Webfic
Buka aplikasi Webfix untuk membaca lebih banyak konten yang luar biasa

Bab 6 Kamu Membuatku Putus Asa

Dua hari tinggal di rumah, Tania sudah diusir ibunya untuk kembali bekerja. Meski ayahnya sudah pikun, meski dia dan Aldo telah bercerai, hidup tetap harus berjalan. Selama ini, dia dan Aldo selalu bersikap sangat rendah hati di perusahaan. Tidak banyak orang yang tahu bahwa dia dan Aldo adalah suami istri, apalagi yang tahu mereka sudah bercerai. Tania tanpa sadar merasa bersyukur, setidaknya ini menghemat banyak masalah. Baru saja duduk di kursi kantor, sekretaris mengetuk pintu lalu masuk. "Bu Tania, ada Nona Lea di bawah, ingin bertemu dengan Anda." Nona Lea? Tania refleks mengangkat wajahnya, lalu segera menggelengkan kepala dengan getir. Perempuan yang baru hamil itu seharusnya diperlakukan Aldo bak harta berharga. Mana mungkin dia datang menemui Tania? "Minta saja dia menunggu sebentar di ruang istirahat." Dua hari ini banyak urusan menumpuk. Tania menyelesaikan beberapa hal yang paling mendesak terlebih dahulu, barulah menuju ruang istirahat. Saat pintu didorong terbuka, langsung terlihat pemandangan Lea yang duduk di sofa sambil mengelus perut bagian bawahnya dengan wajah penuh kasih. Ruang istirahat didesain dengan jendela kaca besar. Di luar, matahari bersinar, cahaya keemasannya menyelimuti tubuh Lea, membuatnya tampak begitu cantik. Gadis delapan belas tahun, bahkan tanpa riasan pun tetap segar dan memikat. Di antara mereka, tidak ada apa pun yang perlu dibicarakan! Memikirkan itu, Tania berbalik langkah hendak pergi, namun terdengar suara gadis yang lincah. "Nona ... Nona Tania." Suaranya yang bercampur takut dan gelisah, berhasil membuat Tania menghentikan langkah. Dia menoleh, berhadapan dengan wajah yang panik dan penuh rasa bersalah. "Aku ... awalnya aku nggak tahu kalau Aldo ... sudah menikah." Lea menunduk, berbicara terputus-putus. Tangan kecilnya meremas ujung rok, memperlihatkan kegugupannya. "Terus?" tanya Tania, suaranya dingin dan penuh penekanan. "Terus, sekarang sudah tahu?" Lea ketakutan dan melangkah mundur. Adegan ini justru membuat Tania tampak seperti perempuan jahat yang merusak rumah tangga orang lain lalu datang menyombongkan diri. "Aku ... aku nggak sengaja." Sambil berbicara, air matanya yang sebesar kacang polong mengalir deras. Dia membelalakkan mata dengan kebingungan, terlihat sangat polos. "Dia nggak pernah bilang padaku bahwa dia sudah menikah. Aku kira dia hanya pria dewasa yang sangat menarik. Aku ... aku sangat menyukainya!" Sambil berbicara, dia menutup mulut dan terisak, makin mirip seperti perempuan yang ditinggalkan suaminya. Tania menatapnya dengan dingin, tanpa berniat menganalisis apakah kata-kata Lea benar atau tidak. Surat cerai itu nyata, perut Lea nyata, dan perselingkuhan Aldo juga nyata. Tania hanya perlu mengingat hal-hal itu. Cukup. Setelah memantapkan pikiran, Tania menarik selembar tisu dan menyodorkannya pada Lea. "Hapus air matamu." Tak disangka Tania akan melakukan itu. Lea tertegun menerima tisu tersebut. Beberapa saat kemudian, dia justru menangis makin keras. "Tania ... Kak Tania! Maafkan aku. Aku nggak sengaja merusak pernikahanmu sampai kamu bercerai. Jangan salahkan Aldo, aku yang menggoda dia. Aku tahu kalian selama ini nggak punya anak, aku cuma ingin ... " Suara nyaring pecahan porselen memotong ucapan Lea. Saat menoleh, pandangan terkejut sekretaris dan beberapa direktur tertuju pada Tania. "Keluar! Rapat ditunda sampai besok!" Tania memberi perintah dengan suara rendah. Sekretaris segera keluar dari ruang istirahat dan menutup pintu. Ruang istirahat kembali sunyi, hanya tersisa suara isakan Lea. "Berhentilah menangis. Orang yang nggak tahu bisa mengira aku menindasmu." Tania mengusap pelipisnya dan duduk di sofa. Sebagian besar direksi perusahaan adalah senior Aldo. Mungkin dia juga akan segera datang. Memikirkan itu, Tania merasa makin lelah. Mengapa setelah bercerai, frekuensi pertemuannya dengan Aldo justru lebih sering daripada sebelumnya? "Aku ... aku bukan perempuan jahat!" Lea membuka mulut. Pipinya memerah, gigi putihnya menggigit bibir, mata indahnya berair, seolah menahan suatu penghinaan. Tania menatapnya dengan tenang, pikirannya sedikit melayang. Dia tidak tahu apa sebenarnya tujuan Lea datang hari ini, juga tidak tahu kapan Aldo akan datang menjemputnya. Mungkin karena sikap dingin Tania yang memicu Lea, tiba-tiba dia berdiri dan membungkuk dalam-dalam ke arah Tania. "Nona Tania, aku ... aku datang hari ini untuk memohon agar kamu memaafkanku." "Memaafkanmu untuk apa?" Tania bertanya datar. Tatapannya jernih sedingin air, begitu bening hingga membuat orang tak punya tempat bersembunyi. Apa yang harus dia maafkan? Memaafkan gadis itu karena merusak pernikahannya, atau memaafkannya karena merebut Aldo? Apa pun alasan Lea, Tania tidak merasa kedua hal itu layak dimaafkan. "Aku ... " Lea membuka mulut, namun baru mengucap satu kata sudah terdiam lagi. Matanya menatap Tania dengan kosong, pipinya kembali memerah, kelihatannya benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Setelah duduk menunggu sebentar lagi, kesabaran Tania habis. Dia berdiri hendak pergi ketika Lea tiba-tiba berkata, "Dia nggak mencintaimu!" Hati yang semula tenang seketika tertusuk perih. Tania menatap Lea dengan kaku. "Apa kamu bilang?" Suaranya makin dingin. Semburat merah di wajah Lea memudar, bahkan bibir merah mudanya ikut pucat. Dengan panik dia menghindari tatapan Tania, lalu bergumam menjelaskan, "Aku ... maksudku bukan begitu ... " "Lalu maksudmu apa!?" Tania meninggikan suaranya. Lea ketakutan hingga terjatuh duduk ke lantai. Detik berikutnya, pintu ruang istirahat didorong terbuka dan Aldo menerobos masuk. Sungguh adegan yang klise. Aldo ... pasti akan mengira bahwa dialah yang menindas Lea. Tanpa sadar, Tania melindungi perut bagian bawahnya.

© Webfic, hak cipta dilindungi Undang-undang

DIANZHONG TECHNOLOGY SINGAPORE PTE. LTD.