cekungan, di sudut balkon tergeletak beberapa ember cat dinding yang belum dibuka, warnanya merah muda, warna kesukaan Inara. Ruangan itu kosong melompong, tidak menyisakan apa pun. Area jendela di kamar tidur yang dulu paling kusukai telah dihancurkan. Taplak meja bermotif bunga kesayanganku dibuang ke tumpukan sampah, dan tirai yang dulu kupilih dengan Jensen kini teronggok sendirian di tempat sampah di bawah gedung. Tak ada yang peduli. Aku berkeliling di dalam rumah itu berulang kali, hingga akhirnya benar-benar menerima kenyataan. Di ambang pintu, aku menoleh sekali lagi ke rumah yang pernah menjadi rumahku, lalu pergi tanpa menoleh kembali. Saat kembali ke vila dan melihat perabotan di dalamnya, aku teringat kata-kata Inara. Dengan secepat mungkin aku menghubungi pembeli furnitur bekas yang sudah kukenal dan mengosongkan satu per satu perabot yang pernah disebut Inara. Di sisa waktu hidupku, aku tidak ingin lagi dipengaruhi oleh apa pun. Setelah pembeli furnitur bekas itu pergi, hari sudah larut malam. Tubuhku basah oleh keringat, aku berbaring di atas karpet dan merasakan kelegaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kalender di dinding makin menipis hari demi hari, dan batinku pun makin tenang. Seiring dengan makin seringnya aku mengonsumsi obat pereda nyeri, makin berkurang pula hari-hari saat aku benar-benar sadar. Namun tiba-tiba, suatu hari, kondisiku justru membaik. Aku menghubungi petugas kurir dan menyerahkan dua amplop dokumen kepadanya. Satu dikirimkan kepada Yanne, berisi pesan-pesanku serta daftar aset atas namaku. Satu lagi dikirimkan kepada Jensen, itu adalah surat perjanjian perceraian yang sudah kutandatangani sebelumnya. Kalaupun harus mati, aku tetap ingin memutuskan semua hubungan dengannya. Kami sama-sama tidak ingin bertemu, jadi tidak perlu ada pembicaraan tatap muka. Lagi pula, aku tahu dia pasti akan menandatanganinya. Setelah semua itu selesai, aku duduk di halaman sambil berjemur. Cuaca sangat cerah, suasana hatiku pun terasa jauh lebih baik. Melihat wajahku yang pucat, aku berniat mengoleskan sedikit lipstik. Saat mencari lipstik di kamar tidur, tanpa sengaja aku menemukan buku harian lama. Buku itu terlupakan di sudut terdalam laci, tertutup lapisan debu. Aku membuka buku harian itu, isinya mencatat perjalanan cintaku dengan Jensen. Dari awal munculnya perasaan satu sama lain, pengakuannya yang masih polos, masa kuliah yang manis, lalu merintis usaha, mendirikan perusahaan, dan membesarkannya sedikit demi sedikit ... Setiap catatan kutulis panjang lebar dan kubaca dengan saksama. Sudut bibirku tak bisa menahan senyum. Namun, makin ke belakang, tulisannya makin sedikit, hingga akhirnya hanya tersisa satu kalimat. [Hari ini dia nggak pulang lagi.] Aku melirik tanggalnya, itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Sejak hari itu aku tak pernah lagi menulis, dan buku harian ini pun ikut terlupakan. Aku duduk di depan meja tulis, ragu selama beberapa detik, lalu kembali mengambil pena. Saat aku selesai menulis, hari sudah menjelang senja. Perutku mulai terasa nyeri lagi, dan seperti biasa, aku menelan beberapa pil penghilang rasa sakit. Berbaring di atas karpet, efek obat seakan mulai bekerja, rasa sakit perlahan mereda, tubuhku pun terasa ringan. Dalam keadaan setengah sadar, aku seakan melihat Jensen yang berusia delapan belas tahun berlari ke arahku. Cahaya putih berkelip di sekitar kami, hidungnya memerah, tapi senyumnya tetap hangat. Dia mengulurkan tangannya kepadaku dengan mata berbinar. Aku menatapnya sambil meletakkan tanganku di telapak tangannya, lalu berlari bersamanya menembus cahaya putih itu.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.