Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 5 Tak Pernah Bisa Berhenti Mencintainya

Telinga Tania berdengung, pikirannya seolah berkarat dan tak mampu berfungsi. Apa yang baru saja pria itu katakan? Dia hamil? Pada hari keempat setelah dia dan Aldo bercerai, dia didiagnosis hamil dua bulan!? "Kamu pernah mengalami keguguran, tubuhmu mengalami kerusakan yang cukup serius. Dengan usiamu sekarang, sebaiknya jangan memilih aborsi." Cedric berbicara sangat terus terang. Di dalam mobil tadi dia juga mendengarnya. Wanita ini baru saja bercerai dari suaminya, sangat mungkin dia akan berpikir untuk tidak mempertahankan anak ini. Tania masih sedikit linglung. Dengan tak percaya dia mengulurkan tangan menyentuh perutnya. Di sana belum terlihat perubahan apa pun, namun sudah ada satu kehidupan tumbuh di dalamnya. Setelah cukup lama, dia menengadah menatap Cedric, sudut bibirnya merekah dalam senyum cerah. "Dokter Cedric, aku akan melahirkan anak ini!" Dia sudah pernah kehilangan seorang anak, dan dia takkan membiarkannya terulang. Reaksi Tania agak di luar dugaan Cedric. Dia mengangkat alisnya sedikit, menekan emosi lain yang muncul. "Karena sebelumnya kamu nggak tahu sedang hamil, kamu sempat mengonsumsi beberapa obat. Obat-obatan itu mungkin berdampak pada janin. Selain itu, kondisi emosimu juga nggak terlalu stabil. Jika dilanjutkan, ada kemungkinan muncul depresi pra-melahirkan." Tangan yang tergantung di sisi tubuhnya mengepal erat. Tania berusaha menenangkan diri lalu berkata, "Dokter Cedric, aku benar-benar ingin melahirkan anak ini. Bisakah kamu membantuku?" Bibir Cedric terkatup membentuk garis lurus. Wanita yang terbaring di ranjang rumah sakit itu berusaha keras menyembunyikan kepanikan di balik sorot matanya, namun tak mampu menahan ketegangan dan harapan yang terpancar. Tanpa alasan yang jelas, Cedric merasa wujud Tania saat ini sangat mirip dengan seekor anak serigala kecil yang pernah dia selamatkan dulu. Setelah hening cukup lama, Cedric akhirnya berkata, "Baiklah." Tania menghela napas lega. Meski baru bertemu dua kali, dia merasa Cedric bisa memberinya rasa aman "Perihal kehamilanku, bisakah aku minta tolong Dokter Cedric untuk nggak memberitahukannya kepada mantan suamiku?" "Dia berhak tahu." Cedric menegaskan, nadanya kaku dan tidak berkompromi. "Aku sudah bercerai dengannya." Tania menjawab datar. Dia memang tidak terbiasa menjelaskan terlalu banyak kepada orang lain. Misalnya soal perselingkuhan Aldo saat masih menikah, atau tentang Lea yang sudah hamil satu bulan. Cedric terdiam, hanya sepasang matanya yang hitam berkilau terus menatap Tania. Tatapan matanya begitu jernih dan tajam, membuat kebanggaan kecil di hati Tania runtuh seketika. Tak punya pilihan lain, akhirnya dia mengalah, "Aku akan mencari kesempatan untuk memberitahunya." Cedric tetap diam, lalu mencondongkan tubuhnya, memeriksa sisa cairan di botol infus. Entah apa maksud sikapnya, Tania diam-diam mengamati ekspresi wajahnya, namun justru tertangkap basah olehnya. Keduanya terdiam. Tania segera mengalihkan pandangannya, lalu menunduk. Entah kenapa, setiap kali Cedric memasang wajah tegas, Tania selalu merasa seperti murid yang telah berbuat salah. Tatapan Cedric sangat mengintimidasi. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba bertanya, "Pernah ke Kota Listan?" "Hah?" Tania mendongak dengan wajah bingung. Cedric menurunkan pandangan, menyembunyikan emosi di balik matanya. "Nggak apa-apa." Lalu keduanya terdiam. Setelah infus selesai dan keluar dari rumah sakit, hari sudah gelap. Tania tidak langsung kembali ke apartemen, dia mencari warung pangsit di dekat rumah sakit untuk makan. Sekarang dia tidak sendirian, dia harus menjaga tubuhnya dengan baik. Baru saja makanan dihidangkan, telepon dari Bu Lanny masuk. "Kapan rencananya mau pulang?" Seperti biasa, langsung ke pokok persoalan. Tania refleks menyentuh perutnya. Mungkin tidak akan ada yang menyetujui keputusannya saat ini. "Aku sedang makan pangsit. Ada apa?" "Nenek ada di sini." Nenek Tania sudah lama meninggal. Yang dimaksud Bu Lanny tentu neneknya Aldo. Di balik uap panas pangsit, Tania seolah kembali melihat sosok Aldo yang santai dengan rokok terselip di bibirnya, tampak santai dan terkesan liar. Setelah terdiam sejenak, dia menjawab, "Aku pulang sebentar lagi." Dengan watak Nenek, jika Tania tidak memberi penjelasan yang jelas, Nenek tidak akan menerima kenyataan bahwa mereka telah bercerai. Dengan tenang dia menghabiskan pangsitnya, lalu pulang dengan taksi. Baru turun dari mobil, dia melihat mobil Aldo terparkir di pinggir jalan. Aldo bersandar malas di pintu mobil sambil memegang rokok, mengembuskan lingkaran asap. Tania melirik sekilas lalu mengalihkan pandangannya, langsung melewatinya dan berjalan ke depan. Saat mereka berpapasan, Aldo menarik pergelangan tangannya, senyum nakalnya tetap seperti biasa. "Nona Tania, tolong masuk dan bujuk nenek. Cucu kesayangannya datang menjemputnya pulang." "Mengapa Pak Aldo nggak masuk dan bicara sendiri?" Tania bertanya sambil melepaskan tangannya, lalu mundur dengan sikap menjauh. Aldo mengangkat alis dan mengangkat kedua tangan, menandakan dia tidak akan bertindak sembarangan lagi. "Aku takut kalau masuk ke rumah ini, kakiku akan dipatahkan." Mendengar itu, Tania justru tertegun. Itu perkataan yang diucapkan ayah Tania pada hari pernikahan mereka, di depan semua tamu. Jika Aldo berani memperlakukan Tania dengan buruk, ayah mertuanya pasti tidak akan membiarkannya! Semua orang menentang Tania menikah dengan Aldo, sehingga pada hari pernikahan, hanya ayahnya yang hadir. Tania tahu, ayahnya selalu menyayanginya. Rasa perih yang getir menjalar dari lubuk hatinya. "Masuklah." Kemudian Tania melangkah masuk ke rumah. Aldo mengikuti di belakang sambil bertanya heran, "Ayahmu nggak ada di rumah?" Tania sudah tiba di depan pintu. Satu kakinya melangkah masuk, lalu berhenti dan menoleh hendak mengatakan sesuatu, ketika suara ayahnya, Yudho Linardi, terdengar dari belakang, "Kalian siapa? Mau apa berdiri di depan rumahku?" "Ayah, ini aku, Tania." Tania menjawab lembut, mengulurkan tangan hendak merangkul lengan Yudho, namun dia menghindar. "Omong kosong. Tania masih sebulan lagi baru pulang!" Yudho berkata sambil berbalik masuk ke rumah. Penyakit pikunnya makin parah. Tania berdiri di ambang pintu menatap punggungnya, matanya terasa perih. Guncangan yang dirasakan Aldo bahkan lebih besar. Dia berdiri terpaku, ekspresinya kaku. Setelah lama, barulah dia berkata, "Hal-hal seperti ini nggak pernah kamu ceritakan padaku." Nadanya melayang, entah dia menyalahkan Tania karena tidak memberi tahu, atau justru hendak menjadikannya alasan untuk melepaskan tanggung jawab. Dia tidak tahu, jadi yang salah tentu bukan dirinya. Tania menggerakkan bibirnya sedikit, namun akhirnya tidak mengatakan apa pun. Mereka sudah bercerai. Dia tidak perlu memberi tahu Aldo berapa kali dia pernah putus asa dan tak berdaya namun tidak bisa menemukan pria itu. Juga tidak perlu memberi tahu Aldo bahwa dia pernah menunggu sambil menangis, berharap pria itu akan tiba-tiba muncul. Namun, Tania enggan bicara, sedangkan Aldo tidak ingin membiarkannya. Dia menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tangan Tania. "Kamu memang ... nggak pernah berniat memberitahuku, bukan?" Aldo bertanya. Tenaganya sangat kuat hingga Tania meringis kesakitan. "Pak Aldo, kamu menyakitiku." Aldo mengabaikannya, menatapnya dengan bersikeras. "Jawab pertanyaanku!" "Ya!" Tania menjawab tegas, menatap balik mata Aldo, seakan ingin menembus lubuk hatinya. "Sekalipun kukatakan, kondisi ayahku juga nggak akan membaik, bukan?" Tania balas menatap dengan sorot mata yang tajam. Aldo menatap Tania dengan erat. Sepasang matanya yang hitam berkilau bagaikan lubang hitam tanpa tepi. Setelah lama, akhirnya dia melepaskan tangan Tania. "Kamu selalu merasa paling benar!" Kata-kata bernada sinis itu menusuk, membuat jantung dan paru-paru Tania ikut terasa sakit. Merasa paling benar! Jadi, di mata pria itu, dia orang seperti itu! Kalau dipikirkan lagi, sepertinya memang benar. Dulu dia merasa paling benar bahwa dia dan Aldo bisa menua bersama. Kemudian dia juga merasa paling benar bahwa dia bisa mengelola pernikahan ini dengan baik. Semuanya ... tak lebih dari perasaan benarnya sendiri. Tania tidak ingin berdebat sia-sia dengannya, lalu berbalik masuk ke rumah. Mungkin karena melihat kondisi ayah Tania yang sudah sangat pikun, Nenek merasa sangat bersalah. Tak menemukan alasan untuk tetap tinggal, dia pun menurut dan pulang bersama Aldo. Tania menatap dengan tenang. Tiba-tiba sebuah tangan besar menepuk kepalanya. "Sudah, jangan menangis." "Ayah?" Tania berseru kaget. Ayahnya tetap dengan ekspresi polos kebingungan, sambil bergumam membantah, "Jangan sembarangan memanggil. Aku hanya punya satu anak perempuan, Tania." Matanya terasa panas. Tania memeluknya erat. Ayah, aku Tania! Aku putrimu!

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.