Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 4 Dia Tak Pernah Bisa Melepaskannya

"Nona Tania yang mana? Bocah sialan, mau dipukul kamu, ya?" Nenek mengancam dengan mendengus kesal, sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan Aldo. Tania mengenakan piama, Nenek baru saja pulang ke tanah air, dan di kursi penumpang depan duduk seorang pria yang nyaris asing. Tania sama sekali tak menyangka Aldo akan memilih suasana seperti ini untuk memberi tahu Nenek tentang perceraian mereka. Tangannya refleks mencengkeram ujung bajunya. Tania menarik napas dalam dua kali, memaksa dirinya menyunggingkan senyum tipis. "Nenek, aku dan Aldo sudah bercerai." Nada bicara Tania sangat tenang, seolah dia sedang membicarakan sesuatu yang sama sekali tak ada hubungannya dengan dirinya. "Tania, bocah ini memang nggak bisa diandalkan. Jangan bercanda dengan Nenek, jantung Nenek nggak kuat." Semangat di wajah Nenek memudar, berganti dengan sorot mata penuh harap. Berharap kata-kata Tania barusan hanyalah sebuah lelucon. Namun, Tania tak sanggup mengatakannya. "Nenek, kami sudah menyelesaikan seluruh prosedur perceraian. Aldo bersedia pergi tanpa membawa apa pun. Perusahaan diberikan kepadaku, begitu juga rumah. Kami nggak punya anak, jadi nggak perlu memperebutkan hak asuh. Prosesnya disetujui dengan sangat cepat." Tania menjelaskan, sementara hatinya terasa dingin dan nyeri. Nenek menjulurkan tangan melewati sandaran kursi dan menepuk bahu Aldo dengan keras. "Apa karena perempuan cerewet itu lagi-lagi mempermasalahkan soal anak? Sudah kubilang, Keluarga Sendrata nggak punya takhta untuk diwariskan! Urusan anak tergantung takdir! Kalau dia yang memaksa kalian bercerai, dia pasti kena karma!" Lampu merah sudah lama berubah menjadi hijau. Mobil-mobil di belakang terus membunyikan klakson, sehingga Aldo langsung membelok ke samping jalan dan berhenti. "Nggak ada yang memaksaku! Aku yang sudah nggak mencintainya lagi!" Aldo mengakuinya dengan terus terang. Kejujuran itu jauh lebih langsung dan tajam daripada segala bentuk penyangkalan, dengan mudah menghancurkan senyum di wajah Tania. "Apa katamu? Ulangi sekali lagi!" Nenek benar-benar marah, matanya membelalak sambil menuntut penjelasan. Takut Aldo mengatakan sesuatu lagi yang bisa menyakiti hati Nenek, Tania segera menyela, "Nenek, memang benar di antara kami sudah nggak ada perasaan. Lebih baik berpisah." Lebih baik berpisah. Tania mengulanginya dalam hati, menghibur dirinya sendiri bahwa setidaknya Aldo tidak muncul di hadapannya, sambil membawa Lea dan menggendong anak. Suasana di dalam mobil mendadak sunyi. Beberapa saat kemudian, Aldo membuka pintu mobil dan turun, lalu membuka pintu di sisi Tania. "Turun!" Aldo memerintah dengan nada menahan amarah, membuat Tania kebingungan. Saat ini dia masih mengenakan piama dan bertelanjang kaki. Untuk apa dia disuruh turun? "Aku ... " Tania baru saja hendak bicara ketika Aldo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menyeretnya turun dari mobil. Di bulan September, walau panas musim kemarau belum sepenuhnya pergi, lantai tetap terasa dingin saat diinjak dengan kaki telanjang. "Aldo, kamu sakit, ya!" Tania tak tahan untuk memaki. Aldo melepaskannya, kembali ke mobil, menyalakan mesin, lalu melaju pergi dengan kencang. Tania berdiri terpaku di tempat cukup lama sebelum akhirnya menyadari apa yang baru saja terjadi. Hari ketiga setelah bercerai dari Aldo, Tania ditinggalkan di pinggir jalan entah di mana, mengenakan piama dan bertelanjang kaki. Memandang arus kendaraan yang tak henti berlalu dan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya, rasa perih yang tak tertahan meluap dari dadanya. Tania berjongkok di tepi jalan dan menangis keras. "Kenapa kamu yang dulu berkata akan menua bersamaku justru kamu yang lebih dulu memilih pergi?" "Aldo, setelah kamu pergi, apa yang harus kulakukan?" Entah sudah berapa lama menangis, Tania hanya merasa kepalanya makin pusing. Dalam keadaan setengah sadar, dia merasa seseorang menyampirkan jaket ke tubuhnya. Jaket itu masih menyisakan kehangatan dan aroma lemon yang lembut, perlahan membungkus hatinya yang membeku. Seseorang mengangkat tubuhnya. Seperti orang yang hampir tenggelam, dia mencengkeram erat jerami penyelamat terakhirnya. Tania terbangun oleh aroma disinfektan. Dia terbaring di ranjang rumah sakit, di tangan kirinya terpasang jarum infus, sementara tangan kanannya menggenggam erat tangan seorang pria. Belum sempat dia menoleh, suara pria yang tenang itu sudah terdengar di telinganya, "Sudah bangun? Apa kamu tahu kalau kamu sudah hamil dua bulan?"

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.