Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6

Jensen baru membuka paket itu keesokan harinya. Padahal sejak sore hari sebelumnya paket itu sudah dia terima, namun setelah melirik nama pengirimnya, dia langsung meletakkannya di pinggir. Hingga keesokan harinya ketika Inara mengingatkannya, barulah dia teringat akan hal ini. Saat melihat surat perjanjian perceraian, Jensen merasa Nindya benar-benar sudah keterlaluan dan tidak masuk akal. "Cerai? Bu Nindya pasti sedang marah, 'kan? Pasti masih soal rumah lama itu. Tapi Pak Jensen, aku sudah menjelaskan padanya, bahwa aku tinggal di sana karena urusan pekerjaan. Tapi Bu Nindya tetap nggak bisa memahami. Pak Jensen, bagaimana kalau aku saja yang nggak jadi pindah?" Perkataan Inara itu langsung membangkitkan amarah di dalam hati Jensen. "Kenapa nggak jadi pindah? Kali ini aku harus memberinya pelajaran! Telepon tim renovasi, suruh mereka mempercepat pekerjaannya!" Mendengar ucapannya yang penuh kemarahan, Inara menyembunyikan kepuasan di balik sorot matanya. Dia menjawab dengan lembut dan keluar dari ruangan. Teruslah membuat keributan, makin parah Nindya bertingkah, makin senang dia. Jensen melemparkan surat perjanjian cerai itu ke atas meja, lalu menekan nomor telepon Nindya, namun tak ada jawaban. Dia menelepon beberapa kali lagi, lalu memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia ingin melihat sejauh apa Nindya akan terus membuat ulah. Jika Nindya masih juga ingin bercerai, maka dia akan mengabulkan keinginan wanita itu. Jensen mengemudi pulang ke rumah, namun rumah itu kosong, bahkan banyak perabot yang sudah berkurang. Dia tidak terlalu peduli dan memanggil nama Nindya dengan suara keras, tetapi tak ada jawaban. Dia naik ke lantai atas dan masuk ke kamar tidur, hanya untuk mendapati ruang ganti yang biasanya penuh pakaian kini kosong melompong. Hadiah-hadiah yang dulu dia berikan, yang kata Nindya akan dia pajang di tempat paling terlihat, kini tak satu pun tersisa. Entah mengapa, hati Jensen merasa sedikit hampa. Di kamar tidur tak tersisa apa pun, kecuali sebuah buku catatan di atas meja tulis. Buku catatan itu tampaknya sudah cukup lama, sudut-sudut halamannya menguning dan melengkung. Jensen membukanya dengan rasa penasaran. Di halaman pertama sampul dalam, muncul tulisan tangan Nindya yang halus di hadapannya. Di sana tertulis nama mereka berdua, dengan sebuah gambar hati kecil yang kekanak-kanakan di tengahnya. Jensen teringat, itulah hal yang paling disukai Nindya saat berusia delapan belas tahun. Sejak saat itu, dia memang gemar menulis buku harian. Setelah mereka bersama, hampir setiap hari dia menulis. Jensen pernah penasaran dengan isinya dan meminta Nindya memperlihatkannya, namun dia tak pernah mengizinkan. Karena itu, setiap malam saat dia sudah tertidur, Jensen diam-diam mengeluarkan "harta karun"-nya, membacanya, lalu meletakkannya kembali. Jensen ingat, isinya selalu tentang dirinya. Kemudian, setelah perusahaan berjalan stabil, dia makin sibuk dan perlahan tak lagi punya niat untuk mengintip buku harian Nindya. Dia juga beberapa kali melihat Nindya menulis sesuatu di ruang kerja. Setelah itu, dia tak lagi mengingatnya. Jensen membolak-balik buku itu dengan sembarangan, dia tak punya waktu luang untuk membaca hal-hal sentimental semacam ini. Dia langsung membuka halaman terakhir buku harian itu, dan di sana hanya tertulis satu kalimat. [Jensen, selamat tinggal.] Jensen menatapnya dalam diam, amarah perlahan berkumpul di dadanya. Dengan marah dia melemparkan buku harian itu ke tempat sampah, lalu berbalik menuju pintu depan. Lagi-lagi kabur dari rumah! Apa Nindya pikir dirinya anak tiga tahun, mengira cara seperti ini bisa menakut-nakutinya?! Benar-benar konyol! Jensen menemukan nomor telepon Nindya, berniat memblokirnya lagi, namun pada saat itu justru telepon dari wanita itu berdering. Dia mendengus dingin, lalu mengangkat panggilan itu. "Bukannya kamu pergi dari rumah? Kenapa kali ini cuma bertahan satu hari?" Di seberang sana, hening. Setelah beberapa saat, barulah terdengar suara perempuan yang tersendat oleh tangis. [Aku Yanne.] [Cepat datang ke rumah duka.] [Nindya sudah meninggal.]

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.